top of page

Sejarah Indonesia

Menjelajahi Era Jepang Di Nusantara Dalam Pameran Sakura Di

Menjelajahi Era Jepang di Nusantara dalam Pameran Sakura di Khatulistiwa

Memaknai kembali hubungan Jepang dan Indonesia lewat pameran Sakura di Khatulistiwa. Digelar pada 9 Agustus hingga 10 September 2022.

24 Agustus 2022

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Puluhan anak Sekolah Dasar berkunjung ke pameran Sakura di Khatulistiwa. (Historia.ID/Fernando Randy).

Sejak 9 Agustus 2022, Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Jakarta, menggelar pameran berjudul “Sakura di Khatulistiwa”. Bangunan museum ini, dulunya adalah tempat tinggal perwira militer Jepang, Laksamana Tadashi Maeda. Secara umum, pameran ini bercerita mengenai sejarah perjalanan interaksi masyarakat Nusantara dan Jepang.


Dalam konteks sejarah bangsa Indonesia, interaksi tersebut tercatat berlangsung intensif pada periode 1942 dan setelahnya. Namun, jika menelusuri lebih jauh ke belakang, interaksi itu ternyata sudah berlangsung sejak 1621. Kala itu, orang Jepang masuk ke Nusantara sebagai tantara bayaran serikat dagang Belanda, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), untuk mengatasi perlawanan rakyat Banda.


Puluhan anak Sekolah Dasar saat melihat berbagai koleksi pameran Sakura di Khatulistiwa. (Historia.ID/Fernando Randy).
Puluhan anak Sekolah Dasar saat melihat berbagai koleksi pameran Sakura di Khatulistiwa. (Historia.ID/Fernando Randy).
Dua siswi saat melihat poster propaganda Jepang pada pameran Sakura di Khatulistiwa. (Historia.ID/Fernando Randy).
Dua siswi saat melihat poster propaganda Jepang pada pameran Sakura di Khatulistiwa. (Historia.ID/Fernando Randy).
Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid melihat salah satu buku koleksi yang dipamerkan. (Historia.ID/Fernando Randy).
Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid melihat salah satu buku koleksi yang dipamerkan. (Historia.ID/Fernando Randy).
Puluhan anak Sekolah Dasar melihat video Jepang pada pameran Sakura di Khatulistiwa. (Historia.ID/Fernando Randy).
Puluhan anak Sekolah Dasar melihat video Jepang pada pameran Sakura di Khatulistiwa. (Historia.ID/Fernando Randy).
Seorang pengunjung menyaksikan video yang ditayangkan dalam pameran Sakura di Khatulistiwa. (Historia.ID/Fernando Randy).
Seorang pengunjung menyaksikan video yang ditayangkan dalam pameran Sakura di Khatulistiwa. (Historia.ID/Fernando Randy).

Kisah interaksi awal antara masyarakat Nusantara dan Jepang tersebut menjadi bagian pembuka dari narasi pameran “Sakura di Khatulistiwa”. Lukisan ronin dan potret sejumlah perempuan Jepang ditampilkan sebagai pembuka “Sakura di Khatulistiwa”. Dari periode perkenalan itu, pengunjung akan masuk pada periode “Perang dan Dagang” yang berkisah soal kehidupan dan aktivitas masyarakat Jepang di Nusantara sebelum 1942. Salah satu kegiatan ekonomi orang Jepang di Nusantara kala itu adalah berdagang, yang direpresentasikan pada pameran dengan foto “Toko Jepang”. Selanjutnya, pengunjung masuk pada periode pendudukan Jepang hingga Proklamasi kemerdekaan Indonesia.



Menurut Kepala Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Harry Trisatya,  “Sakura di Khatulistiwa” diselenggarakan untuk mengenal lebih baik sejarah bangsa Indonesia, terutama berkaitan dengan hubungan Indonesia dan Jepang. “Dengan adanya pameran ini, kita bisa melihat bahwa akulturasi bangsa Indonesia dan bangsa Jepang sudah ada sejak masa lampau jadi bukan hanya sekadar 3,5 tahun saja. Interaksi itu juga memunculkan sebuah akulturasi kebudayaan,” ujar Harry.


Beberapa anak Sekolah Dasar melihat berbagai koleksi pameran Sakura di Khatulistiwa. (Historia.ID/Fernando Randy).
Beberapa anak Sekolah Dasar melihat berbagai koleksi pameran Sakura di Khatulistiwa. (Historia.ID/Fernando Randy).
Beberapa pengunjung menyaksikan film pada pameran Sakura Di Khatulistiwa. (Historia.ID/Fernando Randy).
Beberapa pengunjung menyaksikan film pada pameran Sakura Di Khatulistiwa. (Historia.ID/Fernando Randy).
Seorang siswi Sekolah Dasar melihat berbagai koleksi pameran Sakura di Khatulistiwa. (Historia.ID/Fernando Randy).
Seorang siswi Sekolah Dasar melihat berbagai koleksi pameran Sakura di Khatulistiwa. (Historia.ID/Fernando Randy).
Seorang pengunjung melihat berbagai koleksi pameran Sakura Di Khatulistiwa. (Historia.ID/Fernando Randy).
Seorang pengunjung melihat berbagai koleksi pameran Sakura Di Khatulistiwa. (Historia.ID/Fernando Randy).

Salah satu bagian menarik dari pameran ini adalah sebuah seragam tantara Indonesia, yang ternyata milik mantan tantara Jepang. Setelah Jepang kalah perang, sejumlah tentara mereka menyeberang dan mendukung Indonesia dalam perang kemerdekaan. Sebagian dari para mantan tentara Jepang itu mendapatkan bintang gerilya dan dimakamkan di taman makam pahlawan. 



“Saya berharap, generasi muda yang mengunjungi pameran ini bisa mendapatkan perspektif baru yang memunculkan transformasi ilmu dan pengetahuan baru. Selain itu, tentu saja, saya berharap hubungan Indonesia dan Jepang berkembang tidak hanya soal seni dan budaya, tetapi juga menjangkau aspek yang lebih global,” tutupnya.


Beberapa pengunjung baik dewasa dan anak-anak melihat berbagai koleksi pameran Sakura di Khatulistiwa. (Historia.ID/Fernando Randy).
Beberapa pengunjung baik dewasa dan anak-anak melihat berbagai koleksi pameran Sakura di Khatulistiwa. (Historia.ID/Fernando Randy).
Seorang pengunjung melihat galeri pertama pada pameran Sakura di Khatulistiwa. (Historia.ID/Fernando Randy).
Seorang pengunjung melihat galeri pertama pada pameran Sakura di Khatulistiwa. (Historia.ID/Fernando Randy).
Berbagai koleksi pada pameran Sakura di Khatulistiwa. (Historia.ID/Fernando Randy).
Berbagai koleksi pada pameran Sakura di Khatulistiwa. (Historia.ID/Fernando Randy).
Salah satu adegan dalam video yang ditayangkan dalam pameran Sakura di Khatulistiwa. (Historia.ID/Fernando Randy).
Salah satu adegan dalam video yang ditayangkan dalam pameran Sakura di Khatulistiwa. (Historia.ID/Fernando Randy).

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
Arsip Korupsi Sejak Zaman Kompeni

Arsip Korupsi Sejak Zaman Kompeni

Korupsi sejak masa VOC hingga kolonial Belanda terekam dalam arsip. Korupsi akan terus ada karena berkaitan dengan kekuasaan, kewenangan, dan keserakahan manusia.
Tuan Rondahaim Pahlawan Nasional dari Simalungun

Tuan Rondahaim Pahlawan Nasional dari Simalungun

Tuan Rondahaim dikenal dengan julukan Napoleon dari Batak. Menyalakan perlawanan terhadap penjajahan Belanda di tanah Simalungun.
Antara Raja Gowa dengan Portugis

Antara Raja Gowa dengan Portugis

Sebagai musuh Belanda, Gowa bersekutu dengan Portugis menghadapi Belanda.
Mengakui Tan Malaka Sebagai Bapak Republik Indonesia

Mengakui Tan Malaka Sebagai Bapak Republik Indonesia

Tan Malaka pertama kali menggagas konsep negara Indonesia dalam risalah Naar de Republik Indonesia. Sejarawan mengusulkan agar negara memformalkan gelar Bapak Republik Indonesia kepada Tan Malaka.
Dewi Sukarno Setelah G30S

Dewi Sukarno Setelah G30S

Dua pekan pasca-G30S, Dewi Sukarno sempat menjamu istri Jenderal Ahmad Yani. Istri Jepang Sukarno itu kagum pada keteguhan hati janda Pahlawan Revolusi itu.
bottom of page