- 6 Feb 2025
- 5 menit membaca
Diperbarui: 30 Des 2025
PRAMOEDYA Ananta Toer suatu hari jalan-jalan menyusuri Taman Vondel di Kota Amsterdam. Di taman yang indah itu, Pram melihat banyak orang lalu-lalang menikmati udara hangat. Hari itu sedang musim panas. Pram sendiri sedang butuh tempat untuk merenung. Gara-gara mengidap sikap minder dalam dirinya, Pram susah bergaul dengan orang-orang Belanda.
“Aku duduk seorang diri di atas bangku beton taman. Kemudian duduk seorang wanita muda. Ia mengajak bicara. Ia begitu ramah. Bahasanya bahasa sekolahan, bukan lidah Jordan yang aku tidak begitu paham,” tutur Pram kepada salah satu putrinya, Anggraini, dalam Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, Catatan-catatan dari Pulau Buru Jilid II.
Pram mendapati bahwa gadis Belanda kenalannya itu seorang terpelajar. Minat mereka pada sastra pun nyambung. Si gadis bicara panjang tentang sastra Prancis. Pram hanya tahu Victor Hugo, Emile Zola, dan Honore de Balzac dari sejumlah sastrawan yang dibincangkan sang gadis. Meski percakapan mereka agak terkendala bahasa, menurut Pram gadis itu tidak menggurui. Dari perjumpaan pertama, Pram sudah terpikat pada kepribadian si gadis Belanda.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















