top of page

Presiden B.J. Habibie Mengecam Kekerasan Terhadap Perempuan dalam Kerusuhan Mei 1998

Presiden B.J. Habibie mengecam kekerasan terhadap perempuan dan perkosaan massal dalam kerusuhan Mei 1998. Habibie menyampaikan permintaan maaf.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Presiden B. J. Habibie bersama Saparinah Sadli (duduk) dan Mely Tan (berdiri) membahas tentang kekerasan seksual yang dialami sejumlah perempuan di tengah kerusuhan Mei 1998 di Bina Graha Jakarta, 15 Juli 1998. (Foto Carla Bianpoen termuat di buku Tragedi Mei 1998 dan Lahirnya Komnas Perempuan karya Dewi Anggraeni).

16 Jun 2025
3 menit membaca

Diperbarui: 26 Feb

MENTERI Kebudayaan Fadli Zon menyebut kekerasan seksual terhadap perempuan dalam kerusuhan Mei 1998 sebagai rumor. Pernyataan politikus Partai Gerindra tersebut menuai kecaman dari masyarakat.


“Betul enggak ada perkosaan massal? Kata siapa itu? Enggak ada buktinya. Itu adalah cerita. Kalau ada tunjukkan. Ada enggak di dalam buku sejarah itu? Kan tidak pernah ada. Rumor-rumor seperti itu, menurut saya, tidak akan menyelesaikan persoalan,” kata Fadli Zon saat membahas proyek penulisan ulang sejarah Indonesia bersama jurnalis senior sekaligus pemimpin redaksi IDN Times, Uni Zulfiani Lubis, di kanal youtube IDN Times pada Rabu, 10 Juni 2025.


Sebelumnya, proyek penulisan ulang sejarah Indonesia oleh tim bentukan Kementerian Kebudayaan dikritik sejumlah aktivis dan sejarawan karena dikhawatirkan mengaburkan sejumlah peristiwa sensitif di masa lalu, khususnya sejarah perempuan dan kasus-kasus pelanggaran HAM berat, seperti kerusuhan Mei 1998.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
transparant.png
bottom of page