top of page

Tio Oen Bik, Tokoh Tionghoa yang Terlupakan

Dokter anti-fasis. Pernah bertempur di perang sipil Spanyol. Pendiri organisasi Tionghoa Indonesia pro kemerdekaan Indonesia. Hilang dari ingatan orang Indonesia.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Tio Oen Bik (kanan). (lacrimaseca.wordpress.com).

16 Feb 2018
5 menit membaca

NAMANYA tak pernah disebut di dalam buku pelajaran sejarah. Mungkin juga dianggap terlalu kecil apabila disandingkan dengan tokoh-tokoh besar dalam sejarah di Indonesia. Tapi kisah kecil dokter lulusan Sekolah Kedokteran Hindia Belanda (Nederlands Indische Artsen School, NIAS) di Surabaya itu menjadi penting untuk diketahui karena ia bagian dari peristiwa besar di dalam sejarah dunia: Perang Sipil Spanyol.


Perang yang berlangsung sejak 1936 sampai 1939 itu dipicu oleh kudeta militer Jenderal Franco terhadap pemerintahan demokratik yang sah di bawah Presiden Manuel Azana. Pemerintahan Azana yang terpilih secara demokratis didukung kelompok kiri berhasil ditumbangkan Jenderal Franco pada 1939. Franco memerintah Spanyol sampai dengan kematiannya pada 1975. Perang ini sering digambarkan sebagai pertempuran kaum fasis melawan kubu republik yang pro demokrasi.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page