top of page

Ketika Pedagang Ikut Berjuang

Tanpa perempuan-perempuan di pasar ini, laju perjuangan amat mungkin terhenti.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Para perempuan membungkuk di atas sekarung beras, Yogyakarta pada Desember 1948. Sumber: Wikimedia.org.

  • 21 Apr 2018
  • 2 menit membaca

KETIKA matahari masih pulas dalam tidurnya, para perempuan-pedagang asal Kulon Progo, Bantul, dan Gunung Kidul setiap hari sudah berangkat ke Pasar Beringharjo di Kota Yogyakarta sambil menggendong bakul berisi dagangan di punggung. Aktivitas itu merupakan rutinitas mereka.


Namun, di masa perang itu, mereka tak hanya berdagang. Mereka menjadi pembawa pesan rahasia dari para gerilyawan di luar kota, pemasok logistik, sekaligus kurir. Peran mereka amat krusial. “Itu poin penting. Perempuan menjadi bagian dari usaha kemerdekaan,” kata sejarawan Ita Fatia Nadia kepada Historia.


Para perempuan-pedagang itu menjadi komunikator antara gerakan bawah tanah di kota dengan para gerilyawan di daerah Godean, Imogiri, dan berpusat di Wiyoro. Ketika berangkat, mereka membawa pesan untuk para pemikir strategi di Kota Baru, Yogyakarta. Sewaktu pulang, mereka menyampaikan pesan balasan untuk para gerilyawan di pinggiran kota.


Pertukaran informasi perjuangan yang dibawa para pedagang berlangsung di Pasar Beringharjo untuk menghindari kecurigaan Jepang. Menurut dosen sejarah UGM Dr. Mutiah Amini, Pasar Beringharjo menjadi ajang revolusi untuk para perempuan. “Para pedagang mentransfer kebutuhan para pejuang lewat pasar. Orang tidak mengira, dikiranya dia mau ke pasar, berjualan. Padahal untuk kebutuhan revolusi,” kata Mutiah.


Sambil membawa dagangan, mereka membawa barang-barang kebutuhan untuk revolusi seperti pakaian, gula, teh, uang, atau pakaian. Barang dagangan dan kebutuhan revolusi ditumpuk jadi satu untuk mengelabui tentara Jepang.


Umi Sardjono, Ketua Umum Gerwani, ikut menyamar jadi pedagang sayur ketika gerilya melawan Jepang mulai marak. Sebagai mata-mata, tugas utamanya mengumpulkan informasi. “Perempuan lebih luwes karena bisa menyamar sebagai ibu rumahtangga sehingga tidak dicurigai tentara Jepang,” tulis Ruth Indiah Rahayu dalam “Menulis Sejarah Sebagaimana Perempuan”, dimuat di Sejarah dan Budaya, Th X, No. 1, Juni 2016.


Peran itu terus berlanjut sampai masa Perang Kemerdekaan ketika Jepang sudah hengkang. Menurut Galuh Ambar Sasi dalam artikel “Menjadi (Manusia) Indonesia: Pergulatan, Jejaring, dan Relasi Perempuan di Yogyakarta Masa Revolusi”, dimuat di Pluralisme dan Identitas, banyak perempuan jadi mata-mata dengan menyamar sebagai pedagang buah atau sayur, salahsatunya Alfiah Muhadi.


Menurut Suhatno dalam “Sumbangan Wanita Yogyakarta pada Masa Revolusi” yang dimuat Jantra Vol. 1 No. 2, Desember 2006, keahlian menyamar dan menyiapkan logistik para perempuan itu diperoleh ketika mengikuti pelatihan Fujinkai. “Di masa Jepang, semua wanita diharuskan mengikuti latihan-latihan untuk menghadapi segala kemungkinan dalam membantu Jepang di Perang Asia Timur Raya.”


Banyak di antara mereka kemudian bahkan membuka warung. Banyaknya warung sempat mebuat Belanda khawatir. Belanda menganggap warung hanyalah kamuflase mata-mata orang republik. Ketakutan Belanda itu ditunjukan antara lain lewat selebaran peringatan untuk tidak makan di warung pribumi.


Peran berisiko tinggi itu jelas tak semua berhasil. Ada beberapa perempuan-mata-mata yang ketahuan dan dihukum. Salah satunya menimpa seorang kurir yang menyamar jadi pedagang telur saat membawa pesan rahasia di Wirogunan, dekat Taman siswa. “Pedagang telur itu tertangkap dan ditembak mati oleh Jepang. Perannya penting. Gerakan bawah tanah tidak bisa bekerja melawan Jepang tanpa perempuan,” kata Ita.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Ahmad Subardjo melanjutkan pendidikan ke Belanda. Dia berjejaring dengan orang-orang dari berbagai negara dalam gerakan melawan imperialisme dan kolonialisme.
bg-gray.jpg
Taklik talak dalam buku nikah pada mulanya tak digubris. Sempat dituduh hendak mengubah hukum Islam.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah menjadi menteri perempuan pertama dalam sejarah Indonesia. Mengurus diplomasi, buruh, sampai bedak dan gincu.
bg-gray.jpg
Rasa kebangsaan Ahmad Subardjo tergugah oleh tulisan Soewardi Soerjaningrat dan pidato Tjokroaminoto. Dia juga sempat menggeluti teosofi.
Karya tari biasanya menandai satu pemerintahan sultan di Yogyakarta. Bagaimana proses penciptaannya?
Karya tari biasanya menandai satu pemerintahan sultan di Yogyakarta. Bagaimana proses penciptaannya?
Sejak balita, Calon Wapres Amerika Kamala Harris sudah dibawa berdemo oleh orangtuanya. Tumbuh jadi aktivis pembela LGBT.
Sejak balita, Calon Wapres Amerika Kamala Harris sudah dibawa berdemo oleh orangtuanya. Tumbuh jadi aktivis pembela LGBT.
PLTN dianggap paling reliable jadi alternatif PLTU. Tapi senantiasa sekadar wacana sejak era Bung Karno.
PLTN dianggap paling reliable jadi alternatif PLTU. Tapi senantiasa sekadar wacana sejak era Bung Karno.
Kisah seorang mantan pasien rumah sakit jiwa di Amerika Serikat memicu gerakan meningkatkan kesadaran akan kesehatan mental.
Kisah seorang mantan pasien rumah sakit jiwa di Amerika Serikat memicu gerakan meningkatkan kesadaran akan kesehatan mental.
Mampukah Jokowi dan Ahok menuntaskan masalah Jakarta yang diwariskan dari zaman ke zaman?
Mampukah Jokowi dan Ahok menuntaskan masalah Jakarta yang diwariskan dari zaman ke zaman?
Polisi berkunjung ke sekolah untuk mengimbau pelajar agar tidak tawuran. Yang dapat mengakhiri tawuran pelajar itu sendiri.
Polisi berkunjung ke sekolah untuk mengimbau pelajar agar tidak tawuran. Yang dapat mengakhiri tawuran pelajar itu sendiri.
transparant.png
bottom of page