- 17 Nov 2025
- 4 menit membaca
Diperbarui: 31 Jan
PENGALAMAN sejarah membuat Nahdlatul Ulama (NU) berat meninggalkan panggung politik. Padahal, dalam muktamarnya di Situbondo pada 1984, organisasi berlambang bola dunia yang dilingkari tali tersimpul dan dikitari sembilan bintang ini sudah memutuskan “kembali ke Khittah 1926”, yang belum dicabut sampai sekarang. Dengan kembali ke Khittah 1926, NU mengembalikan jatidirinya sebagai organisasi sosial-keagamaan seperti pada awal didirikan. Itu berarti NU tak lagi berfungsi sebagai organisasi sosial-politik.
Kita ketahui, pada 1952 NU keluar dari Masyumi dan menampilkan diri sebagai partai politik sampai rezim Orde Baru melakukan restrukturisasi partai politik tahun 1973. Restrukturisasi dilakukan untuk menciptakan stabilitas dan kehidupan politik yang hegemonik serta mencegah partisipasi masyarakat. Inilah yang disebut dengan “depolitisasi”. Pemerintah tak memperhitungkan kemenangan telak mesin politiknya (Golkar) dalam Pemilihan Umum 1971 (62,80%), bahwa kekuatan politik Indonesia sudah bisa dikendalikan, tapi membutuhkan pembenaran untuk mengubur partai-partai lama.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















