CHANGSUEK alias Gajah Perang, julukan timnas Thailand, memang harus mengakui kegagalan di final FIFA ASEAN Cup 2026. Namun secara umum, Thailand masih merajai Asia Tenggara di keseluruhan cabang olahraga –kecuali bulutangkis. Di Asian Games 2026, negeri yang dulu bernama Siam itu mempertahankan langganan bercokol di 10 besar klasemen akhir.
Di final sepakbola ASEAN Cup 2026, Thailand harus puas jadi runner-up setelah kalah dramatis lewat adu penalti pada 5 Oktober 2026. Hasil serupa dari ASEAN Champonship 2026 (dahulu Tiger Cup dan AFF Cup) usai kalah dari Vietnam pada 26 Agustus 2026, meskipun Thailand masih sebagai pemegang trofi terbanyak dengan tujuh kali dari 16 edisi terakhir.
Namun Thailand tak hanya punya sepakbola. Mereka masih paling ‘gacor’ di banyak cabang olahraga ketimbang para tetangganya di Asia Tenggara. Hasil di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 jadi bukti sahihnya. Thailand menempati urutan ketujuh klasemen perolehan medali sekaligus satu-satunya negara Asia Tenggara di 10 besar Asian Games ke-20 yang baru berakhir 4 Oktober 2026 lalu. Malaysia hanya di peringkat 11 dan Indonesia di urutan ke-16. Bahkan semenjak sembilan gelaran pesta olahraga se-Asia terakhir, Thailand selalu eksis di 10 besar klasemen kecuali di Asian Games Jakarta-Palembang 2018 (peringkat 12).
Di kancah sport lintasan bermesin, misalkan, Thailand merupakan pelopornya. Pangeran Birabongse Bhanudej Bhanubandh, seorang enthusiast balapan, sudah meramaikan arena Formula One (F1) kurun 1950-1954. Namun “tongkat estafetnya” baru diteruskan jauh setelahnya oleh Alex Albon yang menempati kokpit jet darat F1 sejak 2019 sampai sekarang. Adapun di gelanggang MotoGP, Somkiat Chantra turut mengharumkan nama Thailand sebagai penunggang tim LCR Honda sejak 2025.
Bulutangkis kini juga mengharumkan nama Thailand. Di tengah dominasi China, Indonesia, dan Malaysia, Thailand tampil jadi “kuda hitam” mulai dekade kedua abad ke-21. Nama-nama seperti Boonsak Ponsana, Ratchanok Intanon, Sapsiree Taerattanachai, dan Kunlavut Vitidsarn acap mendobrak dominasi kekuatan-kekuatan lama. Intanon bahkan masih tercatat sebagai juara tunggal putri termuda di Kejuaraan Dunia BWF pada 2013.
Selanjutnya, dalam voli, tim putri Thailand masih jadi “Ratu” ASEAN –tim putri Thailand sejak 1995 tak pernah absen memetik emas dan hampir selalu menjuarai SEA V Cup sejak 2019. Di Asia, mereka jadi rival kuat bagi tim-tim adidaya macam Jepang dan China sebagai pemegang empat kali gelar Kejuaraan Asia (2009, 2013, 2023, 2026). Di tahun ini juga mereka memberi kejutan besar mengalahkan China di AVC Continental Championship. Thailand masih jadi satu-satunya yang langganan ikut kompetisi liga bergengsi dunia, Volleyball Nations League (VNL) dengan prestasi terbaiknya mencapai perempatfinal VNL 2024.
Terakhir, Thailand masih merajai dua olahraga tradisional yang kemudian mengglobal: muay thai dan sepak takraw. Prestasi-prestasi di atas jelas muncul dari hasil pembinaan olahraga yang terstruktur dan serius.

Tidak Sekadar Dukungan Raja
Selain mempunyai Lampang Sport School –mirip Sekolah Atlet Ragunan– untuk mencetak atlet-atlet nasional, Sport Authority of Thailand (SAT) selaku otoritas olahraga tertinggi Thailand juga rutin menggelar event dua tahun-an Thailand National Games sejenis PON di Indonesia. Tapi apa yang membedakannya dengan Indonesia?
Kerajaan Siam alias Thailand selalu mendorong olahraga bagi masyarakatnya. Dalam sepakbola, misalnya, Raja Vajiravudh atau Rama VI sudah mendukung penyebaran sepakbola sejak awal abad ke-20 setelah sepakbola diperkenalkan para pelajar Siam yang pulang dari Inggris pada akhir abad ke-19. Pun juga penerusnya, Raja Bhumibol Adulyadej.
“Pada 1964 pemerintah Thailand mendirikan sebuah organisasi olahraga Thailand yang bernama Sports Promotion Organization of Thailand. Setelah Yang Mulia Raja Bhumibol Adulyadej resmi mendukungnya dengan dekrit kerajaan untuk berdirinya Sport Promotion Organization of Thailand pada 12 September, organisasi itu telah membuat inisiatif kompetisi olahraga di setiap proinsi menjelang jadi tuan rumah Asian Games IV pada Desembr 1966 di Bangkok,” tulis Narong Sopharat, dkk. di Jurnal Akademik Universitas Olahraga Nasional Thailand, Vol. 13, No. 2 terbitan September-Desember 2021, “Thai National Games Evolution”.
Pada 1985, Sports Promotion Organization of Thailand bertransformasi jadi SAT. Berbeda dari KONI yang berdiri sendiri, SAT di Thailand bernaung di bawah Kementerian Pariwisata dan Olahraga. Maka sejak dulu pamor olahraga dan pariwisata Thailand melejit hampir bersamaan karena pemerintahnya membuatnya terkoneksi satu sama lain.
“Baik olahraga internasional dan penyebaran olahraga secara massal ke wilayah-wilayah rural terjadi di rezim Sarit (Tharanat, perdana menteri 1959-1963) dan Thanom (Kittikachorn, perdana menteri 1963-1973). Beberapa event digelar dalam kaitannya dengan Asian Games. Termasuk juga kemudian mendorong industri pariwisata, modernisasi secara sosial dan ekonomi dengan tujuan prestis nasional,” ungkap Stefan Huebner dalam Pan-Asian Sports and the Emergence of Modern Asia, 1913-1974.

Demi kemajuan berkesinambungan, SAT merancang cetak biru olahraga Thailand, NSDP, sesuai zamannya. Selain menggelar Regional National Games (kini Thailand National Games) tingkat provinsi, SAT juga menggelar event tingkat nasionalnya semacam PON.
Faktor penting lain dalam pembinaan dan pengembangan olahraga Thailand adalah infrastruktur dan fasilitas olahraga. SAT aktif membantu semua pemerintah provinsi dalam rangka desentralisasi pembinaan dan pengembangan olahraganya.
“SAT mendirikan 876 distrik dan 6.474 sub-distrik olahraga sesuai amanat NSDP mereka. Tujuannya untuk mempromosikan dan membina program-program olahraga lokal. Enam tujuan utamanya: pengembangan olahraga-olahraga dasar, pengembangan olahraga untuk komunikasi massal, pengembangan olahraga unggulan, pengembangan olahraga sebagai profesi, pengembangan sport science dan teknologi, dan pengembangan manajemen olahraga,” tulis Phuchong Rung-In dkk. dalam artikel di jurnal Asian Sport Management Review rilisan Agustus 2016, “Development of Sports and Recreation Promotion Model for Provincial Administration in Thailand”.
Alhasil, Thailand punya banyak kompleks olahraga yang tersebar tak hanya di Bangkok. Kompleks-kompleks olahraganya satu dibangun di Chiang Mai, Hua Mak, Universitas Thammasat, Nakhon Ratchasima, Suphachalasai, Universitas Chulalongkorn, Supanburi, Nakonsawan, dan Phuket.
Selain kompleks olahraga, didirikan pula sekolah-asrama atlet Lampang Sport School yang juga punya fasilitas olahraga lengkap. Kementerian terkait menguatkan relasi antara olahraga dan pariwisata dengan hotel olahraga Thanyapura di Phuket, juga dengan aneka fasilitas olahraga berstandar internasional.

Keseriusan lain Thailand yang mungkin jarang jadi sorotan negara lain di Asia adalah soal perlindungan hukum bagi para atlet. Somphon Vidhidharm dalam Sports Law in Thailand menguraikan, Thailand sudah punya undang-undang (UU) yang didedikasikan untuk olahraga profesional sejak 2013 lewat UU Promosi Olahraga Profesional.
“Memang jika dibandingkan di negara-negara Barat seperti Eropa, Jerman, Italia, Prancis, Belanda, dan Portugal, Thailand masih ketinggalan dalam hal kerangka hukum. Namun Thailand menonjol di Asia karena punya UU untuk olahraga profesional. UU ini diperkenalkan untuk masalah-masalah dalam olahraga profesional, seperti kontrak-kontrak atlet, perlindungan atlet, penyelesaian sengketa, dan pendirian yayasan pembangunan olahraga,” terang Vidhidharm.
Mungkin UU itu yang membuat banyak generasi muda Thailand dari masa ke masa tak khawatir memilih terjun dalam olahraga secara profesional untuk masa depan mereka. Sebab, dalam bab tentang kontrak atlet UU itu terdapat beberapa poin hak atlet, mulai dari mendapatkan tindakan keamanan dan kesehatan, asuransi kecelakaan dan kesehatan, serta kompensasi untuk atlet-atlet yang cedera selama latihan atau pertandingan.
“Dalam UU ini, atletlah pemegang stakeholder utamanya. Cedera adalah risiko yang dihadapi dalam semua olahraga, membuat protokol dan perlindungan terhadap atlet sangat penting. Tindakan keamanan yang efektif tak hanya mengurangi risiko cedera namun juga memperpanjang karier para atlet,” tandasnya.



















Komentar