top of page

Perempuan Korban Kerusuhan Mei 1998

Sejumlah perempuan menjadi korban pemerkosaan dan kekerasan seksual dalam kerusuhan Mei 1998. Hal ini mendorong aktivisme memperjuangkan keadilan bagi korban dan awal terbentuknya Komnas Perempuan.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Sejumlah aktivis menggelar unjuk rasa untuk menuntut perlindungan terhadap saksi dan korban kekerasan. (Carla Bianpoen/Repro Tragedi Mei 1998 dan Lahirnya Komnas Perempuan).

15 Mei 2025
5 menit membaca

Diperbarui: 28 Des 2025

LEBIH dari dua dekade telah berlalu, namun ingatan tentang kerusuhan Mei 1998 masih membekas dalam memori orang Indonesia. Serangan terhadap kelompok minoritas Tionghoa hingga kelompok miskin kota, tak hanya menghancurkan berbagai bangunan, tetapi juga menyebabkan kematian ribuan orang. Sementara beberapa orang lainnya terluka dan menjadi sasaran kejahatan seksual.


Dimulai pada akhir 1997 dan awal 1998, ketika krisis ekonomi mulai berdampak signifikan terhadap kehidupan masyarakat, tuntutan gerakan pro-demokrasi semakin kencang. Gerakan perubahan ini mencapai puncaknya pada pertengahan Mei 1998. Sejarawan Katharine E. McGregor mencatat dalam Systemic Silencing: Activism, Memory, and Sexual Violence in Indonesia, dari tanggal 12 hingga 14 Mei, serangkaian penembakan oleh aparat keamanan yang menyasar para demonstran mahasiswa, kerusuhan di kota-kota besar yang menghancurkan toko-toko dan berakibat tewasnya banyak orang, serta pemerkosaan terhadap sejumlah wanita keturunan Tionghoa mengubah Indonesia secara menyeluruh.


“Sifat dari kekerasan tersebut menyebabkan sorotan yang begitu besar terhadap polisi dan militer yang dianggap tak berbuat banyak selama kerusuhan, dan yang paling buruk, memainkan peran kunci dalam kekerasan itu sendiri. Terungkapnya kekerasan seksual terhadap perempuan keturunan Tionghoa mendorong para aktivis hak-hak perempuan utnuk menyuarakan protes keras terhadap kekerasan seksual secara umum dan menuntut pertanggungjawaban atas pemerkosaan pada Mei 1998,” tulis McGregor.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
transparant.png
bottom of page