BERKIBARNYA bendera finis Formula One (F1) Grand Prix Mexico, Minggu (1/11/2026) waktu setempat menabalkan Kimi Antonelli sebagai pemenang ketiga di belakang Lewis Hamilton (Ferrari) dan Max Verstappen (Red Bull). Pembalap muda Italia dari tim Mercedes itu pun punya modal untuk merebut gelar juara F1 musim 2026.
“Pada akhirnya (Alberto) Ascari punya penerusnya. Kimi Antonelli adalah juara dunia Formula One. Antonelli memenangkan segalanya. Penantian Italia selama 73 tahun sudah berakhir. Kini daftar namanya bisa dibaca: (Giuseppe) Farina, Ascari, dan Antonelli,” ujar komentator race pasca-balapan.
Dari rekaman dashboard mobilnya, tampak tangis Antonelli pecah, seakan tak percaya. Sebanyak 15 poin yang ia raih dari finis ketiga itu cukup membuatnya juara dengan masih empat race tersisa musim ini. Sejarah baru ia torehkan pula di mana dirinya jadi juara termuda di usia 20 tahun dan 68 hari, menggeser rekor sebelumnya yang ditorehkan Sebastian Vettel di F1 musim 2010 (23 tahun, 134 hari).
Antonelli sejatinya masih terbilang “hijau” di F1. Anak muda kelahiran Bologna, 25 Agustus 2006 itu resmi jadi pembalap tim Mercedes mulai musim 2025 menggantikan Hamilton yang pindah ke tim Scuderia Ferrari. Antonelli mulanya hanya dianggap pembalap kedua karena ekspektasi besar digantungkan Mercedes pada rekan senior Antonelli, George Russell.
Di musim 2025, Antonelli hanya finis urutan ketujuh klasemen dengan hanya tiga kali naik podium. Namun di musim ini, Antonelli membuktikan dirinya layak diperhitungkan. Dari 19 race yang sudah dijalani, 16 kali ia naik podium dengan sembilan di antaranya menang balapan.

Dua rivalnya yang lebih senior, Vestappen dan Hamilton, dengan sportif mengakui kehebatan anak muda yang “berbahaya” itu. Mereka juga berkenan menyanggupi permintaan foto selebrasi dengan Antonelli diusung bahu mereka di podium kemenangan.
“Saya pikir bisa mencapai hal ini di tahun kedua di F1 sangatlah mengesankan. Karena, tentu saja, usianya, harus menjadi solid, tidak berbuat kesalahan, dan tentu saja, mengalahkan rekan setim yang lebih berpengalaman, ia balapan dengan luar biasa. Saya sangat bangga padanya, (tentang) bagaimana ia menguasai dirinya di musim ini. Dia pantas jadi juara tahun ini,” kata Verstappen di laman resmi F1, Senin (2/11/2026).
Hamilton –yang tujuh kali juara dunia F1– menimpali. “Sungguh luar biasa berada di podium bersama dua pembalap ini dan hadir saat Kimi meraih gelar juara dunia pertamanya. Saya rasa ini momen yang sangat istimewa, salah satu momen paling spesial yang pernah saya alami selama ini,” ujarnya.
Sejak F1 pertamakali digelar pada 1950, sudah banyak pembalap berdarah Italia yang jadi kampiunnya. Namun hanya sedikit dari mereka yang ketika juara membawa bendera Italia. Juan Manuel Fangio, sang juara dunia lima kali (1951, 1954-1957), membawa bendera Argentina; Mario Andretti (1961, 1968) dengan bendera Amerika Serikat; sedangkan Emerson Fittipaldi (1972, 1974) dan Ayrton Senna (1988, 1990-1991) mengusung bendera Brasil.
Antonelli pun jadi pemecah penantian panjang Italia. Bendera Italia yang dibawanya menyambung kibaran bendera yang terakhir dikibarkan Farina (1950) dan Ascari (1952-1953) 73 tahun lalu.

Giuseppe Farina
Emilio Giuseppe Farina lahir dan bertumbuh di keluarga yang bergelut di industri otomotif dengan perusahaan Stabilimenti Farina. Sejak kecil Farina sudah mengenal seluk-beluk mobil balap sekaligus doyan balapan. Saat F1 menggelar balapan perdananya pada 13 Mei 1950, Farina turut terjun ke gelanggangnya bersama tim Alfa Romeo.
“Ada lebih banyak hal tentang Dr. Giuseppe Farina dari sekadar catatan statistik yang rapi yang kemudian memenangkan balapan pertama F1 di Silverstone pada Mei 1950 dan kemudian jadi juara dunia pertama. Lahir di Turin pada (30 Oktober, red.) 1906, ia juga sebelumnya pengacara, seorang doktor dalam ekonomi politik dan perwira kavaleri di Angkatan Darat Italia. Seorang atlet ski yang mumpuni, juga pesepakbola dan penunggang kuda di sela jadi pembalap mobil,” tulis Maurice Hamilton dalam Formula One: The Champions, 70 Years of Legendary F1 Drivers.
Di balapan perdana F1 di Sirkuit Silverstone, Farina dengan mobil Alfa Romeo 158 mendominasi sejak sesi kualifikasi hingga balapan. Pada sesi balapan, Farina memimpin selama 63 dari total 70 lap. Catatan lap tercepatnya 1 menit 50,6 detik. Pada akhirnya, Silverstone jadi saksi bagaimana Farina memimpin dua rekan setimnya, Luigi Fagioli dan Reg Parnell, untuk finis urutan pertama, kedua, dan ketiga.
“Giuseppe ‘Nino’ Farina memperlihatkan balapan presisi yang masterclass. Pembalap Italia itu mengamankan pole position, memimpin hampir setiap lap, dan mencetak lap tercepat sekaligus memimpin kemenangan dengan mobil Alfa Romeo 158. Performanya yang textbook menetapkan benchmark untuk standar F1,” ungkap Peter Nouwens dalam 75 Years of the Podium: The 1950’s.
Sepanjang musim 1950 dengan tujuh grand prix, Farina tiga kali memenangi balapan. Selain di Silverstone, ia juga finis pertama di GP Swiss dan GP Italia. Rekan setimnya, Fangio, juga tiga kali menang: di Monaco, Belgia, dan Prancis. Namun Farinalah yang keluar sebagai juara dunia dengan 30 poin atau selisih tiga angka dari Fangio.
Di F1 musim 1952, Farina harus puas hanya jadi runner-up karena gelar juara dunia direbut pembalap Italia lain, Alberto Ascari. Farina terakhir kali tampil di gelanggang F1 pada 1956, sebelum pindah pentas Indianapolis 500 tahun berikutnya. Ia berhenti total dari dunia balap pada 1957 akibat ngeri akan kematian rekan setimnya, Keith Andrews.
Setelah menyingkir dari dunia balap, Farina jadi pebisnis. Ia distributor mobil-mobil Alfa Romeo dan Jaguar, lantas pindah ke pabrik otomotif milik kerabatnya, Pininfarina. Farina wafat akibat kecelakaan tunggal setelah mobil Lotus Cortina yang dikendarainya menabrak tiang telegraf di Aiguebelle, Prancis, pada 30 Juni 1966.

Alberto Ascari
Sosok kelahiran Milan, 13 Juli 1918 ini mulanya adalah pembalap motor lantaran memang tumbuh di keluarga pembalap. Ayahnya, Antonio Ascari, adalah salah satu pembalap mobil jempolan Italia di era 1920-an.
Ascari kecil sering bolos sekolah demi gairahnya dalam balapan. Ia memulainya dengan balapan motor, di saat berusia 19 tahun mengikuti berbagai event balap bersama tim Bianchi. Kematian ayahnya di lintasan balap saat ia kecil tak menghilangkan gairahnya akan balapan.
“Saya hanya patuh pada satu passion, balapan. Saya tidak tahu bagaimana kehidupan saya tanpanya,” kata Ascari dalam sebuah wawancara di tahun 1940, dikutip Peter Grimsdale dalam Superveloce: How Italian Cars Conquered the World.
Pada 1940 itu pula Ascari beralih ke balapan mobil. Bermodal mobil Auto Avio Costruzioni 815, mobil pertama yang sepenuhnya didesain Enzo Ferrari –merupakan kawan baik mendiang ayahnya, Ascari mendapatkan mobil itu sebagai hadiah untuk masuk kancah balapan sohor Italia saat itu, Mille Miglia.
Sewaktu Perang Dunia II (1939-1946), Ascari absen dari dunia balap. Bersama sahabatnya, Luigi Villoresi, dia mendirikan perusahaan angkutan maritim untuk menyuplai bahan bakar ke depot-depot militer Italia di Afrika Utara.
Pasca-perang, Ascari kembali mengaspal di sirkuit pada berbagai ajang. Ketika F1 pertamakali dihelat pada 1950, ia pun turut terjun. Ia dipercaya jadi salah satu pembalap di tim Scuderia Ferrari mengendarai tiga versi mobil di musim itu, Ferrari 125, Ferrari 275, dan Ferrari 375. Tahun 1950 masih jadi tahunnya Farina, meski Ascari menunjukkan potensinya ketika bersaing GP Italia.
“Saat race usai, Farina yang diunggulkan trek kandang ditambah performa sempurna mengamankan kemenangan, terlepas dari kejaran Ascari yang pantang menyerah. Publik Italia bergemuruh merayakan kemenangan Farina. GP Italia 1950 adalah adu kegigihan, kecepatan, dan strategi yang berkelas, diakhiri dengan kemenangan dramatis Farina dan secercah masa depan Ascari yang cerah,” sambung Nouwens.
Di musim perdana itu, Ascari hanya finis klasemen akhir urutan kelima. Namun, musim berikutnya Ascari mulai unjuk gigi dengan jadi runner-up. Ascari kalah enam angka dari Fangio yang keluar sebagai juara dunia.
Dua musim berikutnya berturut-turut, gelanggang F1 sudah jadi milik Ascari. Pada 1952, Ascari menang lima kali dalam delapan sesi balap sekaligus memetik gelar juara dunia pertamanya usai bersaing ketat dengan Farina. Sedangkan di musim 1953, Ascari bersaing ketat dengan Fangio dan Farina. Dia lima kali menang dari total sembilan seri balapan.
“Alberto Ascari tak terhentikan. Ia acap memimpin dari barisan terdepan dengan perpaduan sempurna antara agresi dan kontrol. Mobil Ferrarinya meliuk-liuk di tikungan, tenang menghadapi kecepatan dan tekanan. Meskipun terjadi tensi di antara tiga pembalap topnya. Kemenangan milik Ascari namun internal hierarki Ferrari sama sekali tak membuat tenang,” imbuhnya.
Pada musim 1954, Ascari pindah ke tim Lancia. Sebuah keputusan yang buruk karena mobilnya sukar dikendarai sehingga membuatnya sulit bersaing dengan Fangio. Sial baginya, pada 1955 tim Lancia batal tampil di F1. Ascari pun pindah ke kancah Gran Premio Supercortemaggiore dengan mobil Ferrari 750 Monza. Ia berekanan dengan Eugenio Castellotti.
Pada 26 Mei 1955, Ascari mulanya hanya menyaksikan Castellotti melakoni tes mobil itu di Sirkuit Autodromo Nazionale Monza. Namun, Ascari ingin menjajalnya juga untuk beberapa lap. Ketika tengah melewati tikungan cepat di lap ketiga, mobilnya tergelincir dan terpental ke udara sebelum mengantam aspal. Ascari tewas seketika di usia 36 tahun.*



















Komentar