top of page

Kemaritiman Era Sukarno

Pengembangan bidang maritim telah disadari sejak era Presiden Sukarno dan terus dikembangkan hingga saat ini.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Presiden Sukarno bersama perwira-perwira ALRI di Istana, Jakarta, 26 Mei 1952. (ANRI).

1 Des 2023
5 menit membaca

Diperbarui: 6 Jun

PRESIDEN Sukarno bertekad menjadikan Indonesia berjaya sebagai negara maritim. Hal itu disampaikannya dalam beberapa kesempatan. Salah satunya dalam amanatnya dengan judul “Kembalilah Menjadi Bangsa Samudera” pada resepsi pembukaan Munas Maritim ke-I di Jakarta pada 23 September 1963.


“Kita sekarang satu persatu, seorang demi seorang harus jakin bahwa Indonesia tidak bisa mendjadi negara jang kuat, sentausa, sedjahtera, djikalau kita tidak menguasai pula samudera, djikalau kita tidak kembali mendjadi satu bangsa samudera, djikalau kita tidak kembali mendjadi satu bangsa bahari, bangsa pelaut sebagai kita kenal dizaman bahari itu,” ujar Presiden Sukarno.


Setahun kemudian Presiden Sukarno mengeluarkan Keputusan Presiden No. 249 tahun 1964 yang menetapkan tanggal 23 September sebagai Hari Maritim Nasional.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page