top of page

Surabaya dan Sepakbolanya

Tak sama dengan kota-kota lain, sejarah sepakbola Surabaya cukup unik. Sarat persilangan kultur dan sengkarut politis tapi tetap harmonis.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Tim SIVB (Soerabajasche Indonesische Voetbalbond) yang kelak menjadi Persebaya Surabaya (Repro Soerabajasch Handelsblad 22 Mei 1936).

29 Sep 2018
3 menit membaca

SIAPA bilang Thor, tokoh fiksi pahlawan super kepunyaan Marvel Universe yang katanya leluhur bangsa Viking, hanya ada di Amerika Serikat. Di Surabaya juga ada. Warisannya kini tersisa hanya sebidang lapangan dan stadion di Jalan Patmosusastro, Wonokromo. Pemugarannya diresmikan Walikota Tri Rismaharini pada 12 Oktober 2017.


Namun, Thor di Surabaya bukan superhero Thor di franchise Avengers. Thor di Surabaya merupakan nama klub sepakbola zaman Hindia Belanda yang ikut membentuk Surabaya jadi kota sepakbola.


Seperti Jakarta dan Bandung, Surabaya di masa kolonial populasinya juga terkotak-kotak berdasarkan ras sejak 1855: Eropa, Timur Asing (Arab, Tionghoa), dan yang terendah bumiputera. Sekat rasial itu juga masuk ke dalam olahraga, terutama sepakbola, yang dibawa orang Eropa ke Nusantara sejak akhir abad ke-19.


“Di Surabaya, klub pertamanya juga didirikan pemuda HBS (Hoogere Burger School) John Edgar dengan klub Victoria tahun 1895. Kemudian berkembang lagi ada SIOD (Scorens In Ons Doel), Sparta, Rapiditas, dan Thor (Thot Heil Onzer Ribben). Ini yang menjadi cikal bakal persepakbolaan di Surabaya,” ujar pengamat olahraga Rojil Nugroho Bayu Aji saat ditemui Historia di Universitas Airlangga, Surabaya.


Klub-klub itu lantas bernaung di bawah Oost Java Voetbalbond (OJVB) pada 1907. Dua tahun berselang OJVB berganti jadi Soerabajasche Voetbalbond (SVB). Mulai 1914, SVB berinduk pada Nederlandsch Indische Voetbalbond (NIVB) seiring berdirinya federasi sepakbola bikinan Belanda itu.


Seakan tak mau kalah dari orang kulit putih, orang Tionghoa dan Bumiputera pun mendirikan klub masing-masing. Oei Kwie Liem mendirikan klub Tiong Hoa Soerabaja pada 1914, sementara kaum Bumiputera lewat R Pamoedji dan Paidjo mendirikan Soerabajasche Indonesische Voetbalbond (SIVB) pada 18 Juni 1927 (kini Persebaya), yang tiga tahun kemudian ikut mendirikan PSSI.


“Klub Tiong Hoa Soerabaja ini pesat perkembangannya karena mereka juga punya (sokongan) POR (Perkoempoelan Olah Raga) yang membawahi banyak cabang olahraga, termasuk sepakbola. Walau akhirnya kemudian mereka ikut kompetisi di bawah SVB,” lanjut penulis buku Tionghoa Surabaya dalam Sepakbola dan Mewarisi Sepakbola, Budaya dan Kebangsaan Indonesia itu.


Di Surabaya lantas muncul satu “poros” kekuatan sepakbola lagi, yakni Soerabajasche Kantoor Voetbalbond (SKVB). Pada 1950, SKVB meleburkan diri ke Persebaya.


“Ketika sudah terbentuk dua kutub, SIVB dan SVB, di tengah-tengah ini muncul SKVB. Isinya tim-tim kecil dari perkumpulan orang-orang kantoran di Surabaya (SV Douane, SV Factorij, SV Handelsbank, SV Internatio, SV Marine Kazerne Goebeng). Diinisiasikan oleh Radjamin Nasution, seorang dokter, pegawai bea cukai yang di kemudian hari jadi walikota Surabaya di tiga zaman (Belanda, Jepang, dan Indonesia). Beliau juga anggota Volksraad (wakil rakyat) Bumiputera pertama di Surabaya,” ujar Dhion Prasetya, peneliti sejarah Persebaya dan penulis Persebaya and Them, kepada Historia ketika ditemui di Surabaya.


Saling Bersanding


Hadirnya SVB dan SIVB sebagai dua kutub persepakbolaan Surabaya menjadi eksponen dari rivalitas PSSI-NIVB di berbagai kota. Uniknya, di Surabaya SVB dan SIVB malah akur. Beberapa kali pernah ada saling tukar atau pinjam pemain, baik saat SVB ikut kompetisi antarkota Stredenwedstrijden maupun kala SIVB bertarung di kompetisi Perserikatan.


“Kalau di kota-kota lain kan perlawanannya vis-à-vis. Tidak mau saling bertemu, saling berkonfrontasi. Tapi di Surabaya justru sering berbagi lapangan, sering sparring, terlepas mereka punya kompetisi masing-masing. Tentunya untuk menunjukkan siapa yang terbaik,” sambung Rojil.



Namun, lanjut dosen Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Surabaya (Unesa) tersebut, SIVB tetap mampu mengembangkan nasionalisme lewat sepakbola. “Artinya dari dulu kultur sepakbola di Surabaya tidak sama dengan di Jakarta atau Bandung. Di Surabaya, mereka (SIVB dan SVB) bisa bertanding dan bersanding dengan fair,” tambah Rojil.


Zaman Jepang hingga Sekarang


Seiring berkuasanya Jepang, olahraga, terutama sepakbola nyaris vakum. “Masa paling suram dalam sepakbola, tak hanya di Surabaya tapi di seluruh Indonesia. Olahraga hanya dikerucutkan melalui satu pintu, Tai Ku Kai. Masa yang paling susah menggelar olahraga untuk hiburan rakyat. Olahraga hanya untuk kepentingan perang. Kalaupun ada pertandingan, tapi tidak reguler seperti sebelumnya,” sambung Rojil.


Kelumpuhan sepakbola mulai sedikit terobati di era Perang Kemerdekaan. “Lebih diprioritaskan untuk dijadikan tim PON (Pekan Olahraga Nasional) 1948 di Solo. Para pemain dari berbagai klub di Surabaya diseleksi untuk dijadikan tim PON mewakili Surabaya. Kompetisi reguler baru kembali digulirkan setelah Kongres PSSI di Semarang 1950 usai perang,” lanjutnya.


Tim-tim Tionghoa dan Belanda lalu meleburkan diri ke dalam SIVB, yang kini menjadi Persebaya Surabaya, untuk bertarung di Perserikatan. Ketika Liga Sepakbola Utama (Galatama) muncul tahun 1979, tim-tim baru asal Surabaya bermunculan. Selain NIAC Mitra (berubah menjadi Mitra Surabaya), yang besar adalah Assyabaab Salim Grup Surabaya (ASGS, berdiri 1948, ikut Galatama 1991).


Assyabaab mulai menghilang setelah Liga Indonesia 1996-1997. Sementara NIAC Mitra pindah “rumah” ke Palangkaraya pada 1999 dan menjadi Mitra Kalteng Putra. Dua tahun berselang, dibeli PT Kutai Kartanegara Sport Mandiri dan berubah nama jadi Mitra Kukar hingga sekarang.


“Padahal dulu NIAC Mitra cukup punya pendukung banyak, meski ceritanya agak beda dengan ASGS yang tidak begitu didukung arek-arek Suroboyo. Ya pendukungnya Persebaya juga. Kan dua tim ini main di kompetisi berbeda (Perserikatan dan Galatama). Misal minggu ini masyarakat dukung Persebaya, minggu depan dukung NIAC. Ya ganti-ganti dukungan tim begitu,” tandas Dhion.



Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Jauh di pedalaman hutan Papua yang terisolasi, sejumlah warga Lampung turut menjalani hidup sebagai tahanan politik. Salah satunya adalah Sjahmin Pandjinegara.
bg-gray.jpg
PKI memiliki tradisi intelektual yang kuat. Membawa gagasan ke tengah masyarakat melalui pendidikan dan pemberantasan buta huruf. Hasilnya menjadi salah satu partai terbesar.
bg-gray.jpg
Selama tiga dekade tinggal di Uni Soviet, Semaoen menggeluti berbagai profesi: penyiar radio, penerjemah, dosen, hingga wakil perdana menteri.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
Sebuah pameran yang tak semata untuk merespon kondisi kekinian, tapi juga untuk menghidupkan sekaligus mengabadikan Balai Budaya selaku tempat bersejarah dalam dunia seni-budaya bangsa.
Sebuah pameran yang tak semata untuk merespon kondisi kekinian, tapi juga untuk menghidupkan sekaligus mengabadikan Balai Budaya selaku tempat bersejarah dalam dunia seni-budaya bangsa.
Peristiwa Stonewall secara radikal mengubah persepsi tentang kaum homoseksual di Amerika dan di seluruh dunia.
Peristiwa Stonewall secara radikal mengubah persepsi tentang kaum homoseksual di Amerika dan di seluruh dunia.
Mahkamah rakyat bukan barang baru, baik di isu-isu internasional maupun Indonesia. Wacananya muncul lagi sebagai alternatif pengungkapan kebenaran.
Mahkamah rakyat bukan barang baru, baik di isu-isu internasional maupun Indonesia. Wacananya muncul lagi sebagai alternatif pengungkapan kebenaran.
Koleksi jersey berharga milik legenda basket Ary Sudarsono dilelang atas nama kepedulian terhadap penanggulangan pandemi corona.
Koleksi jersey berharga milik legenda basket Ary Sudarsono dilelang atas nama kepedulian terhadap penanggulangan pandemi corona.
Karakter istana dari visinya sebagai ruang budaya berubah drastis pada masa Orde Baru.
Karakter istana dari visinya sebagai ruang budaya berubah drastis pada masa Orde Baru.
Demi mendapat foto Presiden Sukarno dan Perdana Menteri Zhou Enlai, dua wartawan asal Amerika Serikat dan Tiongkok nyaris baku hantam.
Demi mendapat foto Presiden Sukarno dan Perdana Menteri Zhou Enlai, dua wartawan asal Amerika Serikat dan Tiongkok nyaris baku hantam.
transparant.png
bottom of page