top of page

Mereka yang Memihak Pramoedya

Dalam polemik penghargaan Ramon Magsaysay, Pramoedya didukung beberapa sastrawan seperti Ajip Rosidi, Arief Budiman, dan Goenawan Mohamad.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Arief Budiman, Pramoedya Ananta Toer, dan Ajip Rosidi.

19 Feb 2025
4 menit membaca

Diperbarui: 28 Agu 2025

SEWAKTU Pramoedya Ananta Toer dianugerahi penghargaan Ramon Magsaysay dari Filipina, sejumlah sastrawan terkemuka di Indonesia bak kebakaran jenggot. Selain Mochtar Lubis, nama Taufiq Ismail termasuk yang getol berusaha menentang penghargaan itu diberikan kepada Pram. Sikap Taufik ini kemudian diikuti oleh 25 sastrawan lain. Kebanyakan berasal dari kelompok Manifes Kebudayaan (Manikebu). Demi menjegal Pram, mereka melayangkan petisi penolakan.


“Kami menduga bahwa Yayasan Hadiah Magsaysay tidak sepenuhnya tahu tentang peran tidak terpuji Pramoedya pada masa paling gelap bagi kreativitas di zaman Demokrasi Terpimpin, ketika dia memimpin penindasan sesama seniman yang tidak sepaham dengan dia,” demikian bunyi pernyataan bersama para sastrawan itu seperti diberitakan Kompas, 5 Agustus 1995.


Polemik penghargaan Magsaysay bagi Pram kian bertiup kencang sehingga menjadi pemberitaan di berbagai media nasional selama berminggu-minggu. Perbuatan Pram di masa lalu disingkap oleh para seterunya. Menurut Taufiq Ismail dkk., Pram telah membegal mereka dalam berkarya bahkan membuat sebagian kehilangan pekerjaan. Untuk itu, Pram dituntut untuk minta maaf secara terbuka.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page