top of page

Orang Arab di Nusantara

Orang-orang Arab dari Hadramaut meninggalkan tanah air mereka di Yaman Selatan yang tandus. Untuk memperbaiki hidup, mereka berdiaspora ke berbagai belahan dunia, termasuk ke Nusantara.

loading_historia_white.gif
transparant.png

​

1 Jul 2024
2 menit membaca

Diperbarui: 16 Mar

SELINTAS tak ada yang aneh dari foto itu. Di serambi sebuah rumah, tiga orang duduk di kursi rotan: seorang perempuan berkebaya diapit dua lelaki mengenakan beskap dan blangkon. Satu dari dua lelaki itu berkacamata dan berhidung mancung. Lelaki itu adalah Abdul Rahman (A.R.) Baswedan, seorang keturunan Arab.  


Foto itu dimuat di suratkabar berbahasa Melayu, Matahari, sontak bikin geger masyarakat Arab. Dianggap menghina dan menurunkan derajat, terutama bagi kalangan sayid. Terlebih, dalam sebuah tulisan yang dimuat di edisi yang sama, Baswedan menulis: “Di mana seseorang dilahirkan, di situlah tanah airnya.”  


Sejak lama, orang-orang Hadramaut meninggalkan tanah air mereka di Yaman Selatan yang tandus. Untuk memperbaiki hidup, mereka berdiaspora ke berbagai belahan dunia, termasuk ke Nusantara. Berdagang, mengajarkan agama, berasimilasi dengan penduduk setempat.



Foto A.R. Baswedan memakai baju beskap atau surjan dan blangkon yang memuat geger masyarakat Arab di Indonesia.
Foto A.R. Baswedan memakai baju beskap atau surjan dan blangkon yang memuat geger masyarakat Arab di Indonesia.

Ditulis dengan gaya sastra, dalam suratnya kepada A.R. Baswedan tertanggal 21 November 1974, Buya Hamka menulis: “Arab Indonesia dibesarkan dengan gado-gado, bukan dengan mulukhia. Dengan durian, bukan dengan kurma. Dengan sejuknya hawa gunung, bukan dengan panasnya padang pasir. Mereka dihidupkan bukan di pinggir Dajlah dan Furat, tapi di pinggir Musi, Kapuas, Bengawan, dan Brantas. Lebih gurih minyak kelapa daripada minyak samin. Sebab itu jalan selamat bagimu, di hari depanmu ialah leburkan diri ke dalam bangsa ibumu. Tanah airmu ialah Indonesia!”  


Hamka hanya menegaskan. Sebab, jalan itu sudah diambil A.R. Baswedan dan orang-orang keturunan Arab di Indonesia untuk menjadikan Indonesia sebagai tanah air mereka, bukan Hadramaut. Dan kini mereka adalah warga negara Indonesia.* 


Berikut ini laporan khusus orang Arab di Nusantara: 

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
It was not without reason that Ahmad Subardjo was nicknamed “The Guarantor of Independence” in Indonesia. However, he was absent when Sukarno proclaimed independence.
bg-gray.jpg
Saat memimpin Jakarta, Sudiro dihadapkan pada kondisi berantakan. Putar otak demi pembangunan kota, termasuk cari dana di luar lungsuran dari pusat. Sering pula gagasannya ditolak pemerintah pusat.
bg-gray.jpg
Ahmad Subardjo was born in Karawang to a family of Acehnese and Javanese nobility. The beloved son of a civil service police officer, he moved to Batavia to continue his education at a Dutch school.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah became the first female minister in Indonesian history. She handled everything from diplomacy and labor issues to makeup and lipstick.
Piala Dunia Wanita bentuk pengakuan FIFA terhadap perjuangan puluhan tahun.
Piala Dunia Wanita bentuk pengakuan FIFA terhadap perjuangan puluhan tahun.
Cerita lama tentang feodalisme, priayi intelek dan misteri raibnya sebuah patung.
Cerita lama tentang feodalisme, priayi intelek dan misteri raibnya sebuah patung.
Drama persaingan sekaligus persahabatan dua pembalap flamboyan legendaris yang memicu adrenalin.
Drama persaingan sekaligus persahabatan dua pembalap flamboyan legendaris yang memicu adrenalin.
Kisah-kisah unik cabang menembak di Olimpiade. Dari menembak merpati sampai duel ala Koboi.
Kisah-kisah unik cabang menembak di Olimpiade. Dari menembak merpati sampai duel ala Koboi.
Mayoritas museum di Indonesia masih menampilkan sisi rekreasi.
Mayoritas museum di Indonesia masih menampilkan sisi rekreasi.
Satu lagi aktor senior meninggal dunia. Tak hanya maestro layar lebar, Deddy Sutomo juga sempat menjadi anggota parlemen.
Satu lagi aktor senior meninggal dunia. Tak hanya maestro layar lebar, Deddy Sutomo juga sempat menjadi anggota parlemen.
transparant.png
bottom of page