- 25 Jun 2021
- 2 menit membaca
DELAPAN bulan hampir berlalu sejak Insiden Madiun meletus pada 18 September 1948. Namun perseteruan antara orang-orang komunis dengan orang-orang islam masih berlangsung secara keras di Jawa Timur. Kendati pemerintah Republik Indonesia (RI) pimpinan Sukarno-Hatta memutuskan untuk membebaskan sebagian besar pengikut Front Demokrasi Rakyat/Partai Komunis Indonesia (FDR/PKI).
Menurut sejarawan Harry A. Poeze, banyak para pengikut FDR/PKI yang lolos dari operasi penumpasan tentara pemerintah meneruskan perjuangan mereka dengan bergerilya di hutan-hutan Jawa Timur. Selain menghadapi militer Belanda, kekuatan-kekuatan bersenjata itu juga tetap mempertahankan pertikaian mereka dengan militer Indonesia dan unsur-unsur anti komunis lainnya.
“Yang sudah (pasti) terjadi justru saling bentrok. Pasukan-pasukan FDR dan Pesindo (Pemuda Sosialis Indonesia) berhadapan dengan kesatuan-kesatuan Hizbullah (Masjumi),” ungkap Poeze dalam Madiun 1948: PKI Bergerak.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















