top of page

Peraih Derajat Tertinggi dari Universitas Al-Azhar

Janan Thaib mendirikan madrasah di Makkah dengan nama Indonesia.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Kiri-kanan: Sunario, Sartono, Janan Thaib (duduk), Mohammad Hatta, dan Wirjono di Belanda tahun 1926. (Dok. Keluarga H. Emzita).

4 Apr 2019
3 menit membaca

Diperbarui: 3 Mar

UNIVERSITAS al-Azhar di Kairo, Mesir, merupakan pusat ilmu pengetahuan Islam. Universitas tertua di dunia ini jadi tujuan para pencari ilmu keislaman dari Nusantara. Orang Indonesia pertama yang belajar di Masjid al-Azhar, cikal bakal Universitas al-Azhar, adalah Abdul Manan Dipomenggolo sekira tahun 1850. Dia merupakan pendiri pesantren Tremas, Pacitan, Jawa Timur, dan juga kakek dari Syekh Mahfudz Tremas.


Sedangkan orang Indonesia pertama yang meraih derajat tertinggi (alamiyya) dari Universitas al-Azhar adalah Janan Thaib. Dia lahir di Bukittinggi, Sumatra Barat, tahun 1891. Dia pergi untuk belajar ke Makkah pada 1911. Delapan tahun kemudian, pada 1918, dia menempati peringkat ketujuh di Universitas al-Azhar. Dia lulus dengan gelar alamiyya pada 1924.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page