top of page

Pramoedya, Lekra, dan Lentera

Pramoedya Ananta Toer mengaku bukan orang penting di Lekra. Ia mengasuh rubrik Lentera yang menyerang para pendukung Manifes Kebudayaan.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Pramoedya Ananta Toer di Pulau Buru pada 1977. (TEMPO/Salim Said).

7 Feb 2025
6 menit membaca

Diperbarui: 29 Des 2025

LEBIH dari dua tahun Pramoedya Ananta Toer dipenjara Belanda karena menyebarkan pamflet-pamflet dan majalah perlawanan di masa revolusi. Pram akhirnya keluar dari penjara Bukit Duri, Jakarta pada 3 Desember 1949. Usai menghirup udah bebas, sastrawan kelahiran Blora, 6 Februari 1925 itu kembali menata hidupnya.


Selain mencari pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari –ia sempat bekerja sebagai redaktur Balai Pustaka bagian Kesusasteraan Modern dengan gaji sebesar Rp204 lewat bantuan Menteri PPK dr. Abu Hanifah–, Pramoedya juga bergabung dalam Gelanggang Seniman Merdeka yang didirikan pada pertengahan 1946 atas prakarsa Chairil Anwar. Sastrawan dan seniman Angkatan 45 yang berhimpun dalam Gelanggang antara lain Asrul Sani, Baharuddin, Basuki Resobowo, Henk Ngantung, Sito Situmorang, Rivai Apin, Mochtar Apin, dan lain-lain. Perkumpulan ini mengklaim sebagai Generasi Gelanggang. Pada 19 November 1946, lahirlah preambul Gelanggang.


Menurut Maman S. Mahayana, dosen sastra di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, dalam Akar Melayu: Sistem Sastra dan Konflik Ideologi di Indonesia & Malaysia, dalam mukadimah Anggaran Dasar Generasi Gelanggang disebutkan sebagai generasi muda Indonesia, Generasi Gelanggang bertanggung jawab sepenuhnya terhadap pembentukan bangsa. Atas dasar ini, mereka hendak melepaskan diri dari tatanan lama yang dianggap tidak lagi sejalan dengan semangat revolusi yang mereka perjuangkan. Segala pandangan, sifat, dan anasir lama yang melemahkan revolusi sudah sepatutnya ditentang untuk menyalakan api kekuatan baru.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Mengapa dosen UI rumahnya di Ciputat, sementara kampusnya di Depok? Begini ceritanya.
bg-gray.jpg
Proyek beras sintetis Tekad menjadi skandal korupsi pada awal pemerintahan Soeharto. Dua pengusaha ditangkap di Jepang.
bg-gray.jpg
It was not without reason that Ahmad Subardjo was nicknamed “The Guarantor of Independence” in Indonesia. However, he was absent when Sukarno proclaimed independence.
bg-gray.jpg
Saat memimpin Jakarta, Sudiro dihadapkan pada kondisi berantakan. Putar otak demi pembangunan kota, termasuk cari dana di luar lungsuran dari pusat. Sering pula gagasannya ditolak pemerintah pusat.
Piala Dunia Wanita bentuk pengakuan FIFA terhadap perjuangan puluhan tahun.
Piala Dunia Wanita bentuk pengakuan FIFA terhadap perjuangan puluhan tahun.
Beragam cara diambil untuk mengakali atmosfer stadion tanpa “pemain keduabelas”. Dari mural kontroversial hingga boneka seks.
Beragam cara diambil untuk mengakali atmosfer stadion tanpa “pemain keduabelas”. Dari mural kontroversial hingga boneka seks.
Cara mudah ikut melestarikan lingkungan sekaligus merawat situs-situs bersejarah dari rumah.
Cara mudah ikut melestarikan lingkungan sekaligus merawat situs-situs bersejarah dari rumah.
Pemugaran gedung Sarinah akan memadukan sejarah dan modernitas. Ide awal Bung Karno bertemu dengan tantangan zaman.
Pemugaran gedung Sarinah akan memadukan sejarah dan modernitas. Ide awal Bung Karno bertemu dengan tantangan zaman.
Akankah Arab Saudi mengulang prestasi di Piala Dunia 1994?
Akankah Arab Saudi mengulang prestasi di Piala Dunia 1994?
Tragedi Kanjuruhan menyisakan kisah pilu di Pintu 13. Petaka serupa juga terjadi di Argentina yang sialnya tanpa ada pihak yang bertanggungjawab.
Tragedi Kanjuruhan menyisakan kisah pilu di Pintu 13. Petaka serupa juga terjadi di Argentina yang sialnya tanpa ada pihak yang bertanggungjawab.
transparant.png
bottom of page