Diperbarui: 27 Agu
PADA 1893, Slamet Soekari lahir di Surakarta. Karena berasal dari keluarga miskin, Soekari tidak pernah mengenyam bangku sekolah. Sejak umur 12 tahun ia telah menjadi abdi dalem karawitan dan hidupnya bergantung pada keraton Surakarta.
Setelah menempa ilmu karawitan bertahun-tahun, sekitar tahun 1912, Slamet dianugerahi gelar pangkat jabatan menengah, Raden dan nama baru Pontjopangrawit. Pangrawit adalah jabatan bagi ‘nayaga terkemuka yang bersangkutan dengan karawitan’. Sedangkan nama Pontjo dipilihnya sendiri.
Pontjopangrawit kemudian bergabung dengan lembaga Pananta Dibya yang berdiri tahun 1914. Lembaga ini bertujuan untuk memperbaiki dan menyusun kembali praktik-praktik serta upacara seni pagelaran keraton. Selain itu, lembaga ini juga aktif dalam diskusi-diskusi politik. Hubungan Pontjopangrawit dengan politik kelak membawanya ke kamp Digul hingga pusaran tragedi 1965.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















