- Martin Sitompul

- 25 Jan 2025
- 7 menit membaca
Diperbarui: 2 hari yang lalu
KUTARAJA, Banda Aceh, 19 Desember 1948. Sore itu, di markas Penerangan TRI Divisi X, Gubernur Militer Aceh Tengku Daud Beureuh menerima kawat kilat. Pesan telegram tertulis, “Kita telah diserang.” Tertera nama si pengirim pesan: Panglima Angkatan Perang Indonesia Letnan Jenderal TNI Soedirman. Belanda melancarkan Agresi Militer II.
Akibat agresi itu, ibukota Yogyakarta diduduki tentara Belanda. Sejumlah pemimpin Republik ditahan. Pusat pemerintahan Indonesia di Jawa lumpuh. Radio Belanda, baik Hilversum di negeri Belanda maupun jawatannya di Jakarta dan Medan, gencar memberitakan bahwa Republik Indonesia telah habis. Berita itu tersiar sampai ke Aceh, yang belum berhasil diduduki Belanda.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












