- 26 Sep 2025
- 4 menit membaca
Diperbarui: 23 Mei
SOLO, 31 Agustus 1948. Di alun-alun utara Keraton Surakarta Hadiningrat, Musso menyampaikan orasinya tentang Jalan Baru. Hadir pula Alimin, Amir Sjarifuddin, dan Maruto Darusman. Para pimpinan PKI itu menyerukan agar para kader mempersiapkan Kongres Fusi pada akhir tahun.
Siswoyo, sekretaris SC Surakarta, bertugas sebagai notulis. Dia menyaksikan rapat umum dihadiri puluhan ribu massa. “Bagi sebagian kalangan, rapat umum tersebut tampak seperti show of force PKI,” kenang Siswoyo dalam memoar Siswoyo dalam Pusaran Arus Sejarah Kiri.
Keesokan harinya, Slamet Widjaja (kader PKI OSC Solo) dan Siswo Pardijo (Staf Intel Divisi Panembahan Senopati) diculik pasukan tak dikenal. Teror berlanjut. Lima opsir Senopati yang ditugaskan mengusut penculikan hilang saat menyambangi markas Divisi Siliwangi –yang hijrah dari Jawa Barat guna memenuhi “garis Van Mook” sesuai Perjanjian Renville– di Srambatan, Solo. Ketegangan dua bulan sebelumnya akibat tertembaknya Kolonel Sutarto, komandan Senopati, oleh orang tak dikenal di rumahnya kembali muncul.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















