- 2 Nov 2024
- 9 menit membaca
Diperbarui: 28 Jul
MUSIM kering 1966, S.K. De Datta, seorang agronomis muda India yang bergabung dengan Lembaga Penelitian Padi Internasional (IRRI), melakukan ujicoba penanaman IR8 dengan kondisi pupuk yang berbeda. Ketika panen, De Datta terkagum-kagum karena IR8 menghasilkan sekira 5 ton per hektar tanpa pupuk dan hampir 10 ton dengan 120 kg nitrogen per hektar. Padahal hasil rata-rata di Filipina kala itu hanya sekitar 1 ton per hektar. Dia kemudian menunjukkan data itu kepada Henry Beachell, kepala pemuliaan padi IRRI, yang langsung mengajaknya menemui Robert Candler, direktur IRRI.
Candler sedang memimpin sebuah seminar. Begitu rampung, dia melihat kegembiraan di wajah Beachell dan De Datta. Chandler mengajak mereka ke kantornya. Ketika De Datta menunjukkan datanya, Chandler bersemangat. “Seluruh dunia akan mendengar tentang hal ini,” kata Chandler. “Kita akan membuat sejarah!” Dia menjabat tangan dan mengucapkan selamat kepada Beachell dan De Datta.
Segera laporan serupa datang ke IRRI dari seluruh Asia, termasuk panen 11 ton di Pakistan.
Kabar itu sampai ke telinga Presiden Filipina Ferdinand Marcos. Dengan helikopter dia pun terbang ke markas IRRI di Los Banos, Manila, Filipina. Mendengar penjelasan dari staf IRRI, Marcos langsung kepincut dan memerintahkan memperbanyak benih IR8 secepat mungkin. Dia ingin mewujudkan swasembada beras di Filipina selama masa pertama jabatannya.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















