top of page

Mengukir Nama di Ladang Cinta

Fredy S merupakan penulis novel populer terproduktif era 1980 hingga 1990-an. Namun sosoknya justru tenggelam oleh karya-karyanya yang berjumlah ratusan.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Fredy S berpose di depan lukisan-lukisan karyanya. (Dok. Keluarga Fredy S/Historia.ID).

1 Apr 2023
7 menit membaca

Diperbarui: 24 Jan

RUMAH dua tingkat di Bintara, Bekasi itu berpagar jerajak besi. Halamannya dipenuhi aneka bunga. Beranda dibiarkan kosong; tak ada meja maupun kursi. Sebuah sepeda mini terparkir di garasi. Dua bocah laki-laki asyik bermain. Mereka cucu si empunya rumah: Fredy Siswanto atau Fredy S.


Ruangan di dalamnya cukup luas. Agak menjorok ke dalam, anak tangga meliuk ke lantai dua. Di bawahnya, kolam ikan mini tak lagi terawat. Dinding kolam itu bercorak ala lembah di pegunungan. Kering. Berdebu.


“Maaf, agak berantakan. Semenjak Fredy sakit, sempit sekali waktu untuk mengurus rumah. Anak-anak juga sudah tinggal di rumah masing-masing dengan keluarganya. Paling seminggu sekali datang ke mari,” kata Sri Suyati, biasa disapa Yati, istri pertama Fredy S.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page