- 8 Feb 2025
- 4 menit membaca
Diperbarui: 29 Des 2025
KERIUHAN terjadi di pusat kota kecil di Jawa Tengah, Blora, pada 6 Februari malam lalu. Orang-orang dari berbagai tempat “tumplek-blek” di Pendopo Bupati Blora. Bupati Arif Rohman juga hadir. Mereka semua hendak menonton bareng film Bumi Manusia karya Hanung Bramantyo yang diputar sebagai bagian dari Festival Blora Seabad Pramoedya. “Kita nonton sampai jam 10,” kata Bupati Arief Rochman. Kemasan populer yang diusung Hanung membuat film Bumi Manusia memikat banyak orang, termasuk kaum muda. Menjadikan Bumi Manusia ditonton banyak orang.
Bumi Manusia diadaptasi dari novel dengan judul sama karya Pramoedya Ananta Toer. Novel tersebut merupakan satu dari empat novel tetralogi Pram yang dihasilkan dari perjuangan beratnya –dan juga ribuan tahalan politik (tapol) lain– di tempat pembuangannya di Pulau Buru.
Pembuangan di Pulau Buru menjadi puncak dari penahanan-penahanan yang telah dialami Pram sebelumnya. Sejak muda, Pram sudah merasakan lembabnya ruangan di balik terali besi penjara Belanda. Menjelang paruh baya, begitu “gegeran” politik terjadi mengikuti Persitiwa G30S, Pram lagi-lagi harus merasakan dinginnya penjara. Sebagai orang yang dicap kiri, yang kalah dalam kontestasi politik nasional, Pram termasuk yang dihabisi haknya sebagai manusia meski tak sampai dihabisi hak hidupnya seperti ribuan orang kiri yang lain.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















