- 21 Nov 2022
- 15 menit membaca
Diperbarui: 26 Apr
KALIBATA, 23 Agustus 1972. Sekira pukul sembilan malam, terdengar suara ketukan. Muhammad Ali beranjak dan membuka pintu. Di hadapannya berdiri tetangganya. Ia mempersilakan masuk. Di ruang tamu, mereka berbincang hangat. Ali dan istrinya lebih banyak mendengar penuturan lelaki itu.
“Cerita dagang, cerita dia di Eropa, cerita perjalanan dari Indonesia ke Amerika. Nggak bisa semuanya (saya ingat), nggak saya catat. Saya iya-iya aja,” ujar Ali, berusia 90 tahun, kepada Historia.ID.
Malam kian larut. Si tamu mulai menyampaikan maksud kedatangannya. Ia menyodorkan surat kuasa. Ali diminta mengambil tunjangan pemerintah bagi perintis kemerdekaan dan mengelola uang itu untuk istrinya. Ia beralasan hendak pergi tapi tak memberi tahu tujuannya.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















