top of page

Setelah Kiamat Krakatau Mereda

Rekaman kesaksian dari berbagai orang tentang kehancuran akibat amukan Krakatau. Masih terawat ingatan masyarakat sampai hari ini.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Sisa-sisa alat berat crane yang hancur di dekat Merak, Banten, akibat letusan Gunung Krakatau pada 1883. (Wereldmuseum Amsterdam/Wikimedia Commons).

28 Agu 2017
3 menit membaca

Diperbarui: 20 Mei

BEBERAPA saat usai letusan pamungkas yang paling mengerikan dari amukan Gunung Krakatau 27 Agustus 1883, orang-orang yang lolos dari maut tersadar selamat dalam berbagai cara yang ajaib. Seorang lelaki yang pada saat kejadian sedang tertidur pulas di rumahnya baru bangun dan tersadar sudah berada di puncak sebuah bukit lengkap beserta ranjangnya. Sementara itu seorang lainnya, sebagaimana dikutip dari Simon Winchester dalam Krakatau: Ketika Dunia Meledak 27 Agustus 1883, mengaku selamat dari empasan gelombang tsunami dengan menunggangi seekor buaya.


Aneka cerita juga muncul di berbagai sumber para petugas Eropa: mulai penjaga menara mercusuar, residen, asisten residen, kontrolir dan para pelaut yang pada saat kejadian menjadi saksi mata dari peristiwa alam itu. Alexander Patrick Cameron, konsul Inggris di Batavia menuliskan laporannya untuk London tentang kerusakan yang ditimbulkan akibat letusan Krakatau.


“Kerusakan yang diakibatkan oleh gelombang-gelombang di pantai, baik terhadap nyawa manusia maupun properti, sekalipun dari laporan-laporan yang sudah diserahkan dinyatakan sangat luas, tidak bisa ditentukan dengan pasti, mengingat laut masih berombak tinggi dan hujan abu masih berlangsung, komunikasi telegraf dan jalan terputus atau terganggung,” tulis Cameron dalam laporan bertitimangsa 1 September 1883 itu.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
transparant.png
bottom of page