top of page

Jembatan Keledai Tan Malaka

Sebagai pelarian Tan Malaka harus meninggalkan buku-bukunya dan mengandalkan ingatannya.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Tan Malaka dan Sukarni.

23 Mar 2010
2 menit membaca

Diperbarui: 15 Mar

TOKOH pergerakan Tan Malaka menggunakan “jembatan keledai” untuk menulis buku magnum opus-nya: Madilog. Madilog berasal dari jembatan keledai: yakni MAterialisme, DIalektika, dan LOGika.


Tan Malaka sebenarnya ingin seperti Leon Trotsky dan Mohammad Hatta. Keduanya bisa mengangkut berpeti-peti buku ke tempat pembuangan. “Saya menyesal karena tak bisa berbuat begitu dan selalu gagal kalau mencoba berbuat begitu,” tulis Tan Malaka dalam Madilog.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page