top of page

Melawan Lupa Peristiwa Kekerasan Seksual dalam Kerusuhan Mei 1998

Selain melakukan upaya melawan lupa terhadap kekerasan seksual dalam kerusuhan Mei 1998, masyarakat juga perlu memastikan bahwa narasi sejarah tidak dijadikan alat untuk melegitimasi kekuasaan.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Aksi unjuk rasa masyarakat setelah kerusuhan Mei 1998 di depan Istana Negara, 11 Mei 2000. (Bernard Chaniago/Tempo).

14 Jul 2025
5 menit membaca

Diperbarui: 14 Mei

AKTIVIS dan sejarawan dari Ruang Arsip & Sejarah (RUAS) Perempuan Indonesia, Ita Fatia Nadia, mengenang kembali keterlibatannya dalam perlindungan dan advokasi korban kekerasan seksual dalam kerusuhan Mei 1998. Ketika itu, Ita mendampingi beberapa korban, tidak hanya wanita muda, tetapi juga anak-anak hingga remaja.


Salah satu korban yang didampingi Ita adalah anak perempuan berusia 11 tahun di wilayah Tangerang. Mantan direktur Yayasan Kalyanamitra, lembaga pemerhati isu perempuan, itu mendampingi korban di saat-saat terakhir hidupnya hingga jenazahnya dikremasi.


“Ketika Fransiska meninggal, saya menelepon Pak Sandiawan dan Pak Sandiawan memberi tahu saya bahwa semua persiapan untuk pemakaman akan diurus oleh tim relawan karena waktu itu tidak ada satu pun keluarga [korban] yang mendampingi... Saya masih ingat betul Pak Sandiawan datang ke Cilincing sebelum Fransiska dimasukkan ke dalam krematorium. Tidak ada doa, tidak ada siapa pun. Maka Pak Sandiawan mengatakan, ‘saya yang berdoa untuk Fransiska’... Saya tunggu dia sampai [proses kremasi] selesai,” ungkap Ita dalam webinar dan rekoleksi IKAFITE bertajuk “Kesaksian dan Penjernihan Fakta Sejarah Peristiwa 13-15 Mei 1998” yang disiarkan di kanal Youtube HIDUPtv, 11 Juli 2025.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Di usianya yang masih muda, Semaoen memimpin dan menggerakkan serikat buruh. Dia memperjuangkan pekerja tertindas dengan melancarkan pemogokan, sampai diusir pemerintah kolonial.
bg-gray.jpg
Beranjak remaja di tengah berseminya pergerakan, Semaoen “dibentuk” Sneevliet guna merintis jalan revolusioner.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
transparant.png
bottom of page