top of page

Solo-Madiun 1948

Kekacauan di tengah-tengah suasana revolusi mendorong pemerintah menumpas Sayap Kiri. Reunifikasi PKI kandas di tengah jalan.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Pimpinan PKI yang tertangkap dalam peristiwa Madiun 1948. Dari kiri: Soeripno, Harjono, Amir Sjarifuddin, Maroeto Daroesman. (KITLV).

26 Sep 2025
4 menit membaca

Diperbarui: 23 Mei

SOLO, 31 Agustus 1948. Di alun-alun utara Keraton Surakarta Hadiningrat, Musso menyampaikan orasinya tentang Jalan Baru. Hadir pula Alimin, Amir Sjarifuddin, dan Maruto Darusman. Para pimpinan PKI itu menyerukan agar para kader mempersiapkan Kongres Fusi pada akhir tahun.


Siswoyo, sekretaris SC Surakarta, bertugas sebagai notulis. Dia menyaksikan rapat umum dihadiri puluhan ribu massa. “Bagi sebagian kalangan, rapat umum tersebut tampak seperti show of force PKI,” kenang Siswoyo dalam memoar Siswoyo dalam Pusaran Arus Sejarah Kiri.


Keesokan harinya, Slamet Widjaja (kader PKI OSC Solo) dan Siswo Pardijo (Staf Intel Divisi Panembahan Senopati) diculik pasukan tak dikenal. Teror berlanjut. Lima opsir Senopati yang ditugaskan mengusut penculikan hilang saat menyambangi markas Divisi Siliwangi –yang hijrah dari Jawa Barat guna memenuhi “garis Van Mook” sesuai Perjanjian Renville– di Srambatan, Solo. Ketegangan dua bulan sebelumnya akibat tertembaknya Kolonel Sutarto, komandan Senopati, oleh orang tak dikenal di rumahnya kembali muncul.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page