- 17 Feb 2025
- 4 menit membaca
Diperbarui: 18 Apr
DI MASA tuanya, Pramoedya Ananta Toer bahkan masih dinominasikan untuk meraih penghargaan Nobel bidang sastra. Pada 2004, Pram diundang ke Norwegia, salah satu negara penyelenggara penobatan penerima hadiah Nobel. Namun, Pram tak bisa berangkat karena alasan kesehatannya. Hingga akhir hayatnya, Pram tidak pernah merengkuh penghargaan tertinggi dunia bidang sastra itu kendati dirinya disebut-sebut layak menerimanya.
“Buat saya tidak ada artinya apa-apa, mungkin itu sebabnya mengapa saya tidak terlalu mengharapkan untuk mendapatkannya. Kalau dapat penghargaan seperti itu, berarti buku-buku Anda lebih banyak laku. Dan kalau saya mendapatkan hadiah uang, saya akan menggunakannya untuk menyelesaikan proyek penulisan ensiklopedia saya,” kata Pram dalam suatu wawancara pada 2004 kepada Andre Vitchek dan Rossie Indira yang dibukukan, Saya Terbakar Amarah Sendirian.
Sejak bebas dari penjara tahanan politik (tapol) di Pulau Buru, nama Pram memang selalu masuk nominasi penerima Nobel Sastra. Pengakuan terhadap Pram senafas dengan dedikasinya sebagai sastrawan yang telah melahirkan sejumlah karya sastra bermutu tinggi. Berbagai karyanya juga sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, antara lain Perburuan, Keluarga Gerilya, Gadis Pantai, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu dan tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca).
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















