KETIKA Gunung Krakatau meletus hebat pada 27 Agustus 1883, laut datang menerjang dengan kekuatan yang sulit dibayangkan manusia. Jejak amukannya kini masih tertinggal di Rawa Gribig, Tanjung Lesung.
Jauh dari garis pantai, di tengah rawa dan hutan bakau, ratusan bongkah koral berserakan. Ukurannya pun luar biasa, dengan beberapa bongkah hampir mencapai lima meter. Di bawah lumpurnya tersimpan endapan pasir tsunami setebal hingga setengah meter dan batu apung dari letusan gunung. Ratusan bongkah koral itu menjadi semacam monumen alam bagi bencana besar yang telah berlalu lebih dari satu abad.
Tetapi semakin lama melihat Krakatau, semakin terasa bahwa 1883 bukanlah titik akhir. Krakatau bukan sekadar gunung yang meletus pada 27 Agustus 1883. Ia adalah sistem gunung api yang berulang kali mengubah lanskap Selat Sunda. Sebagian jejaknya tersimpan dalam naskah, sebagian dalam tanah dan dasar laut, sebagian lagi dalam ingatan manusia.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












