top of page

Menjelajahi Era Jepang di Nusantara dalam Pameran Sakura di Khatulistiwa

Memaknai kembali hubungan Jepang dan Indonesia lewat pameran Sakura di Khatulistiwa. Digelar pada 9 Agustus hingga 10 September 2022.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Puluhan anak Sekolah Dasar berkunjung ke pameran Sakura di Khatulistiwa. (Historia.ID/Fernando Randy).

24 Agu 2022
2 menit membaca

Diperbarui: 4 Jul

Sejak 9 Agustus 2022, Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Jakarta, menggelar pameran berjudul “Sakura di Khatulistiwa”. Bangunan museum ini, dulunya adalah tempat tinggal perwira militer Jepang, Laksamana Tadashi Maeda. Secara umum, pameran ini bercerita mengenai sejarah perjalanan interaksi masyarakat Nusantara dan Jepang.


Dalam konteks sejarah bangsa Indonesia, interaksi tersebut tercatat berlangsung intensif pada periode 1942 dan setelahnya. Namun, jika menelusuri lebih jauh ke belakang, interaksi itu ternyata sudah berlangsung sejak 1621. Kala itu, orang Jepang masuk ke Nusantara sebagai tantara bayaran serikat dagang Belanda, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), untuk mengatasi perlawanan rakyat Banda.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
transparant.png
bottom of page