top of page

Pengasingan Paksa Eksil Politik oleh Negara

Pengungkapan kebenaran harus ditindaklanjuti dengan langkah-langkah yang dapat memberikan rasa keadilan dan kepuasan bagi korban dan keluarganya yang diikuti dengan proses penegakan hukum dan pemulihan yang efektif.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Ilustrasi oleh Betaria Sarulina dan M.A. Yusuf/Historia.ID.

1 Nov 2024
8 menit membaca

Diperbarui: 8 Jan

“Mereka bukan diaspora yang menerima paspor dengan kemegahan, melainkan orang-orang yang haknya atas sebuah tanah air telah dirampas. Mereka berkelana menyeberangi berbagai batas negara dalam ketakutan, tanpa paspor, untuk menghindari pengejaran yang dilancarkan oleh sebuah rezim yang bertahta berdasawarsa lamanya." (Martin Aleida, Tanah Air Yang Hilang)

 

SAAT duduk di bangku sekolah, tentu anak didik kerap disuguhi mata pelajaran sejarah Indonesia. Di dalamnya terdapat tentang Peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S). Kita ditekankan adanya hantu-hantu komunis yang menyebabkan terbunuhnya para jenderal angkatan darat. Namun pelajaran sejarah ini sama sekali tidak membeberkan rentetan peristiwa kekerasan yang dilakukan oleh Negara terhadap masyarakat sipil pasca 1965 hingga tidak generasi muda agar peristiwa serupa tidak terjadi di masa yang akan datang.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
transparant.png
bottom of page