- 6 Mar 2023
- 6 menit membaca
Diperbarui: 11 Jul
MENGENAKAN kebaya bermotif bunga lengkap dengan kain dan sepatu hak, seorang nyonya indo bernama Kraspoekol menatap murka pada Tjampakka budak perempuannya. Seraya duduk di kursi kayunya, tangan kiri Kraspoekol menunjuk ke lantai seolah memerintahkan sang budak untuk berlutut.
Adegan itu merupakan pendeskripsian sebuah ilustrasi di naskah tonil tahun 1800 bertajuk Kraspoekol; of de Slaaverny. Een tafereel der zeden van Neerlands Indiën (Kraspoekol; atau Perbudakan. Sebuah drama moralitas berlatarbelakang Hindia Timur). Naskah itu merupakan karya Dirk van Hogendorp yang diadaptasi dari novel ayahnya, Willem van Hogendorp, yang terbit pada 1780, Kraspoekol, of de Droevige Gevolgen van Eene te Verre Gaande Strengheid, Jegens de Slaaven.
“Wahai pemilik, penyelamatku, Nyonyaku! Aku akan selalu mengabdi padamu selamanya, selamanya; melayanimu dan menjagamu dengan segenap jiwa dan raga. Engkau yang telah membebaskanku dari rasa malu,” ucap Tjampakka seraya meminta ampun pada Kraspoekol dalam suatu dialog tonil itu.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















