- Budi Setiyono
- 1 Nov 2025
- 4 menit membaca
Diperbarui: 9 jam yang lalu
SEBUAH undangan sampai ke tangan Ali Mansur, konsul PBNU Wilayah Nusa Tenggara, pada September 1955. Isinya, Penyelenggara Rapat Bersama mengundang cabang NU, Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII), dan Masjumi di Lombok untuk membuat pernyataan bersama demi kemenangan umat Islam. Sontak, Mansur heran. Dia tak pernah berunding dengan Masjumi maupun PSII.
Tak lama, datang dua pengurus PSII cabang Lombok. Mansur mengatakan NU tersinggung karena namanya dicatut. Dia juga menyebut bagaimana Masjumi kerap memfitnah NU dan pemimpin-pemimpinnya.
“Dengarkah saudara bahwa mereka di mana-mana berkata Ahlussunah wal PKI?” ujar Mansur, dalam laporannya yang tersimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












