- 1 hari yang lalu
- 8 menit membaca
AURA kekuasaannya masih utuh kala Raja Agamemnon (diperankan Benny Safdie) menyusuri pesisir pantai Troya menuju kapalnya. Odysseus (Matt Damon), panglimanya yang paling dihormatinya, menyertai di belakangnya. Begitu sang raja berbalik badan untuk berpisah, Odysseus berlutut sebagai penghormatan lalu sang raja memeluknya.
Adegan tersebut “menghiasi” film The Odyssey terbaru garapan sineas Christopher Nolan. Filmnya diadaptasi dari syair karangan penyair Yunani Homerus dengan tajuk serupa. Syairnya dituliskan Homerus sekitar abad ke-8 Sebelum Masehi (SM) dalam 24 buku sekaligus jadi sekuel bagi syair epik sebelumnya, Iliad.
Iliad berpusar pada kisah penculikan Helen, istri Raja Sparta Menelaus yang merupakan adik Agamemnon, oleh Pangeran Paris dari Troya. Maka Agamemnon sebagai raja yang membawahi semua kerajaan di Yunani, memerangi Troya sembari dibumbui perseteruan Agamemnon dengan Achilles selama Perang Troya. Adapun Odyssey berkisah tentang perjalanan panjang sekaligus mati-matian Odysseus untuk pulang pasca-Perang Troya.
Adegan di atas rupanya jadi pertemuan terakhir Odysseus dengan Agamemnon dalam keadaan masih hidup. Pasalnya sepulangnya ke Mycenae, ia dibunuh istrinya, Clytemnestra (Lupita Nyong’o).

Sementara, Odysseus terdampar di banyak tempat dan menghadapi banyak rintangan rumit selama 10 tahun sebelum bisa pulang ke Ithaca untuk bertemu Penelope (Anne Hathaway) istrinya dan Telemachus (Tom Holland) putranya. Pasalnya, tak mengikuti rute pulang Agamemnon yang langsung berlayar ke barat. Odysseus dan para krunya memilih berlayar via selatan. Bukan karena tak rindu kampung halaman dan keluarganya namun karena selama 10 tahun Perang Troya, terbersit perasaan bersalah dalam dirinya hingga ia tak lagi jadi orang yang sama sebelum berangkat dari Ithaca untuk mengikuti armada Agamemnon.
Odysseuslah yang mengagas pembuatan Kuda Troya sebagai trik yang lantas menghancurkan Troya. Ia melihat dengan mata kepala sendiri para pasukan Yunani membantai orang-orang Troya sampai menghancurkan beragam kuil, termasuk Kuil Dewi Athena (Zendaya). Sepanjang perjalanan pulang, Athena kerap menghantuinya.
Masalahnya, Ratu Penelope di Istana Odysseus di Ithaca acap didatangi lebih dari 100 peminang. Mereka lebih percaya Odysseus sudah mati. Pasalnya sudah banyak veteran Perang Troya lain sudah pulang. Mereka mendesak Penelope memutuskan siapa yang ia pilih sebagai suami berikutnya.
Antinous (Robert Pattinson) adalah salah satunya. Ia bersekongkol dengan Melantho (Mia Goth), pelayan istana, untuk mengancam Penelope. Telemachus berangkat ke Sparta menemui Raja Menelaus (Jon Bernthal) bukan untuk mencari di mana ayahnya, melainkan untuk mencari tahu siapa dan seperti apa karakter ayahnya. Saat Odysseus berangkat untuk Perang Troya, Telemachus baru berusia 2 tahun.
Seperti apa usaha Penelope dan Telemachus meladeni para peminang yang setiap saat makin agresif? Bagaimana pula kelanjutan pergulatan mati-matian Odysseus dalam perjalanan pulangnya selama 10 tahun dengan menghadapi berbagai rintangan raksasa bermata satu Polyphemus (Bill Irwin) hingga melawan godaan Dewi Circe (Samantha Morton) dan Calypso (Charlize Theron)? Baiknya Anda saksikan sendiri The Odyssey yang sudah tayang di bioskop-bioskop Indonesia sejak 15 Juli 2026.

Membedah Perjalanan Pulang Odysseus
Terlepas dari kontroversi mengapa Nolan menghadirkan sosok Helen dan kembarannya, Clytemnestra (diperankan aktris kulit hitam Lupita Nyong’o), The Odyssey jadi mahakarya terbaru darinya. The Odyssey jadi film pertama yang digarap dengan kamera dan film Imax 70mm, membuat gambarnya begitu tajam. Nolan juga memilih menggunakan ribuan aktor figuran ketimbang memanfaatkan efek visual komputer CGI di film berongkos 250 juta dolar itu.
Secara sinematografi, The Odyssey tak diragukan lagi. Nolan berhasil membuat para penonton seperti ikut dalam perjalanan Odysseus kendati plotnya beberapa kali dihadirkan maju-mundur. Dalam pekan pertama setelah dirilis sejak 6 Juli 2026, secara global The Odyssey meraup 264,1 juta dolar, melebihi saat Nolan merilis The Dark Knight Rises (2012) maupun Oppenheimer (2023).
Namun bukan Nolan namanya jika tak menghadirkan versinya dalam beragam adaptasi yang ia alih wahanakan. Odysseus pun ia buat seolah-olah mengalami gangguan trauma PTSD tak ubahnya veteran pasca-perang mengerikan lalu menyesal. Jika dalam Oppenheimer tokohnya adalah J. Robert Oppenheimer dengan bom atomnya, dalam The Odyssey karakternya adalah Odysseus dengan Kuda Troyanya.
“Bentuk penceritaan saya adalah, Anda mengambil seorang pahlawan, seperti yang kami lakukan di Oppenheimer, di mana tokohnya punya kelemahan-kelemahan dan kompleksitas. Di film ini, Odysseus orang yang melakukan banyak kesalahan. Yang paling utama adalah kudanya (Kuda Troya, red.). Jadi terdapat semacam kesalahan tragis sedari awal dalam pengisahan kami,” kata Nolan saat diwawancara Time, 24 Juli 2026.

Namun bukan berarti garapan Nolan sempurna dan melulu mengikuti plot Homer. Sebab ada beberapa bab perjalanan Odysseus dalam karya Homer yang tak dimunculkan Nolan dan ada pula yang hanya dirangkum dengan terburu-buru.
Perjalanan pulang Odysseus sendiri, menurut Homer, bermula dari Troya setelah kotanya dihancurkan. Di dunia nyata, para arkeolog dan sejarawan menyatakan titik Troya yang jadi inspirasi Homer adalah Wilusa (kini Hisarlık) di Provinsi Çanakkale, barat laut Türkiye.
Wilusa –atau Ilion dalam lidah orang Yunani– di periode saat Homer menggarap Odyssey, di Zaman Perunggu Akhir (1300-1200 SM), adalah kota benteng penting bagi perdagangan kawasan itu. Ilion merupakan melting pot penting perdagangan maritim oleh berbagai peradaban, seperti Mesir di Lembah Sungai Nil, Het yang mendominasi Anatolia (kini Türkiye), Mycenea di daratan Yunani dan kepulauan-kepulauan di Aegea, Levant (kini Lebanon, Palestina, Suriah, Yordania), Kass di Babilonia, dan Assiria di Mesopotamia.
Sebagai kerajaan vasal bagi Kekaisaran Het di zaman Perunggu Akhir, Wilusa begitu strategis terletak di pesisir Selat Dardanella yang menghubungkan jalur maritim itu. Orang yang pertama menduga titik keberadaan Troya adalah jurnalis cum pakar geologi asal Skotlandia, Charles Maclaren, via disertasinya pada 1822, “Dissertation on the Topography of the Plain of Troy”. Menurutnya, pusat kota-benteng Troya seperti yang diceritakan Homerus adalah pusat kota Wilusa di Bukit Hisarlık.

Ekskavasi di lokasi itu pertamakali dilakukan oleh arkeolog Frank Calvert dan Heinrich Schliemann pada 1871. Mereka menemukan lapisan-lapisan tembok kota sebagaimana yang digambarkan Homer. UNESCO memasukkan sembilan lapisan tembok kota kuno yang telah digali itu sebagai warisan dunia pada 1998 dan situs arkeologinya terbuka untuk wisata publik.
Sedari Troya, perjalanan Odysseus dilanjutkan ke Trakia. Kini wilayahnya terbagi antara tiga negara: Türkiye, Yunani, dan Bulgaria. Jika dalam film Odysseus mengklaim ia mengambil rute berlayar ke selatan, Trakia justru ada di utara Troya. Di Trakia, Odysseus menjarah dan membakar habis desa-desanya serta membantai orang-orangnya. Namun, Nolan tak mendeskripsikan bagaimana dalam karya asli Homer orang-orang Trakia melakukan perlawanan untuk mengusir Odysseus dan pasukannya.
Dari Trakia, kapal-kapal Odysseus diserang badai dan terombang-ambing selama 10 hari hingga mereka terdampar di sebuah pesisir dengan penghuninya orang-orang pemakan teratai. Homer mengisahkan pasukan Odysseus yang memakan buah itu mendapat halusinasi dan melupakan keinginan mereka untuk pulang. Nolan justru menyelipkan soal keajaiban teratai ini selama segmen adegan Odysseus tinggal selama tujuh tahun bersama Calypso. Odysseus yang selama tujuh tahun makan teratai itu enggan pergi dari rayuan Calypso. Homer mengisahkan Dewa Hermes sampai harus membantunya terlepas dari pesona Calypso, kendati lagi-lagi Nolan tak menghadirkan sosok penting Hermes.
Banyak sejarawan dan arkeolog bersepakat, Homer mendapat inspirasi soal tanah para pemakan teratai itu dari Pulau Djerba –di dunia nyata, kini berada di Tunisia. Di pulau itu dan kawasan Afrika Utara, lazim terdapat buah jujube (Ziziphus jujuba) yang mirip kurma. Orang-orang yang mendiaminya adalah orang-orang Fenisia yang punya pos perdagangan di Meninx, sisi tenggara Pulau Djerba. Mereka kadang disebut Lotophagi atau dalam bahasa Yunani “pemakan teratai” karena mereka memang acap menggunakan buah jujube yang difermentasi sebagai bahan makanan-makanan mereka.
Sedangkan Odysseus dan pasukannya bertemu Polyphemus di sebuah pulau vulkanik. Homer mengisahkan Polymphemus adalah kiklops atau raksasa bermata satu yang notabene salah satu anak dewa lautan, Poseidon. Odysseus dan pasukannya membutakan mata Polyphemus sembari mencuri banyak ternak dombanya, membuat Polyphemus marah dan berdoa kepada Dewa Poseidon untuk mengutuk perjalanan pulang Odysseus.

Sastrawan Yunani Euripides maupun penyair Romawi Virgil menyebutkan, kemungkinan Homer terinspirasi sebuah pulau bernama Isolei Ciclopi di timur Gunung Etna di Pulau Sisilia. Selain kecocokan geografisnya, di pulau itu dan beberapa wilayah Mediterania lain sempat ditemukan fosil gajah kurcaci (Palaeoloxodon falconeri).
“Tengkorak-tengkorak gajah kurcaci ditemukan orang-orang Yunani Kuno di pulau-pulau seperti Kreta dan Sisilia. Ukuran tengkoraknya dua kali tengkorak manusia dengan lubang hidung di tengah-tengah tengkoraknya, di mana fosil itu mungkin disalahartikan sebagai tengkorak besar dengan satu mata,” tulis Robert A. Williams dalam Savage Anxieties: The Invention of Western Civilization.
Setelah dihantam badai lagi, Odysseus dan 12 kapalnya terdampar di sebuah pulau yang dihuni Laestrygonians, kanibal raksasa yang merupakan pengikut Laestrygon, putra lain Dewa Poseidon. Sejarawan Yunani Polybius dan sastrawan Romawi Plinius Tua menduga kuat Homer terinspirasi oleh bangsa Lestriconi yang pernah mendiami Gallura di barat laut Pulau Sardinia, Italia.
Setelah beberapa prajuritnya dimangsa para Lestrygonians, Odysseus kabur lagi ke laut. Pelayaran membawanya mendarat di Aeaea, wilayah yang dihuni dewi penyihir Circe yang mengubah banyak anak buahnya menjadi babi ternak. Nolan menceritakan bab ini hanya dalam satu hari. Faktanya, Odysseus setelah terhipnotis tinggal bersama Circe selama satu tahun sampai akhirnya tersadar dan mengancam membunuh Circe jika ia tak mengubah anak buahnya jadi manusia kembali.
Berbagai teori terkemuka yang disampaikan Virgil menyebutkan kandidat terkuat Aeaea berada di Gunung Circeo, pesisir San Felice Circeo, Italia. Meski kemudian sebelum berangkat lagi, Circe memberi peringatan bahwa untuk bisa pulang, Odysseus harus melewati lagi Dunia Bawah, godaan Sirens dengan nyanyian magisnya hingga monster laut Charybdis dan Scylla yang diduga kuat dalam dunia nyata berada di Laut Mediterania dan Selat Messina.
Sial, setelah itu Odysseus kehilangan seluruh anak buahnya. Odysseus sendiri terdampar sendirian di Pulau Ogygia dan diselamatkan Calypso. Sang nimfa atau makhluk magis nan cantik itu dengan pesonanya menahan Odysseus untuk tinggal bersamanya selama tujuh tahun hingga kemudian Hermes harus membujuk Calypso membiarkan Odysseus pulang.

Homer sendiri memberi “petunjuk” tentang bagaimana penggambaran geografis Pulau Ogygia. Dalam Odyssey, Homer menuliskan Pulau Ogygia sebagai “surga dunia yang bahkan dewa-dewi pun akan terhipnotis dengan keindahan dan kenikmatan yang ada”. Banyak pakar menyamakan Pulau Ogygia di dunia nyata berada di Pulau Gozo, Malta. Sedangkan tempat tinggal Calypso menemukan Odysseus setelah terdampar, saat ini ditengarai berada di Pantai Ramla di Pulau Gozo.
Setelah dari Pulau Ogygia, sambung Homer, Odysseus terdampar lagi di Kerajaan Scheria. Raja dan ratu di sanalah yang membantunya pulang. Bahkan, raja dan ratunya memberikan sebuah kapal beserta kru untuk menemani Odysseus pulang. Namun Dewa Poseidon marah sampai menyihir kapal dan kru Scheria menjadi batu. Terlepas dari kisah Homer, para arkeolog bersepakat Scheria berada di Pulau Corfu, Yunani. Dahulu pulaunya bernama Kerkyra yang muasalnya berasal kisah mitos tentang Korkyra, sesosok nimfe cantik yang sempat membuat Dewa Poseidon jatuh hati.
Odysseus akhirnya tiba di rumahnya di Pulau Ithaca. Selama 200 tahun sampai sekarang, beberapa arkeolog dan sejarawan masih menjadikannya perdebatan. Ada yang menyebut istana Odysseus berada di pulau yang saat ini juga disebut Ithaca, ada yang merujuk Pulau Lefkada, dan ada yang menduga Ithaca-nya Homer ada di Paliki di Pulau Cephalonia.
Di Pulau Ithaca sekarang memang sempat ditemukan sebuah koin perunggu yang gambarnya dianggap menyerupai kepala Odysseus, sebuah kompleks bangunan teras kuno di utara pulau itu, dan sebuah tablet tanah liat yang terukir gambar sebuah kapal dengan seseorang terikat di tiang layar. Itu mirip bab adegan Homer di mana Odysseus berupaya melewati godaan maut Sirens dengan mengikat dirinya di tiang layar. Namun kondisi geografis Pulau Ithaca jauh dari penggambaran Homer tentang Ithaca-nya Odysseus. Yang paling mendekati kondisinya adalah Pulau Lefkada atau Pulau Cephalonia.
Namun, bukan hanya itu yang jadi perdebatan. Pasalnya Nolan –yang dikenal dengan plot twist di bayak epilog filmnya– juga memunculkan perdebatan baru. Ia memberi happy ending bagi Odysseus dan Penelope di pengasingan, sementara putranya, Telemachus menjadi suksesornya sebagai Raja Ithaca. Padahal, Homer sekadar memberi ending dalam syairnya itu dengan Dewi Athena memaksa Odysseus menghentikan dendam berantainya membantai para peminang Penelope demi menghindari kemarahan Dewa Zeus.
“Well, itu ada di masa berakhirnya peradaban (Zaman Perunggu Akhir). Epilognya membicarakan tentang sejarah yang cenderung berulang. Bagi saya, penting melihat akhir cerita untuk mencoba dan menampilkan keseimbangan antara pesimisme dan optimisme tentang sejarah yang berulang,” tandas Nolan.
Deskripsi Film
Judul: The Odyssey
Sutradara: Christopher Nolan
Produser: Christopher Nolan, Emma Thomas
Pemain: Matt Damon, Benny Safdie, Anne Hathaway, Robert Pattinson, Charlize Theron, Tom Holland, Lupita Nyong’o, Zendaya, Samantha Morton, Jon Bernthal, Mia Goth, John Leguizamo, Himesh Patel
Produksi: Universal Pictures, Syncopy
Genre: Laga fantasi
Durasi: 173 Menit
Rilis: 6 Juli 2026



















Komentar