DARI halaman sampulnya saja, buku karya Herald van der Linde tentang sejarah Kerajaan Sriwijaya telah memunculkan pertanyaan. Dalam bukunya, Srivijaya: Power, Trade and Faith in Indonesia’s First Maritime Empire, Herald memuat gambar Candi Borobudur sebagai kover utama.
Letak geografis Sriwijaya terbentang jauh dengan Candi Borobudur. Kerajaan Sriwijaya berada di Sumatra kawasan selatan. Sementara itu, Candi Borobudur berdiri megah di Magelang, Jawa Tengah.
“Setiap kapal yang lewat Selat Malaka menambah kekayaan Sriwijaya, mendanai candi-candi megah, memelihara pusat pembelajaran Buddha dan melahirkan Borobudur, monumen Buddha terbesar yang pernah dibangun,” kata Herald dalam diskusi bukunya di Indonesian Heritage Society Library, Jakarta, 2 Oktober 2026.
Sejarah Sriwijaya merentang dari tahun 670 Masehi hingga 1025 Masehi. Ia menjadi kerajaan maritim pertama di Nusantara yang menorehkan sejarah gemilang. Awal mula kekuasaan Sriwijaya dimulai oleh Dapunta Hyang, yang menaklukkan kerajaan Melayu Muaro Jambi pada 683 M, dan membangun pemerintahan yang menakjubkan. Kata “Sriwijaya” sendiri berarti kejayaan yang cemerlang.
Herald menyebut bahwa Sriwijaya bukan sekadar kerajaan lokal di Sumatra, melainkan kekuatan global pada masanya. Dia juga menyoroti temuan penting dalam prasasti Kedukan Bukit, yakni penggunaan angka nol pertama di Nusantara. Prasasti itu menuliskan tahun 604 Saka dengan tanda titik yang kemudian berkembang menjadi lingkaran (0).
“Ide angka 0 datang dari India, tapi pertama kali kita menuliskannya di sini,” ungkap Herald.

Herald menambahkan, pusat kekuataan Sriwijaya tak hanya di daratan Sumatra, yang kini dikenal sebagai Palembang. Pada awal abad ke-8, Sriwijaya telah mengembangkan jaringan pusat politik, perdagangan, dan spiritual di Kedah, Semenjung Malaya, dan Muara Jambi.
Kedah, yang saat itu posisinya lebih menjorok ke laut dan terlindungi, menjadi pelabuhan aman bagi kapal-kapal dari India. Sementara Muara Jambi yang memiliki kompleks candi luas menjadi pusat spiritual. Temuan arca-arca Buddha tertua di Asia Tenggara justru berada di wilayah utara Kedah, yang menunjukkan aktivitas keagamaan yang sangat tua.
Mengenai Candi Borobudur, Herald menegaskan, Borobudur adalah puncak proyek teknologi dan keagamaan Sriwijaya. Setelah menguasai Jawa yang berpenduduk padat, wangsa Sailendra yang berafiliasi dengan Sriwijaya membangun Candi Tara dan kemudian Borobudur sebagai bentuk pemujaan Buddha Mahayana. Saat itu masuk gelombang baru biksu-biksu esoterik dari Sri Lanka dan India, termasuk tokoh sakti seperti Vajrabodhi dan Amoghavajra, yang membawa konsep tantra, mantra, mandala, dan bodhisattva.
“Jika Anda ingin membangun dan menghormati Buddha, apa yang Anda lakukan? Anda membangun Buddha besar. Itulah yang mereka lakukan di Jawa,” terang Herald. Borobudur, menurutnya, adalah Buddha besar versi Sriwijaya.
Menurut Herald, keruntuhan Sriwijaya bermula dari persaingan dagang dengan Tiongkok dan India Selatan. Pada satu titik, Tiongkok membuka diri dan mengundang kapal-kapal dari Jawa, Sumatra, Kedah, dan India untuk berdagang langsung.
Namun, ketika kapal India dari Kerajaan Chola datang ke Tiongkok, pejabat Tiongkok merendahkan Chola dengan menyebutnya sebagai vasal dari Sriwijaya. Utusan Chola pulang dan melapor, membuat Raja Rajendra Chola marah besar. Bersama organisasi pedagang Tamil, Chola menyiapkan serangan balas dendam.
Serangan itu terjadi pada 1025 M (disebut juga 1075 dalam transkrip). Seluruh pusat Sriwijaya dan Kedah dibakar. Akibatnya, biksu besar Atisa yang belajar di Muara Jambi tentang Dewi Tara Hijau, harus lari ke utara ke Bhutan dan Tibet, membawa ajaran Tara yang hingga kini masih dipuja di Himalaya.
Kerajaan Chola, seperti diterangkan Herald, sejatinya tak berminat menguasai pantai Sumatra. “Mereka hanya ingin memastikan orang-orang ini (Sriwijaya) mendengar dan mungkin memasukkan orang Tamil untuk memastikan hubungan ini akan berlanjut,” ujarnya. Bukti pengaruh Tamil masih terlihat pada bahasa Batak yang sangat terinfluensi Tamil hingga saat ini, serta banyaknya prasasti Tamil di Sumatra.
Meski bukan berlatar belakang sejarawan, Herald memadukan inkripsi prasasti, kondisi geografis, serta masukan arkeolog, sejarawan, dan masyarakat lokal sebagai fondasi narasi. Riset bertahun-tahun itu dikemasnya dengan gaya bertutur yang mengalir bak membaca novel.
Selain Srivijaya, ketertarikan Herald terhadap sejarah Nusantara telah melahirkan sejumlah karya, antara lain Jakarta: Biography of a City (2020) dan Majapahit: Intrigue, Betrayal, and War in Indonesia's Greates Empire (2024).*



















Komentar