top of page

Kisah Jenderal Soedirman dan 80 Perompak

Kedatangan Jenderal Soedirman beserta pengawalnya ke Jakarta membuat Panglima KNIL Jenderal Spoor marah besar.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Para kadet MA yang mengawal Jenderal Soedirman di Hotel Shutteraff, Jakarta. (Dok. Moehkardi).

14 Jan 2020
3 menit membaca

Diperbarui: 5 Mei

JUMAT, 1 November 1946. Udara pagi Jakarta mulai menghangat, saat serangkaian kereta api istimewa memasuki Stasiun Manggarai. Begitu berhenti, ribuan orang yang memenuhi ruang tunggu mulai ramai bersuara.


Suasana mulai histeris manakala dari salah satu gerbong muncul dua orang yang ditunggu:  Panglima Besar Tentara Republik Indonesia (TRI) Jenderal Soedirman dan Kepala Staf TRI, Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo.


“Pekik merdeka kembali berdengung di Jakarta, menyambut kedatangan Pak Dirman,” ujar mantan Menteri Pertambangan di era Orde Baru Soebroto, seperti dikutip sejarawan Moehkardi dalam Akademi Militer Yogya dalam Perjuangan Pisik 1945-1959.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
transparant.png
bottom of page