top of page

Sukarno dan Majalah Playboy

Sukarno meminta majalah Playboy kepada Marshall Green. Dubes Amerika Serikat itu takut dijebak.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Presiden Sukarno dan Duta Besar Amerika Serikat, Marshall Green (kiri). (AP/World Wide Photos).

18 Feb 2017
1 menit membaca

PADA 26 Juli 1965, Marshall Green menyerahkan surat kepercayaan sebagai Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia kepada Presiden Sukarno di Istana Merdeka Jakarta.

Dia mendapatkan kesempatan lagi bertemu dengan Sukarno pada akhir Agustus 1965. Mereka membahas hubungan Indonesia-Amerika Serikat, namun tak menemukan landasan baru.


Sebelum berpisah, Sukarno berbisik bahwa dia menyukai ulasan film dan sandiwara dalam majalah Playboy dan akan berterima kasih jika Green bisa menyelundupkan majalah tersebut secara rahasia untuknya.


Green tersedak tapi menampakkan kesan berusaha memenuhi permintaan itu. Dia juga tak melaporkannya ke Kementerian Luar Negeri. Lalu istrinya, yang sedang berkunjung ke Amerika Serikat, mengiriminya Playboy melalui kantong diplomatik. Tapi khawatir ini jebakan, Green hanya menyimpan majalah dewasa tersebut.


"Saya segera sadar bahwa ini mungkin sebuah jebakan. Pasti Sukarno punya cara yang lebih mudah untuk mendapatkan majalah itu," pikir Green.


Enam bulan kemudian, ketika kedutaan Amerika Serikat dalam ancaman kepungan massa anti-Amerika Serikat, “majalah ini justru paling tahan api di antara semua berkas saya yang dibakar,” kata Green dalam memoarnya, Dari Sukarno ke Soeharto.*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
transparant.png
bottom of page