JAUH sebelum sosialisme modern muncul di Abad Pencerahan (abad ke-17 dan akhir abad ke-18 usai Revolusi Prancis) atau sebelum adanya karya Karl Marx dan Friedriech Engels, Manifest der Communistischen Partei (1848), sebuah negeri di Jazirah Arab sudah mempraktikkan gagasan-gagasan sosialisme yang cenderung proto-komunisme di abad ke-10. Dinasti Qarmitah nama negeri itu (kini Bahrain).
Eksistensi Dinasti Qarmitah (899-977) berawal dari gejolak-gejolak yang bermunculan di Kekhalifahan Abbasiyah (750-1517) pada abad ke-9. Tesis Fadi A. Fahes dari California State University, “Social Utopia in Tenth Century Islam: The Qarmatian Experiment” mengungkapkan, gejolak-gejolak itu muncul karena hadirnya beragam kekuatan-kekuatan ideologis, politis, etnis, filosofis, hingga relijius di abad sebelumnya.
“Pada abad kesembilan terjadi tiga pemberontakan besar. Pemberontakan Babakian (816-838) yang merupakan perjuangan nasionalistik-utopia terjadi hampir dua dekade di barat laut Iran. Kedua, Pemberontakan Zanj (869-883) di Irak. Ketiga dan yang paling sukses adalah Revolusi Qaramitah pada 899,” tulis Fahes.
Kaum Qaramitah berasal dari gerakan militan Islam Syiah dan salah satu sekte dari mazhab Ismailiyah. Farhad Daftary dalam The Ismailis: Their History and Doctrines menguraikan, nama kaumnya mengambil dari salah satu pendiri mazhabnya, Hamdan Qarmat. Sejak 874 Masehi Qarmat bersama iparnya, Abdan, tak hanya berdakwah namun juga menyiapkan barisan militan di Irak Selatan dengan alasan menyambut Imam Mahdi.
Dari Irak Selatan, kaum Qaramitah perlahan tapi pasti menguat sampai pesisi timur Jazirah Arab. Mereka membangun komunitasnya secara rahasia dan mendapat sambutan masyarakat karena banyak ajarannya mendobrak hal-hal tabu dalam keagamaan dan kehidupan sosial.
Pada medio 899 di Salamiyah, kaum bermazhab Ismailiyah memilih Abdullah al-Mahdi sebagai imam tertingginya. Sepuluh tahun kemudian, Abdullah al-Mahdi mendirikan Kekhalifahan Fatimiyah yang jadi rival baru Kekhalifahan Abbasiyah.
Hampir semua sekte di mazhab itu mendukung Abdullah al-Mahdi, kecuali kaum Qaramitah. Maka kaum Qaramitah pun memicu pemberontakan di barat laut Irak hingga Teluk Persia.
“Pada 900 Masehi, kaum Qaramitah mengalahkan pasukan Abbasiyah di Basra dan secara efektif menguasai Basra, Bahrain, dan banyak kota di antara Mesopotamia dan Arabia, sekaligus memotong rute-rute para jamaah haji yang hendak ke Makkah juga jalur laut Baghdad,” sambung Fahes.
Pasukan Qaramitah berhasil mencapai Suriah pada 903. Mereka lalu merebut Damaskus walau tak lama kemudian dipukul mundur pasukan Abbasiyah ke Bahrain.
Sosialis Pro-Perbudakan, Menjarah Makkah-Madinah
Kaum Qaramitah dengan revolusinya berhasil mendirikan dinasti yang berpusat di Al-Ahsa, wilayah oasis di pesisir timur Teluk Persia. Dinastinya mengusung konsep pemerintahan teokrasi dengan pemimpin pertamanya Abu Said al-Jannabi.
Dengan mendirikan negara sendiri, lanjut Fahes, kaum Qaramitah berusaha mendirikan sebuah sistem keadilan sosial. Mereka menetapkan eksperimen-eksperimen kepemilikan harta benda bersama dan menghimpun sumber daya individu. Mereka mempromosikan kemasyarakatan utopia dengan menciptakan gagasan soal persamaan gender, ras, etnis, dan kelas-kelas masyarakat.
“Qaramitah menghapuskan harta benda individu, bertujuan untuk menyatukan kelas-kelas pekerja berusaha menetapkan sosialisme yang absolut. Mereka mengakhiri feodalisme, menyediakan insentif-insentif finansial kepada para petani agar mereka terus mengeksploitasi lahan serta mendorong industri. Qaramitah juga mengambil-alih kendali perdagangan asing dan mencita-citakan kemandirian,” tambahnhya.
Baik perempuan maupun laki-laki diimbau secara sukarela menyerahkan khums (pajak sukarela) 20 persen dari apa yang mereka hasilkan dari pertanian maupun perdagangan. Hasil dana tersebut akan dihimpun dalam al-ilfa –semacam kas bersama– yang bisa didistribusikan kembali kepada masyarakat yang membutuhkan. Namun di antara gagasan-gagasan egaliter itu, masyarakatnya tetap mempertahankan perbudakan.
“Lahan-lahan yang digarap begitu menghasilkan kekayaan namun dengan ekonomi yang berbasis pada perbudakan. Negeri Qaramitah punya kawasan-kawasan penghasil buah-buahan dan gandum, baik di beberapa pulau, Qatif, dan Hasa. (Penyair dan filsuf) Nasir Khusraw yang mengunjungi Hasa pada 1051, mencatat bahwa kawasan-kawasan pertanian itu dikerjakan oleh sekitar 30 ribu budak Ethiopia,” ungkap Saul Silas Fathi dalam Gods and Religions.
Dalam hal keagamaan, Qaramitah termasuk kaum ekstremis dan fanatik di antara sekte-sekte Mazhab Ismailiyah atau kalangan Islam Syiah yang lain. Bagi mereka, ibadah haji adalah bid’ah. Ini jadi teror baru bagi kalangan Sunni yang hendak beribadah haji dan mengunjungi dua kota suci: Makkah-Madinah.
“Sejak 905, kaum Qaramitah mengambil pendekatan baru dalam mengusung revolusi Ismailiyah. Mereka tidak lagi mencari atau menaklukkan lahan-lahan dan mendirikan pemerintahan baru namun mereka memilih meneror Abbasiyah dari basis mereka di Bahrain untuk mencapai tujuan-tujuan politis mereka,” tulis Firas Alkhteeb dalam Lost Islamic History: Reclaiming Muslim Civilization from the Past.
Dalam Islamic Thought: From Mohammed to September 11, 2001, cendekiawan Irak Imadaldin al-Jubouri menguraikan, pemimpin kedua Qaramitah, Abu Tahir al-Jannabi atau Al-Jannabi II, sampai memimpin sendiri sebuah serangan besar terhadap para jamaah haji musim 317 Hijriah (930 Masehi). Pasukannya mencegat dan membantai sekitar 30 ribu jamaah haji dan kemudian menjarah Madinah dan Makkah sekaligus merusak pintu Ka’bah.
“Mereka menodai kesucian (sumur air) Zamzam dengan mayat-mayat setelah mereka menghancurkan kubahnya. Sebelum pergi, mereka mencuri batu Hajar Aswad dan membawanya ke Hajr,” ungkap Al-Jubouri.
Selama 22 tahun kaum Qaramitah menyimpan Hajar Aswad. Mereka menolak tawaran tebusan dari Abbasiyah. Baru di akhir masa kekuasaan Al-Mansur Billah dari Kekhalifahan Fatimiyah, pada 952, Qaramitah bersedia menerima tebusan untuk mengembalikan Hajar Aswad.
“Pada (musim haji) 323 Hijriah/935 Masehi, Al-Janabi II kembali menunggu para jamaah haji di Qadisiyah. Ia mengalahkan pasukan khalifah (Abbasiyah) dan para jamaah kabur meminta pertolongan kepada (kaum) Syiah Alawiyah di Qadisiyah. Al-Janabi II bersedia tak menyakiti mereka dengan satu syarat: mereka harus kembali ke Baghdad. Alhasil tidak ada ibadah haji di tahun itu,” imbuhnya.
Teror Qaramitah kian meresahkan Abbasiyah yang Sunni maupun Fatimiyah yang Syiah. Abbasiyah mulai mendapatkan “angin” untuk menang dalam berbagai pertempuran pada 976. Sedikit demi sedikit wilayah Qaramitah juga digerogoti bani-bani lain di Jazirah Arab.
“Kaum Qaramitah terus kehilangan wilayah sampai sekadar dimensi pemerintahan lokal. Bahrain memisahkan diri pada 1058 di bawah kepemimpinan Abu al-Bahlul al-Awwam yang menghadirkan kembali Islam ortodoks di pulau-pulau itu. Qaramitah sampai hanya punya benteng terakhirnya di Oasis Hofuf. Dinasti mereka akhirnya mendapat pukulan telak terakhir pada 1067 dari pasukan Emir Abdullah bin Ali al-Uyuni yang dibantu pasukan Seljuk, di mana mereka mengepung Hofuf sampai tujuh tahun dan memaksa Qaramitah menyerah,” tandas Curtis E. Larsen dalam Life and Land Use on the Bahrain Islands: They Geoarchaeology of an Ancient Society.



















Komentar