- 16 Jun 2025
- 3 menit membaca
ADA kesepakatan tak tertulis di kalangan wartawan peliput di istana kepresidenan masa Sukarno. Para wartawan dilarang untuk memotret Sukarno dalam keadaan tanpa mengenakan kopiah. Kopiah hitam yang menjadi ciri khas tentu menambah gagah potret Sukarno. Tapi ketika dilepas, maka tampaklah rambut presiden RI pertama itu yang kian menipis.
Namun, Alex Lumi, juru foto Mingguan Ujana, sekali waktu lalai pada kesepakatan tersebut. Pada 1963, di hari wafatnya Perdana Menteri Juanda, Alex datang ke kantor perdana menteri di Jalan Merdeka Selatan (kini menjadi Istana Wakil Presiden) untuk meliput. Di saat yang sama, Sukarno juga datang melayat. Ketika Sukarno menyalami Ny. Juanda, Alex dengan sigap membidikkan kamera dengan lampu kilat yang menyala. Celaka, saat itu Sukarno sedang tidak mengenakan kopiah. Sadarnya dirinya dipotret, Sukarno menoleh dan langsung memanggil Alex.
“Ketika saya melangkah mendekati Bung Karno serasa saya berjalan melayang, tidak menapak di lantai,” ujar Alex seperti dituturkan J. Osdar dalam Bung Karno di Antara Saksi dan Peristiwa suntingan Farrel M. Rizky.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















