- 22 Jul 2025
- 3 menit membaca
UNTUK ukuran orang kebanyakan di masanya, hidup Abdul Muthalib Sangadji terbilang baik, bahkan amat baik bila dibandingkan umumnya pemuda yang membaca pun belum bisa. Pemuda Sangadji sudah empat tahun bekerja sebagai klerk di Kantor Kontrolir di Saparua, daerah tempat dulu Kapitan Pattimura dan orang-orang Ambon melawan Belanda.
Dari kantor Kontrolir, pemuda lulusan SMP kolonial, Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Ambon itu kemudian pindah ke kantor residen. Ijazah MULO yang dimilikinya, yang masih merupakan “barang” elite buat mayoritas orang Indonesia di awal abad ke-20, membuatnya cukup dihormati di Saparua.
Sebagai orang terpelajar, Sangadji mengamati perkembangan politik Hindia Belanda. Dia tertarik dengan pergerakan Sarekat Islam dan kemudian bergabung di dalamnya.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















