top of page

Sukarno: Wartawan Pekerjaan Gawat

Sukarno meminta wartawan agar meningkatkan pengetahuan. Dia menyebut wartawan sebagai pekerjaan gawat.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Presiden Sukarno mengadakan konferensi pers, 1945. (gahetna.nl).

  • 10 Jul 2014
  • 2 menit membaca

ATAS permintaan Mahbub Djunaidi, Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia, Sukarno bersedia mengadakan ramah-tamah dengan para wartawan di Istana Bogor, 20 November 1965. Sukarno mendorong para wartawan agar meningkatkan kemampuannya dengan pengetahuan.


“Wartawan-wartawan Indonesia ini perlu upgrading,” kata Sukarno dalam Revolusi Belum Selesai. “Saya minta kepada semua wartawan-wartawan Indonesia. Banyaklah membaca.”


Selain itu, Sukarno meminta para wartawan agar jangan membuat tulisan yang mendorong bangsa kepada self destruction (kehancuran), “sebagaimana perkataan Toynbee dan Gibbon, a great civilization never goes down unless it destroys itself from within. Satu peradaban besar tidak akan bisa turun, tidak akan bisa tenggelam, kecuali jikalau peradaban itu merusak dirinya sendiri dari dalam, merobek-robek dadanya sendiri dari dalam.”


Sukarno prihatin dengan tulisan-tulisan wartawan belakangan ini yang mengarah ke “self destruction dan berjiwa gontok-gontokan, gebug-gebugan, bakar-bakar semangat…”


“Nah,” kata Sukarno, “saudara sebagai wartawan saudara punya pekerjaan itu sebetulnya gawat sekali. Oleh karena sampai sekarang ini apa yang ditulis di surat kabar dipercaya. Het volk gelooft het (rakyat percaya).”


Sukarno mencontohkan sebuah berita mengenai perempuan hamil oleh ular. “Saya bilang nonsense!” Namun, pembaca yang mempercayainya menyatakan, “Kapanparantos diserat, di serat kabar, kansudah ditulis di surat kabar.”


“Nah, saudara-saudara, inilah kegawatan pekerjaan saudara-saudara,” Sukarno mengingatkan para wartawan: “Jangan sampai saudara-saudara mengeluarkan satu perkataan pun dari tetesan pena sudara yang tidak berisi satu kebenaran. Oleh karena tiap-tiap tetesan pena saudara dipercayai oleh pembaca.”


“Jangan saudara dalam memegang pena itu lebih mengutamakan partai saudara daripada bangsa,” kata Sukarno. Waktu itu, setiap partai besar memiliki corong media. “Saudara sebagai wartawan itu sebetulnya bukan wakil partai, tetapi ialah wartawan daripada bangsa Indonesia. Wartawan daripada Revolusi Indonesia.”


Lebih dari itu, Sukarno sangat mengkhawatirkan dan mengecam wartawan yang menulis berita fitnah. “Tanggungjawab saudara adalah tinggi sekali. Karena itu jangan sampai tulisan saudara itu sebetulnya adalah fitnah.”


Menurut Sukarno, dari segala macam kejahatan, fitnah yang terjahat. Agama apapun tidak membenarkan fitnah. “Moral agama harus kita pegang tinggi, moral agama antara lain melarang, menjaga jangan sampai kita menjalankan fitnah,” kata Sukarno.*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Bukan tanpa alasan Ahmad Subardjo dijuluki “Sang Penjamin Kemerdekaan”. Namun, dia malah absen saat kemerdekaan diproklamasikan Sukarno.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah’s first steps in Batavia led her into the arena of the national movement.
bg-gray.jpg
Setelah kembali ke Indonesia, Ahmad Subardjo menjadi pengacara yang diawasi ketat oleh pemerintah kolonial Belanda. Menepi dari aktivitas politik, Subardjo pergi ke Jepang.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah shared a room with Siti Soendari, the youngest sister of Dr. Soetomo. They had different personalities but complemented each other very well.
Artikel Suwardi sangat menyinggung pemerintah kolonial. Mereka pun langsung mengerahkan polisi untuk memeriksa Suwardi dan rekan-rekan perjuangannya.
Artikel Suwardi sangat menyinggung pemerintah kolonial. Mereka pun langsung mengerahkan polisi untuk memeriksa Suwardi dan rekan-rekan perjuangannya.
Pada 3 Juli 1922, Suwardi mendirikan sebuah perguruan di Yogyakarta untuk anak-anak bumiputera bernama Taman Siswa.
Pada 3 Juli 1922, Suwardi mendirikan sebuah perguruan di Yogyakarta untuk anak-anak bumiputera bernama Taman Siswa.
 Juri memilih Historia sebagai media partner yang paling inovatif dalam menyajikan konten sejarah populer
Juri memilih Historia sebagai media partner yang paling inovatif dalam menyajikan konten sejarah populer
Tingkat dan perubahan populasi permukiman kuno bisa diteliti lewat ekstrak tinja manusia dan hewan.
Tingkat dan perubahan populasi permukiman kuno bisa diteliti lewat ekstrak tinja manusia dan hewan.
Koboi sebermula seorang penunggang kuda penggembala ternak. Berubah jadi sosok heroik dan dibanggakan oleh pemuda revolusi di Surabaya.
Koboi sebermula seorang penunggang kuda penggembala ternak. Berubah jadi sosok heroik dan dibanggakan oleh pemuda revolusi di Surabaya.
Kelompok antidemokrasi membubarkan pertemuan para penyintas 1965 yang akan mengikuti simposium nasional yang bakal diselenggarakan pemerintah.
Kelompok antidemokrasi membubarkan pertemuan para penyintas 1965 yang akan mengikuti simposium nasional yang bakal diselenggarakan pemerintah.
transparant.png
bottom of page