TIGA generasi berkumpul pada rumah yang terletak di jantung kota Almere itu. Sebagian besar berbahasa Indonesia, sedikit di antaranya terdengar bercakap-cakap dalam berbagai bahasa: Belanda, Cina dan bahkan Rusia. Hari itu, Sabtu 9 September yang lalu, mereka berkumpul memperingati enam bulan wafatnya seorang suami, ayah, kakek juga kawan yang selalu bersama di dalam hari-hari terang maupun kelam hidup berpuluh tahun jauh dari tanah air.
Mawie Ananta Jonie, seorang penyair sekaligus wartawan yang dikenang hari itu, berpulang pada 1 Maret yang lalu. Mungkin namanya tak banyak dicatat dalam narasi utama sejarah di Indonesia yang seringkali hanya mengisahkan tokoh-tokoh besar beserta drama kehidupannya. Tapi Mawie punya kisahnya sendiri.
Terlahir sebagai anak Minang dua tahun sebelum Jepang datang menduduki Indonesia. Malang melintang sebagai aktivis Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia (IPPI), penyair dan wartawan. Pada 1964 berangkat ke Tiongkok untuk tugas belajar namun prahara politik 1965 mengubah jalan nasib dari benderang menjadi remang. Semenjak itu dia meniti jalan hidup sebagai orang terhalang pulang, mengembara mulai dari negeri Tiongkok, Burma dan sejak 1989 bermukim di Belanda.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















