top of page

Para Penyemir Cilik

Perubahan bentuk dan cara membuat sepatu memunculkan tukang semir sepatu. Sebagian besar pekerjanya anak-anak.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Anak-anak sedang menyemir sepatu di jalanan Boston, 1940-an. (National Geographic).

15 Agu 2018
4 menit membaca

Diperbarui: 17 Apr

SIANG terik di Masjid Bank Indonesia, Jakarta Pusat. Jemaah baru saja kelar tunaikan salat Jumat. Sebagian besar beranjak mengambil sepatunya dari penitipan. Tapi ada segelintir orang masih duduk di sekitar penitipan. Mereka menunggu sepatunya kelar disemir agar lebih mengilap. Semua penyemir sepatu berusia dewasa. Tak ada anak-anak. Berbeda sekali jika membandingkan awal kehadiran penyemir sepatu di Indonesia.


Tukang semir sepatu telah merentangi pelbagai zaman. Bukti awal keberadaan pekerjaan ini berasal dari sebuah foto lawas karya Louis Daguerre, penemu kamera, pada 1838. Foto tersebut menangkap suasana Boulevard du Temple, Paris, Prancis. Di pojok kiri foto, dua orang kelihatan melakukan aktivitas. Orang pertama berdiri mengangkat salah satu kakinya ke sebuah meja pendek, sedangkan orang kedua terlihat menggosok sepatu orang pertama.  


Di belahan dunia lain, penyemir sepatu terekam dalam lukisan koleksi Connecticut Historical Society (CHS), Amerika Serikat. Lukisan memuat dua orang lelaki: kulit putih dan kulit hitam. Lelaki kulit putih berdiri memperhatikan lelaki kulit hitam yang duduk di sebuah kursi sembari memegang sikat dan sepatu bot. Menurut laman chs.org, lukisan itu peninggalan dekade 1850-an.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page