Diperbarui: 11 Sep
DIDI Sumarsidi tampak asyik dengan radio Philips seri Kompas di ruang tamu rumahnya di kawasan Sayidan, Yogyakarta. Dia mendengarkan siaran berita berbahasa Inggris yang dipancarkan stasiun radio Malaysia sembari sesekali menyeruput teh hangat. Dia lalu putar tuning. Terdengar suara kresek-kresek sebelum akhirnya mengudara suara penyiar membawakan berita berbahasa Mandarin. Didi menyimak siaran itu.
Saban hari Didi bermain-main dengan radio kuno. Biasanya sore atau malam hari. Di ruang tamu atau ruang tengah. “Buat orang seusia saya, ini namanya bernostalgia,” ujar Didi Sumarsidi, berusia 64 tahun, yang menjabat ketua komunitas pecinta radio kuno Padmaditya.
Philips seri Kompas adalah satu dari dua koleksi radio kesayangannya. Satu lagi radio Philips seri Gatotkaca yang dilengkapi gramofon untuk menyetel piringan hitam. “Kondisinya prima. Suaranya bagus. Ini yang paling sering saya nyalakan,” katanya. “Keduanya produksi tahun 1950.”
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












