top of page

Pasukan Meriam dalam Pertempuran Surabaya

Para kadet Akademi Militer girang berhasil menembakkan meriam. Ternyata pelurunya jatuh di daerah sendiri.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Pejuang Indonesia mengoperasikan meriam penangkis serangan udara dalam Pertempuran Surabaya. (IPPHOS).

9 Agu 2019
2 menit membaca

Pada awal November 1945, Dr. Ongko diutus ke Markas Besar Tentara di Yogyakarta. Kepada Kepala Staf Umum Tentara Keamanan Rakyat Letjen Oerip Soemohardjo, dia melaporkan bahwa para pemuda di Surabaya berhasil merebut seluruh persenjataan dari tangsi tentara Jepang. Di antaranya meriam, namun para pemuda tidak bisa menggunakannya. Oleh karena itu, dia meminta kepada Oerip untuk mengirimkan pasukan yang bisa mengoperasikan senjata berat tersebut.


Oerip kemudian menugaskan Kapten Suwardi, perwira KNIL yang paham meriam dan baru saja menjabat Direktur Akademi Militer Yogyakarta, untuk membentuk Pasukan Meriam dan segera berangkat ke Surabaya. Sekitar 23 orang kadet bergabung. Mereka mendapatkan pelajaran kilat tentang meriam dari Letnan Satu Abdullah, yang pernah dinas di bagian artileri pada masa pendudukan Jepang.


Para kadet bersama sembilan instruktur berangkat menuju Surabaya naik kereta api. Mereka sampai Stasiun Wonokromo pada 12 November 1945 sore. Setelah menginap semalam, mereka kemudian menghadap Mayjen Sungkono yang memimpin Komando Pertahanan Surabaya.


Setelah mendapat penjelasan mengenai situasi pertempuran, para kadet dibagi dua kelompok. Satu kelompok di komando pertempuran, kelompok lain ditempatkan di gedung Kaliasin 17. Malam itu juga, mereka diperintahkan mengambil meriam di Sekolah Teknik Don Bosco di Sawahan yang jadi tangsi militer Jepang.


Presiden Sukarno dan Sri Sultan Hamengkubuwono IX memberikan selamat kepada perwira baru Akademi Militer Yogyakarta pada 5 Oktober 1949. (ReproAkademi Militer Yogya dalam Perjuangan Fisik 1945-1949)
Presiden Sukarno dan Sri Sultan Hamengkubuwono IX memberikan selamat kepada perwira baru Akademi Militer Yogyakarta pada 5 Oktober 1949. (Repro Akademi Militer Yogya dalam Perjuangan Fisik 1945-1949)

Menurut Moehkardi dalam Akademi Militer Yogya dalam Perjuangan Fisik 1945-1949, dengan menggunakan truk dan mobil, malam itu mereka berhasil menyeret dua pucuk meriam besar 10,5 cm, dua pucuk meriam anti serangan udara kaliber 4 cm, dan dua pucuk meriam anti tank kaliber 2,5 cm. Di antara mereka baru malam itu belajar menyetir mobil sehingga jalannya lambat. Apalagi mereka tak menyalakan lampu untuk menghindari serangan udara Inggris.


Mereka membawa meriam itu ke Gunungsari, tepi kota Surabaya di bagian selatan, agar jauh dari garis pertempuran tetapi masih bisa mencapai sasaran musuh yang terjauh. Dalam perjalanan, terjadi kecelakaan. Rantai besar pengikat meriam putus dan mengenai kadet Sumaryo sehingga harus dirawat beberapa hari di rumah sakit Palang Merah Indonesia di Blauran.


Setelah tiba di Gunungsari, rupanya para kadet tidak sabar untuk mencoba meriam tersebut. Tanpa menunggu Mayjen Suwardi serta tanpa peta dan kompas, mereka mencoba menembakkan salah satu meriam. Mereka memperkirakan tembakan itu ke arah sasaran kapal-kapal Inggris di pelabuhan Tanjung Perak.


“Saat peluru berhasil ditembakkan,” tulis Moehkardi, “mereka bersorak bangga karena sudah berhasil membunyikannya.”


Tetapi, apa yang terjadi?


“Ternyata tembakan mereka salah arah dan justru jatuh di Sidoarjo, di daerah sendiri,” lanjut Moehkardi. “Bisa dibayangkan, ada berapa rakyat yang menjadi korban.”


Menurut Moehkardi, kisah komedi sekaligus tragis seperti ini sering terjadi dalam Pertempuran Surabaya. Banyak di antara pemuda yang bertempur baru pertama kali memegang senjata dan menembakkannya, sehingga sering mengenai kawan sendiri. Mereka belum tahu cara menghitung dan memperkirakan sasaran yang tepat.


Setelah kelengkapan kompas dan peta tersedia, barulah penembakan meriam tepat sasaran. Mayjen Suwardi yang menghitung arah dan sudut tembakan, serta menetapkan waktu ledak pelurunya. Para kadet hanya membantu memasukkan peluru dan menembakannya. Tembakan meriam beruntun pada malam hari berhasil mengenai sasaran: sebuah kapal Inggris terbakar dan asap tebal membumbung ke udara.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
It was not without reason that Ahmad Subardjo was nicknamed “The Guarantor of Independence” in Indonesia. However, he was absent when Sukarno proclaimed independence.
bg-gray.jpg
Saat memimpin Jakarta, Sudiro dihadapkan pada kondisi berantakan. Putar otak demi pembangunan kota, termasuk cari dana di luar lungsuran dari pusat. Sering pula gagasannya ditolak pemerintah pusat.
bg-gray.jpg
Ahmad Subardjo was born in Karawang to a family of Acehnese and Javanese nobility. The beloved son of a civil service police officer, he moved to Batavia to continue his education at a Dutch school.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah became the first female minister in Indonesian history. She handled everything from diplomacy and labor issues to makeup and lipstick.
Piala Dunia Wanita bentuk pengakuan FIFA terhadap perjuangan puluhan tahun.
Piala Dunia Wanita bentuk pengakuan FIFA terhadap perjuangan puluhan tahun.
Beragam cara diambil untuk mengakali atmosfer stadion tanpa “pemain keduabelas”. Dari mural kontroversial hingga boneka seks.
Beragam cara diambil untuk mengakali atmosfer stadion tanpa “pemain keduabelas”. Dari mural kontroversial hingga boneka seks.
 Sejak dini, Sandiaga terobsesi beragam olahraga. Menurun dari orangtuanya
Sejak dini, Sandiaga terobsesi beragam olahraga. Menurun dari orangtuanya
Tuan rumah terhindar dari malu di Indonesia Open 2019 berkat kegemilangan ganda putra. Sektor yang dulunya dipandang sebelah mata.
Tuan rumah terhindar dari malu di Indonesia Open 2019 berkat kegemilangan ganda putra. Sektor yang dulunya dipandang sebelah mata.
Tragedi Kanjuruhan jadi salah satu petaka terparah dalam catatan sejarah.
Tragedi Kanjuruhan jadi salah satu petaka terparah dalam catatan sejarah.
Lorenzo dan Marquez diprediksi bakal berseteru bak perseteruan Prost-Senna yang sohor sebagai persaingan tersengit di lintasan.
Lorenzo dan Marquez diprediksi bakal berseteru bak perseteruan Prost-Senna yang sohor sebagai persaingan tersengit di lintasan.
transparant.png
bottom of page