- 1 Jan 2025
- 6 menit membaca
Diperbarui: 28 Jul
SUDAH sepuluh tahun terakhir ini Dinda Saputra (45), seorang pengusaha material di Depok, dan keluarga rutin mengkonsumsi nasi dari beras Cianjur. Selain bersih dan wangi, rasa nasinya pulen. “Tapi ya harganya lumayan mahal dan langka juga. Saya sendiri dapat barang itu karena dikirimi langsung dari seorang petani organik di Cianjur,” ujar Dinda.
Pamor Cianjur sebagai kota beras berkualitas nomor satu memang sudah dikenal sejak lama. Menurut Ibrahim Naswari (73), petani di Cianjur, sejak 1950-an beras Cianjur sudah masuk ke dapur-dapur menteri dan orang berpunya di kota-kota besar. “Bahkan pada waktu zaman Pak Karno, Istana Cipanas menggunakan nasi dari beras Cianjur jenis Peuteuy sebagai hidangan utama buat para tamunya,” ujar Ibrahim.
Masyarakat Cianjur bangga dengan citra itu. Untuk menghormati padi-padi yang mengharumkan nama kotanya, mereka memiliki sebutan khusus: pare ageung, yang berarti padi agung. Tak jelas sejak kapan sebutan itu mulai populer. Namun, menurut Ibrahim, bisa jadi istilah itu muncul seiring merebaknya varietas padi unggul nasional seperti Ciherang, IR-64, Cisantana, Cigeulis, dan Cibogo pada 1970-an.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















