top of page

Gamelan Rantang dari Pengasingan

Dalam kondisi kamp yang buruk, seorang seniman dari Solo membuat gamelan dari perkakas seadanya. Terkenal sebagai Gamelan Digul.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 19 Sep 2019
  • 3 menit membaca

Kamp Tanah Merah terletak di pedalaman hutan kawasan atas aliran Sungai Digul yang penuh buaya. Jaraknya kira-kira 160 km dari Merauke, empat malam jika naik sampan.


Pada Maret 1927, kapal dari Surabaya berlayar menuju tempat itu membawa rombongan besar pertama tahanan politik Belanda. Mereka yang dikirim ke kamp adalah orang-orang yang membangkang terhadap pemerintah kolonial Belanda.


Salah satu dari para tahanan rombongan pertama itu adalah Pontjopangrawit. Seorang seniman sekaligus pejuang kemerdekaan dari Surakarta. Di Tanah Merah, Pontjopangrawit membuat seperangkat gamelan yang di kemudian hari dikenal sebagai Gamelan Digul.


Kaleng-Kaleng Susu


Di Kamp Tanah Merah, para tahanan harus membangun rumah sendiri. Mereka menebang pohon untuk papan dan tiang dengan dua kilogram paku dan besi-besi yang sudah berkarat. Paku dan perkakas bangunan itulah yang dimanfaatkan Pontjopangrawit untuk membuat gamelan.


“Ia mula-mula membuat gamelannya dari kaleng tempat susu bubuk (yang tentunya didatangkan dari Ambon) sebagai pengganti bonang-bonangnya. Rebabnya terbuat dari kaleng sardine dan kulit binatang, karena ia tidak bisa menemukan isi perut atau kantung empedu kerbau, begitu juga tidak ada separoh tempurung kelapa yang bisa digunakan untuk membuat perut rebab,” tulis Margaret J. Kartomi dalam Gamelan Digul di Balik Sosok Seorang Pejuang.


Sementara itu, untuk membuat gong gedhé kemodhong, Pontjopangrawit dan kawan-kawannya menggunakan periuk tanah besar, yang biasa digunakan di dapur. Periuk itu ditaruh di dalam sebuah kotak kayu, dengan dua bilahan-nada berjendul dari besi. Gong dipasang bergantung pada rentangan tali di atasnya.


Kaleng-kaleng susu yang dipakai untuk dua bonangnya, pada akhir 1920 diganti dengan rantang besi yang sangat berat.


Menurut Makmud Amin, eks Digulis yang diwawancarai Kartomi, Pontjopangrawit berhasil mendapat rantang buatan Belanda yang bagus dan tidak lagi dipakai oleh penduduk Belanda di Hindia.


“Rantang tentu saja berbunyi lebih bagus dan lebih panjang daripada kaleng susu yang tidak ada harganya. Sampai hari ini pada umumnya bunyinya masih tetap murni dan stabil,” sebut Kartomi.


Gamelan Digul dicat warna hijau dan kuning. Namun analisis sayatan melintang pigmen menunjukan bahwa sebelumnya gamelan tersebut berwarna hijau muda.


Awalnya gamelan ini juga tidak diberi nama sepeti gamelan-gamelan lain. Nama “Gamelan Digul” disematkan untuk membedakannya dengan gamelan perunggu lain di Universitas Monash, lokasi gamelan itu saat ini.


Rantang besi digunakan untuk bonang barung. (Chrish Basile/Arsip Departemen Musik Universitas Monash).
Rantang besi digunakan untuk bonang barung. (Chrish Basile/Arsip Departemen Musik Universitas Monash).

Hari Buruh


Di kamp, Gamelan Digul sering digunakan untuk mengiringi pertunjukan kesenian Jawa seperti wayang orang dan ketoprak. Menurut Kartomi, Gamelan Digul menjadi sarana hiburan, kesibukan kesenian, dan kegembiraan di tengah kehidupan kaum buangan. Membuat mereka merasa agak longgar dari kerasnya kehidupan di kamp.


Mas Marco Kartodikromo, penulis yang juga diasingkan ke Digul hingga meninggal karena malaria, menyebut gamelan ini dalam bukunya berjudul Pergaulan Orang Buangan di Boven Digoel.


“Pada 1 Mei 1928 orang-orang itu mengadakan perayaan untuk memperingati Hari Buruh tanggal 1 Mei dan menyelenggarakan berbagai pertunjukan seperti gamelan, musik, barongan, liongan, sport padvinder (kepanduan) dst. Gamelan dibuat dari rantang seng oleh Pontjopangrawit, buangan dari Solo,” tulis Marco.


Pada Hari Buruh itu, kebetulan pukul delapam pagi kapal Segah datang membawa 98 buangan baru. Pertunjukan yang sedang diadakan kemudian sekaligus untuk menyambut orang-orang baru tersebut.


“Tapi gara-gara penyambutan yang luar biasa ramainya itu, orang-orang baru terpaksa dijemur di tanah lapang dari pukul 8 sampai pukul 12 siang, dan baru sesudah itu mereka disuruh datang ke Interneeringskamp. Banyak di antara mereka menderita pusing kepala karena terlalu panas, sedang anak-anak banyak yang menangis,” sebut Marco.


Malamnya, orang-orang menonton tonil, pandu, musik hingga wayang orang. Namun pertunjukan dibubarkan pasukan militer.


“Kurang lebih 400 orang lelaki dipaksa jongkok, berjajar lima-lima, lalu digiring ke tangsi, dimasukan gudang gabah. Semalam suntuk mereka tak dapat tidur. Paginya mereka diperintahkan mengangkut zink dari motorboot milik kapal Segah yang baru datang,” tulis Marco


Perayaan Hari Buruh itu mengakibatkan tiga orang dihukum lima hari yaitu Siswoditardjo, Brotosiswojo pendiri perkumpulan wayang orang, dan Pontjopangrawit, pembuat gamelan.


Kempul pada Gamelan Digul. (Annette Bowie/Arsip Departemen Musik Universitas Monash).
Kempul pada Gamelan Digul. (Annette Bowie/Arsip Departemen Musik Universitas Monash).

Dibawa ke Australia


Pada 1932, Pontjopangrawit menjadi salah satu tahanan yang dibebaskan dan dikirim pulang ke rumahnya di Surakarta. Sedangkan gamelan buatannya tetap berada di kamp dan dimainkan kawan-kawannya.


Gamelan Digul kemudian dibawa ke Australia pada masa pendudukan Jepang. Para eks Digulis memainkan gamelan ini dan alat musik Indonesia lainnya seminggu sekali di Hotel Metropole, Melbourne pada 1943 sampai 1945.


Hubungan Indonesia dan Australia kala itu juga sedang mencapai puncaknya. Gerakan kemerdekaan Indonesia didukung oleh para pelaut dan aktivis serikat buruh Australia.


“Dukungan Australia pada perjuangan Indonesia melawan kekuasaan kolonial telah mendekatkan kedua bangsa ini menjadi lebih akrab. Maka Gamelan Digul boleh dipandang sebagai lambang persahabatan yang kuat antara rakyat Australia dan Indonesia,” sebut Kartomi.


Pada 1945, para eks Digulis dan aktivis politik kembali ke Indonesia. Sementara itu, Gamelan Digul ditinggal di Australia. Pada 1946, gamelan tersebut disumbangkan ke Museum Victoria. Kemudian menjadi milik Departemen Musik Universitas Monash pada 1977.




Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje traveled to Jeddah and Mecca to observe and gather information about Muslims in the Dutch East Indies.
bg-gray.jpg
Gerilya di hutan hingga dapat julukan Ratu Rimba Malaya, Shamsiah Fakeh pernah ditangkap di Jakarta pasca peristiwa G30S 1965.
bg-gray.jpg
Sebelum menjadi sentra kuliner seperti sekarang, kawasan Jalan Sabang pernah menjadi tempat nongkrong anak gaul Jakarta hingga tempat mangkal tante-tante kesepian.
bg-gray.jpg
Klub sepakbola yang dibangun komunitas Arab Pekalongan ini tak bisa dianggap remeh. Kendati kerap didera kesulitan finansial, Alhilaal berhasil merengkuh gelar juara.
Chairil Anwar dan Des Alwi jual beli barang bekas. Dari aktivitas itu Sutan Sjahrir memperoleh radio gelap untuk mendengarkan berita kekalahan Jepang.
Chairil Anwar dan Des Alwi jual beli barang bekas. Dari aktivitas itu Sutan Sjahrir memperoleh radio gelap untuk mendengarkan berita kekalahan Jepang.
Mata-mata Barat mengumpulkan kertas yang dijadikan tisu toilet oleh tentara Soviet. Kertas itu berisi informasi penting tentang rencana hingga pengembangan alat tempur.
Mata-mata Barat mengumpulkan kertas yang dijadikan tisu toilet oleh tentara Soviet. Kertas itu berisi informasi penting tentang rencana hingga pengembangan alat tempur.
Dulu sempat cuma dianggap olahraga rekreasi, lantas Prancis berbenah. Denmark sampai Indonesia pun keok dibuatnya.
Dulu sempat cuma dianggap olahraga rekreasi, lantas Prancis berbenah. Denmark sampai Indonesia pun keok dibuatnya.
Prajurit KNIL Kamby desersi menyeberang ke pihak Aceh. Dia sampai pindah agama.
Prajurit KNIL Kamby desersi menyeberang ke pihak Aceh. Dia sampai pindah agama.
Chairil Anwar dan ayahnya wafat di tahun yang sama. Diperingati sebagai hari berkabung di Indragiri dan Hari Puisi Nasional.
Chairil Anwar dan ayahnya wafat di tahun yang sama. Diperingati sebagai hari berkabung di Indragiri dan Hari Puisi Nasional.
Mahmoud Abbas tak punya legitimasi, kata sejarawan Vijay Prashad. Pemimpin Palestina sebenarnya ada di penjara, salah satunya Marwan Barghouti.
Mahmoud Abbas tak punya legitimasi, kata sejarawan Vijay Prashad. Pemimpin Palestina sebenarnya ada di penjara, salah satunya Marwan Barghouti.
transparant.png
bottom of page