top of page

Dari Kolonialisme ke Nasionalisme: Warisan Mesin Ujaran Kebencian

Ujaran kebencian kini menjadi masalah struktural, sering direproduksi negara lewat narasi dominan dan alat kekuasaan seperti media, hukum, dan pendidikan. Alih-alih inklusif, nation-state justru menyingkirkan keberagaman demi stabilitas semu.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Ilustrasi oleh Betaria Sarulina dan M.A. Yusuf/Historia.ID.

  • 19 Jun 2025
  • 4 menit membaca

Diperbarui: 18 Jun

PADA 2023, Perserikatan Bangsa-Bangsa menetapkan 18 Juni sebagai Hari Internasional Menentang Ujaran Kebencian (International Day for Countering Hate Speech). Bagi sebagian orang, hari ini mungkin terasa simbolik belaka. Namun, jika ditelusuri lebih dalam, ia menandai pengakuan global bahwa ujaran kebencian kini bukan lagi sekadar problem sosial, melainkan telah menjelma menjadi persoalan struktural dan politis.


Ujaran kebencian sering kali dikaitkan dengan individu: warga biasa, buzzer politik, atau kelompok fanatik. Padahal, terlalu sedikit perhatian diberikan pada peran negara dalam mereproduksi –bahkan memanipulasi– ujaran kebencian demi kepentingannya sendiri. Dan di sinilah letak persoalan mendasarnya: nation-state modern, alih-alih menjamin perlindungan, justru kerap menjadi arsitek eksklusi sosial yang dilembagakan.


Sebagian besar negara-bangsa yang ada hari ini adalah produk kolonialisme. Di Asia Tenggara, Afrika, hingga Timur Tengah, batas-batas negara ditentukan bukan oleh relasi kultural atau sejarah alami komunitas, melainkan oleh logika administrasi kolonial: siapa yang bisa dikendalikan, dan wilayah mana yang bisa dieksploitasi.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Buyut Ahmad Subardjo berasal dari keluarga terpandang di Aceh yang terlibat persaingan kekuasaan. Dia memilih merantau ke Jawa dan menjadi pemuka agama Islam. Anaknya mengikuti jejaknya.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah berada di dalam pusaran kontroversi penyusunan RUU Perkawinan. Berbuah manis walau penuh kompromi.
bg-gray.jpg
Ahmad Subardjo lahir di Karawang dari keturunan bangsawan Aceh dan Jawa. Anak kesayangan mantri polisi ini pindah ke Batavia untuk melanjutkan pendidikan di sekolah Belanda.
bg-gray.jpg
Para pengikut Tan Malaka dihadapkan ke pengadilan. Mereka didakwa melakukan penculikan Sutan Sjahrir dan berupaya menggulingkan pemerintahan.
Budaya bahari bisa tumbuh bukan semata-mata karena infrastruktur fisik.
Budaya bahari bisa tumbuh bukan semata-mata karena infrastruktur fisik.
Edisi ke-19 festival film terlama. Ajang untuk menengok Eropa lewat film-film berkualitas.
Edisi ke-19 festival film terlama. Ajang untuk menengok Eropa lewat film-film berkualitas.
Indonesia berlimpah warisan budaya. Pengembangannya tergantung sikap masyarakat dan kebijakan pemerintah.
Indonesia berlimpah warisan budaya. Pengembangannya tergantung sikap masyarakat dan kebijakan pemerintah.
Segala permasalahan tak harus selesai dengan adu otot. Hanya dengan kepala dingin, semua masalah akan mencair.
Segala permasalahan tak harus selesai dengan adu otot. Hanya dengan kepala dingin, semua masalah akan mencair.
Meski prestisius dan tertua plus selalu melahirkan bintang, All England acapkali disebut kejuaraan dunia bayangan.
Meski prestisius dan tertua plus selalu melahirkan bintang, All England acapkali disebut kejuaraan dunia bayangan.
Teknokrat olahraga yang berperan penting dalam kesuksesan Susi Susanti di Barcelona. Diperankan aktor kawakan Lukman Sardi.
Teknokrat olahraga yang berperan penting dalam kesuksesan Susi Susanti di Barcelona. Diperankan aktor kawakan Lukman Sardi.
transparant.png
bottom of page