top of page

Para Pionir Timnas Sepakbola Indonesia

Kisah generasi pertama Timnas Indonesia. Jauh dari hingar bingar publisitas dan fasilitas mewah, mereka berlaga di lapangan hijau demi mengharumkan nama Indonesia.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Toni Pogacnik, pelatih Timnas Indonesia (berpeci, paling kiri), mendampingi pemain Timnas Indonesia sebelum menghadapi salah satu tim Uni Soviet dalam agenda Tur Eropa Timur 1956. Di antara pemain tampak Aang Witarsa, Maulwi Saelan, dan Kiat Sek. (Koleksi MemoriOlahraga).

37 menit yang lalu
4 menit membaca

NAMA Maulwi Saelan lebih dikenal sebagai perwira militer yang menjabat wakil komandan Resimen Tjakrabirawa, pasukan pengawal Presiden Sukarno. Namun, tak banyak yang tahu bahwa Saelan adalah kiper Tim Nasional (Timnas) sepakbola Indonesia. Bahkan, Saelan menjadi penjaga gawang merangkap kapten saat Indonesia berhasil menahan imbang Uni Soviet 0-0 dalam Olimpiade 1956 di Melbourne, Australia. Saat itu, Uni Soviet diperkuat Lev Yashin, kiper berjuluk “laba-laba hitam” yang kelak meraih predikat pemain terbaik dunia Ballon d’Or 1963.


Kiprah Maulwi Saelan dalam Timnas Indonesia diulas dalam buku Para Pionir: Sepak Terjang Tim Nasional Indonesia 1951–1960 karya jurnalis Dimas Wahyu Indrajaya dan Aulli Reza Atmam. Tak hanya Saelan, buku ini juga merekam kisah para pemain lain yang menjadi generasi pertama Timnas Indonesia di bawah Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), induk organisasi sepakbola Indonesia. Sebelum menjadi pemain bola, mereka berasal dari berbagai macam latar belakang.


“Ada kapten kita di tim nasional periode 1951–1956 itu namanya Kapten Sidi. Dia itu tentara dari Solo. Letnan Sidi pernah terlibat dalam penumpasan PKI Madiun 1948 dan terlibat dalam penumpasan Kahar Muzakkar. Ada pedagang seperti Tan Liong Hau, yang beberapa bulan lalu meninggal dunia. Kiat Sek, seorang dokter gigi lulusan Universitas Trisakti. Posisinya dulu [istilahnya] spill kalau sekarang itu anchor, gelandang bertahan,” terang Dimas dalam diskusi bukunya di Museum Naskah Proklamasi, Jakarta Pusat (21/10).


Jauh dari konsep profesionalisme seperti sekarang, menurut Dimas, pemain Timnas Indonesia saat itu masih amatir karena sepakbola belum menjadi profesi resmi. Maka, tak heran banyak pemain timnas di luar lapangan masih menekuni berbagai macam profesi. Selain tentara dan pedagang, ada juga guru seperti Aang Witarsa. Di dalam lapangan, Aang Witarsa, pemain klub Persib berjuluk “Si Kuda Terbang”, bermain di posisi striker, tetapi di luar lapangan dia guru pendidikan jasmani di Bandung.


“Kalau di lapangan mereka bermain sepakbola dengan rasa kecintaan. Saya dulu suka lihat dokumentasi Saelan, dia pernah bilang, ‘kami membela Indonesia karena kami cinta Indonesia, enggak ada uang atau materi di situ’. Saya dulu merasa itu adalah sebuah glorifikasi saja. Tapi, setelah saya tahu apa itu perbedaan amatirisme dan profesionalisme, di situlah letak romantismenya. Itu yang membuat saya jadi lebih mendalam untuk meneliti Timnas Indonesia periode 1950-an,” kata Dimas.


Peluncuran dan diskusi buku Para Pionir: Sepak Terjang Tim Nasional Indonesia 1951–1960 di Museum Naskah Proklamasi, Jakarta Pusat. (Martin Sitompul/Historia.ID).
Peluncuran dan diskusi buku Para Pionir: Sepak Terjang Tim Nasional Indonesia 1951–1960 di Museum Naskah Proklamasi, Jakarta Pusat. (Martin Sitompul/Historia.ID).

Sementara itu, menurut Aulli, dari sumber sejarah seperti arsip dan berita sezaman banyak ditemukan cerita-cerita inspiratif, menarik, seru, bahkan aneh, tentang sepakbola Indonesia di masa silam. Sayangnya, tumpukan arsip-arsip itu tak banyak digali karena belum banyaknya peminat sejarah olahraga. Walhasil, harta karun bahan riset itu tersimpan di pojokan Perpustakaan Nasional.


“Mungkin entah sudah berapa tahun di situ. Nah, awalnya kita mempublikasikannya di media sosial. Terus kemudian kita ingin take it to next level, kita mau bikin buku. Akhirnya terjadilah proses pembuatan buku ini yang memakan waktu cukup lama bagi kami,” aku Aulli.


Kendati cikal bakal PSSI sudah eksis sejak 1930, buku ini mengawali tahun 1951 sebagai tonggak pembuka. Sementara itu, Timnas Hindia Belanda yang ikut serta dalam Piala Dunia 1938 di Prancis tak bisa dikatakan sebagai Timnas Indonesia. Alih-alih PSSI, Timnas Hindia Belanda 1938 mewakili Nederlandsch-Indische Voetbal Unie (NIVU) yang dibentuk orang-orang Belanda. Tak ada panji-panji Merah-Putih. Para pemain Hindia Belanda mengenakan seragam oranye, karena mewakili negara koloni Belanda, yaitu Hindia Belanda.


Setelah pengakuan kedaulatan pada 1949, Indonesia mulai mapan sebagai negara merdeka. Agenda Asian Games 1951 mengharuskan Indonesia mempersiapkan timnas sepakbola sebagai peserta. Inilah awal mula terbentuknya Timnas Indonesia.


Pada Februari 1951, Timnas Indonesia untuk kali pertama bermain di depan publik melawan perkumpulan sepakbola Sino-Malaya dari Singapura. Laga ini dipersiapkan untuk menatap Asian Games 1951. Memasuki paruh kedua tahun 1950, Timnas Indonesia semakin berkembang setelah mendatangkan pelatih asing berkebangsaan Yugoslavia, Toni Pogacnik. Namun, memasuki periode tahun 1960, prestasi Timnas Indonesia mulai merosot seiring hengkangnya Pogacnik.


“Dari Asian Games 1951, kita baru main langsung kalah sama India. Terus main lagi Asian Games 1954 di Manila, [prestasi] kita lebih baik daripada Asian Games 1951. Di Asian Games 1958 [di Tokyo], kita setop di semifinal dan meraih medali perunggu. Jadi, grafik pencapaiannya menanjak. Apalagi dua tahun sebelumnya di Olimpiade 1956, kita mencatatkan prestasi –meski enggak juara– tapi bisa mengimbangi Uni Soviet. Kiper kita Maulwi Saelan sedangkan Soviet punya kiper terbaik dunia Lev Yashin,” jelas Dimas.


Tak hanya berita nasional, keberhasilan Indonesia menahan Soviet di Olimpiade 1956 jadi sorotan dunia. Saat itu, Uni Soviet termasuk skuad sepakbola terkuat dunia. Suratkabar seperti Last Tampa di Italia dan Liverpool Echo di Inggris turut mewartakan.


“Koran Australia sudah tentu memberitakan juga dengan judulnya ‘Ten Iron Man Held The Goal’ (Sepuluh pria tangguh mempertahankan gawang). Jadi, katanya Timnas Indonesia main ultra-defence yang misalnya di zaman sekarang ala Jose Mourinho, strategi parkir bis,” sambung Dimas.


Selain menggali kisah para pemain, pertandingan-pertandingan bersejarah, buku ini juga mengulas sosok penting di luar lapangan yang turut mendukung Timnas Indonesia. Seperti Presiden Sukarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta, dan Sri Sultan Hamengkubuwono IX sebagai ketua Komite Olimpiade Indonesia.


Aulli menuturkan, pada salah satu pertandingan timnas, Presiden Sukarno datang ke Stadion BVC di Gambir, untuk menonton bersama putrinya, Megawati. “Jadi, Ibu Megawati itu sebenarnya turut berjasa pada masa awal sepakbola Indonesia sebagai suporter,” ujarnya.


Aulli menambahkan, dalam generasi pertama Timnas Indonesia, ada pemain yang berasal dari Sumatra, Jawa, sampai Sulawesi. Namun, pada masa itu tidak dikenal ego kedaerahan. Ketika main buat Timnas Indonesia, mereka main maksimal. Meski kalah teknik dari timnas negara lain, tetapi para pemain Timnas Indonesia tidak kalah semangat juang.


“Nah, dari situlah kita harus mengambil pelajaran supaya jangan kalah sama orang-orang zaman dulu,” tutup Aulli. “Kalau yang saya resapi terkait buku ini adalah dengan belajar dari pendahulu kita, kita bisa belajar untuk berusaha lebih baik dari mereka.”*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Pengalaman dan usianya membuat Gatot Soebroto acap jadi tempat mengadu para perwira. Namanya tetap abadi di banyak tempat, mulai jalan-jalan protokol hingga RSPAD.
bg-gray.jpg
Kasus perdagangan anak di daerah transmigrasi Rawa Makmur, Kalimantan Timur ungkap kemiskinan ekstrem yang menjerat kehidupan para transmigran. Praktik korupsi aparat disinyalir biang keladinya.
bg-gray.jpg
Panglima tempur yang memadamkan gejolak di berbagai daerah. Menggagas banyak hal penting setelah aktif lagi di Angkatan Darat.
bg-gray.jpg
Sebagai gubernur militer, Gatot Soebroto berperan dalam penumpasan pemberontakan PKI di Madiun. Dia disebut turut bertanggung jawab atas eksekusi mati Amir Sjarifoeddin cs.
Kisah generasi pertama Timnas Indonesia. Jauh dari hingar bingar publisitas dan fasilitas mewah, mereka berlaga di lapangan hijau demi mengharumkan nama Indonesia.
Kisah generasi pertama Timnas Indonesia. Jauh dari hingar bingar publisitas dan fasilitas mewah, mereka berlaga di lapangan hijau demi mengharumkan nama Indonesia.
Di tengah pandemi orang berharap vaksin menjadi solusi. Bagaimana ketika dahulu vaksin belum dikenal?
Di tengah pandemi orang berharap vaksin menjadi solusi. Bagaimana ketika dahulu vaksin belum dikenal?
Beragam cara diambil untuk mengakali atmosfer stadion tanpa “pemain keduabelas”. Dari mural kontroversial hingga boneka seks.
Beragam cara diambil untuk mengakali atmosfer stadion tanpa “pemain keduabelas”. Dari mural kontroversial hingga boneka seks.
Perempuan yang tak lelah memperjuangkan nasib sesamanya.
Perempuan yang tak lelah memperjuangkan nasib sesamanya.
Tak hanya mengerahkan satu regu POM ABRI, Manila merekrut seorang pemain untuk dijadikan“informan” khusus guna mengusir hantu suap.
Tak hanya mengerahkan satu regu POM ABRI, Manila merekrut seorang pemain untuk dijadikan“informan” khusus guna mengusir hantu suap.
Rumah komunal di Sulawesi hanya bertahan dalam ingatan.
Rumah komunal di Sulawesi hanya bertahan dalam ingatan.
transparant.png
bottom of page