top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10057 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Adhyaksa Kembali ke Desa

    KETIKA hendak diangkat menjadi jaksa agung, Ismail Saleh sempat menolak. Dia merasa bukan orang yang cocok. Namun, Presiden Soeharto mengatakan ini adalah penugasan, lebih tepatnya perintah. “Suara Pak Harto berubah ketika ia mengucapkan itu. Saya segera tahu diri,” ujarnya, dikutip buku Warisan (daripada) Soeharto. Jadilah Ismail Saleh menjadi jaksa agung periode 1981–1984, yang dipuji banyak kalangan sebagai jaksa agung terbaik di zaman Orde Baru.

  • Bedjo Jenderal Pujakesuma

    PURWOREJO sebagian wilayahnya bertanah kering dan tak bisa menjadi sawah. Di masa lalu, banyak pemuda dari sana kemudian merantau jadi kuli atau mendaftar jadi serdadu ke Kedung Kebo. Sattar yang berasal dari Gunung Jeruk termasuk pemuda Purworejo yang kemudian merantau sampai ke Medan.

  • Dari Seteru Jadi Sekutu

    PERNIKAHAN memberikan jalan pintas bagi kaum elite di Batavia untuk memperkuat aliansi dan mempertahankan kekuasaannya di wilayah koloni. Pada masa kekuasaan VOC (1620–1800), para pejabat yang menduduki posisi-posisi strategis seperti gubernur jenderal, direktur jenderal hingga anggota Dewan Hindia menjalin hubungan keluarga satu sama lain. Hal ini terjadi karena, dalam komunitas kecil di Batavia, para imigran Eropa yang baru tiba dan pejabat-pejabat kompeni cenderung memilih untuk menikahi perempuan-perempuan elite di kota itu.

  • Big George Foreman Menemukan Tuhan di Balik Ring Tinju

    SETIAP hari adalah pertarungan buat George Foreman (diperankan Khris Davis), bahkan sejak ia belia. Itulah realitas yang harus dihadapinya dari kondisi hidup melarat bersama tiga saudara dan saudari dengan hanya seorang ibu tunggal, Nancy (Sonja Sohn), yang menafkahi. Kehidupan keras di Fifth Ward, Houston, Texas pada era 1960-an itu juga membentuk George muda jadi sosok temperamental dan tak percaya Tuhan. Akibatnya bukan hanya di- drop out dari sekolah karena sering berkelahi, George sampai harus jadi penjambret. Kendati ia melupakan Tuhan, tetapi tidak sebaliknya. Suatu ketika ia melihat iklan tentang Job Corps, semacam balai latihan kerja yang didirikan pemerintah federal di California. Di tempat itulah akhirnya bakat bertinju Foreman ditemukan salah satu pengawas BLK, Doc Broadus (Forest Whitaker). Baca juga: Konflik Kehidupan Roberto Durán dalam Hands of Stone Broadus melatih semua teknik dasar bertinju pada Foreman yang mulanya hanya tahu cara memukul keras. Broadus pula yang kemudian mengantar Foreman sampai mendaki karier amatir hingga puncaknya memenangi medali emas tinju kelas berat di Olimpiade 1968. Tetapi itu bukan klimaks kariernya. Apa yang dijalaninya itu baru sekadar pembuka biopik bertajuk Big George Foreman. Film garapan sineas George Tillman Jr. ini berangkat dari kisah petinju legendaris George Foreman dengan lika-liku kehidupannya di dalam maupun di luar ring tinju. Adegan Doc Broadus memperkenalkan tinju pada Foreman (Sony Pictures) Sedari amatir hingga terjun ke tinju profesional, Foreman dibesut duet pelatih Dick Sadler (Dwayne Barnes) dan Archie Moore (Lawrence Gilliard Jr.). Perjalanannya diawali jadi lawan latih tanding Sonny Liston (Cedric Boswell) di Main Street Gym, Oakland. Kemenangan ke-36 tanpa terkalahkan membuatnya punya “tiket” menantang juara dunia kelas berat Joe Frazier (Carlos Takam). Tetapi setelah jadi juara dunia, Foreman makin jadi orang yang takabur. Selain gemar berfoya-foya hingga rumahtangganya dengan Paula (Shein Mompremier) berantakan, ia juga selalu membantah nasihat ibunya tentang Tuhan. “Tuhan? Apa hubungannya dengan Tuhan? Aku yang membeli semua makanan di meja ini,” cetus Foreman saat ibunya minta Foreman mengucap pemberkatan makan siang. Baca juga: Tinju Kiri Muhammad Ali di Jakarta Klimaksnya terjadi ketika Foreman mesti takluk dari Muhammad Ali (Sullivan Jones) di laga bertajuk “The Rumble in the Jungle” di Zaire, 30 Oktober 1974. Sifat temperamen Foreman sukses dimanfaatkan Ali dengan bualan-bualannya sebagai jalan memukul KO Foreman di ronde kedelapan. Sabuk juara dunia Foreman pun lepas. Kekalahan itu bikin reputasi Foreman kemudian makin menukik saat ia harus mengakui kekalahan dari Jimmy Young di San Juan, Puerto Riko pada 17 Maret 1977. Di ruang ganti, usai pertarungan Foreman tetiba tumbang hingga pingsan. Rupanya ia terserang heat-stroke yang nyaris membuatnya wafat di tempat. Scene pertarungan Foreman melawan Muhammad Ali (Sony Pictures) Tetapi Tuhan belum mau mengambil Foreman. Ia lalu siuman. Foreman pun tersadar bahwa Yesus Kristus tetap bersamanya. Hal itu mendorong Foreman memutuskan gantung sarung tinju dan beralih jadi pengkhotbah di gereja demi bisa dekat dengan Tuhan. Namun, kehidupannya sebagai pendeta bukan ditempuh dengan jalan yang ringan pula. Memori akan pengalaman-pengalaman pahitnya di ring tinju tetap membayanginya. Belum lagi problem keuangan menerpanya gegara ditipu akuntannya. Bagaimana Foreman mempertahankan keyakinannya sebagai pengkhotbah tapi tak bisa lepas dari kenangan pahitnya di atas ring tinju? Baiknya Anda saksikan sendiri kelanjutan Big George Foreman yang sudah rilis sejak 28 April 2023. Baca juga: Sudut Ring Leon Spinks Plot Emosional Tone film retro dan vintage sejak awal langsung membawa nuansa era 1960-an dan 1970-an dengan sangat kental. Penonton juga akan makin terbawa masuk ke era itu dengan iringan sejumlah music scoring melankolis, funky , dan lagu-lagu motown yang diramu komposer Marcelo Zarvos. Dalam banyak hal, sang sineas mencoba menyajikan keotentikan kisah Foreman. Salah satunya di adegan-adegan build-up pertarungannya dengan Muhammad Ali. Beberapa film lain yang menggambarkan pertarungan itu, kata Tillman Jr., justru lebih sering didramatisir. “Ketika saya bicara pada Foreman, dia bilang. ‘Anda tahu? Saya hanya sekali ketemu Ali di Zaire.’ Saya tanya lagi, ‘Anda tidak bertemu di konferensi (pers)?’ Dia jawab, ‘Kami tidak mengadakan konferensi.’ Tapi banyak film menggambarkan terjadi konferensi pers? Makanya saya pribadi tetap pada pendirian saya untuk menyajikan kisah nyatanya berdasarkan ingatan Foreman,” kata Tillman Jr. kepada Box Office Pro , 3 Mei 2023. Baca juga: Ring Kehidupan Max Schmeling Sutradara George Tillman Jr. (kanan) berbincang dengan Khris Davies yang memerankan George Foreman (Sony Pictures) Kendati demikian, dalam hal teknik tinju dan olahraga. BigGeorge Foreman cenderung jadi film yang “kentang”, terutama bagi penonton yang berasal dari kalangan pecinta tinju sejati. Tillman Jr. nyaris tidak menghadirkan detail-detail teknik pertarungan Foreman, baik dalam latihan-latihan jelang laga maupun saat bertanding di atas ring. Tillman Jr. cenderung membawa alur film ke sisi emosional Foreman, baik terkait kondisi melarat sebelum bertinju, situasi rumahtangganya yang berantakan, hingga rasa frustrasinya gegara akuntannya membuatnya merugi secara finansial. “George adalah orang yang berbeda pada era 1970-an: dari cara ia berjalan, cara dia bicara. Itu juga menjadi self-awareness buat kami dalam menyambung plot, di mana terjadi transformasi dari seseorang yang menginginkan kehidupan yang lebih baik bagi dirinya,” tukas sang sutradara. Baca juga: Persahabatan Max Schmelling dan Joe Louis Akhir Manis Karier Foreman George Edward Foreman lahir di kota kecil Marshall, Texas pada 10 Januari 1949. Ia anak kelima dari enam bersaudara pasangan Nancy dan J.D. Foreman. Kendati begitu, sang petinju mengakui J.D. Foreman bukan ayah biologisnya. “Leroy Moorehead adalah nama ayah (biologis). Saya melihat sebuah surat yang dia tuliskan untuk ibu. Dia ingin bertemu tapi ibu melarangnya,” ungkap Foreman dalam memoarnya, God In My Corner: A Spiritual Memoir. Sedikit-banyak yang dikisahkan dalam Big George Foreman memang berdasarkan kenyataan yang dijalani Foreman. Tinju mulai dikenalnya di sela aktivitasnya menggali keterampilan jadi tukang kayu di Job Corps di Pleasanton, California. “Mulanya saya ingin jadi pemain football (American football) karena salah satu idola saya adalah Jim Brown. Tapi ketika saya masuk ke Job Corps, saya mencoba belajar tinju. Well , 25 pertarungan (amatir) dan setahun kemudian, saya peraih medali Olimpiade,” imbuhnya. Baca juga: Ronde Terakhir Roger Mayweather George Foreman diterima Presiden Lyndon B. Johnson usai meraih emas di Olimpiade 1968 ( georgeforeman.com ) Bermodalkan “senjata” pukulan kerasnya, Foreman mencatatkan 36 kemenangan beruntun tanpa terkalahkan di awal karier profesionalnya, sebelum akhirnya mendapat kesempatan menantang juara kelas berat WBA dan WBC, Joe Frazier. Dalam build-up duel di Kingston, Jamaika pada 22 Januari 1973 bertajuk “The Sunshine Showdown”, Foreman hanya butuh dua ronde untuk membuat Frazier tersungkur. “Saya pikir sedari awal dia (Foreman) sudah menyakiti Joe Frazier. Angelo Dundee, pelatih Ali yang duduk di samping saya, begitu lantang mengatakan. ‘Frazier tumbang! Frazier tumbang!’ Sang juara bertahan sampai enam kali dipukul KO. Pertarungan ini membuktikan dugaan banyak orang terhadap Foreman,” kenang Howard Cosell, jurnalis ABC yang menyiarkan duel bernilai kontrak 10 juta dolar tersebut. Setelah mencatatkan kemenangan ke-40 tanpa terkalahkan sekaligus mempertahankan gelarnya, Foreman meladeni tantangan Muhammad Ali untuk berduel di Zaire. Foreman memilih bersikap dingin ketimbang bereaksi keras dari bualan dan ejekan Ali, baik saat wawancara televisi maupun saat bertemu di lobi Hotel Intercontinental, Kinshasha, Zaire jelang laga bertajuk “The Rumble in the Jungle”, 30 Oktober 1974. “Ali membual dan mengejek, ‘Saya akan mengapung seperti kupu-kupu, menyengat seperti lebah. George takkan bisa memukul sesuatu yang tak bisa dilihat matanya.’ Tetapi George bukan banci tampil seperti Ali. Sang juara bertahan perlahan-lahan mulai dikagumi publik Zaire atas perilakunya yang tak aneh-aneh,” tulis Ed McCoyd dalam To Live and Dream: The Incredible Story of George Foreman. Baca juga: Durán dan Leonard, dari Lawan jadi Kawan Kegemilangan Foreman yang menyungkurkan Joseph William 'Joe' Frazier (Majalah Ebony  edisi April 1973) Tetapi nyatanya itu belum cukup. Ocehan Ali yang akan terus bergerak cepat untuk menguras tenaga Foreman jadi kenyataan. Foreman yang hanyut termakan strategi Ali tak berdaya ketika wajahnya menerima pukulan menentukan Ali yang membuatnya tersungkur di ronde kedelapan. Sabuk juaranya pun direbut Ali. Foreman lantas memecat kedua pelatihnya, Dick Sadler dan Archie Moore, atas dugaan sabotase. Foreman merasa ia “diracun” hingga membuat staminanya menukik tajam. “(Duel lawan Ali) memang bukan malam saya. Saya juga merasa ada yang aneh dalam minuman saya. Air yang saya minum terasa seperti ada obat tertentu. Saya bertarung dengan rasa obat yang masih tertinggal di mulut saya. Setelah ronde ketiga, saya kelelahan ibarat sudah menjalani 15 ronde. Apa yang terjadi? Apakah ada yang memasukkan obat ke air minum saya?” sambung Foreman dalam memoarnya. Baca juga: Pencarian Islam Muhammad Ali Momen Foreman tumbang oleh Muhammad Ali ( wbaboxing.com ) Karier Foreman pun tak lagi sama usai kalah dari Ali. Setelah keok pula oleh Jimmy Young pada 17 Maret 1977, Foreman lalu gantung sarung tinju. Ia pun nyaris tewas ketika terserangan heat-stroke di ruang ganti, hingga kemudian memutuskan untuk berserah diri dan mendekatkan diri pada Yesus Kristus. Tetapi itu bukan akhir dari jalan hidupnya. Satu dekade berselang, ia comeback naik ring. Motifnya klasik, demi uang. Tapi tujuannya berbeda. Bila dulu untuk keluar dari kemiskinan dan bisa hidup foya-foya, pada 1987 ketika balik ke ring tinju, Foreman hanya ingin punya pendapatan lebih demi bisa membangun pusat-pusat kegiatan pemuda untuk menjauhkan mereka dari kriminalitas. Hebatnya, meski sempat mengalami overweight , kembalinya Foreman ke ring tinju tak sia-sia. Ia melewati 24 laga tanpa pernah kalah sebelum akhirnya menantang juara dunia WBA, WBC, dan IBF, Evander Holyfield pada 19 April 1991. Usianya sudah 42 tahun. Meski kalah, publik kembali memuja Foreman. Baca juga: Menanti Reuni Tyson vs Holyfield Foreman yang mengejutkan tinju dunia usai juara dunia untuk kali kedua pada 1994 ( Ring Magazine ) Yang mengejutkan adalah ketika Foreman di usia 45 tahun, sukses bikin geger dunia tinju. Ia menang KO dari juara dunia yang jauh lebih muda, Michael Moorer, pada 5 November 1994. Untuk kedua kalinya, Foreman melingkarkan pinggangnya dengan sabuk juara dunia kelas berat versi WBA dan IBF. “Di hadapan 12.120 penonton di MGM Grand Garden, Foreman memberi kejutan buat Moorer, fans, jurnalis, hingga jutaan orang yang menyaksikan via televisi ketika ia menumbangkan juara bertahan di ronde ke-10 setelah sempat tertinggal dalam perolehan angka dan itu jadi salah satu kejutan terbesar dalam dunia tinju. Mengenakan celana yang sama ketika ia kalah dari Ali 20 tahun lalu, Foreman mendaratkan pukulan kanan ke rahan Moorer sampai sang juara bertahan tersungkur ke kanvas,” tulis Thomas Myler dalam Close Encounters With the Gloves Off. Karier Foreman pun berakhir manis. Ia tetap mempertahankan gelarnya sampai ia memutuskan pensiun yang kedua kali sekaligus selamanya pada 1997 di usia 48 tahun, 316 hari dengan catatan: 76 kemenangan (68 KO) dan lima kali kalah dalam 81 karier profesionalnya. “Saya menyingkir dari ring tinju. Bisa saja karier saya diteruskan sampai akhir hayat, melawan para petinju muda. Tetapi saat ini petinju mudalah yang seharusnya juga melawan petinju muda lainnya,” tandas Foreman kepada majalah Jet , 15 Desember 1997. Deskripsi Film: Judul: Big George Foreman| Sutradara: George Tillman Jr. | Produser: David Zelon | Pemain: Khris Davis, Forest Whitaker, Cedric Boswell, Sullivan Jones, Sonja Sohn, Shein Mompremier, Carlos Takam, Jasmine Matthews | Produksi: Affirm Films, Mandalay Pictures, State Street Pictures | Distributor: Sony Pictures | Genre: Biopik Olahraga | Durasi: 120 menit | Rilis: 28 April 2023.

  • BFO Kekuatan Ketiga

    PADA 3–5 Januari 1948, Letnan Gubernur Jenderal Hubertus Johannes van Mook menyelenggarakan konferensi di Jakarta. Hadir wakil dari negara-negara bagian dan daerah-daerah di luar kekuasaan Republik Indonesia.

  • The Price of Independence: Two Other Massacres by the Dutch

    CORPORAL Kees complained in his journal. As a young Dutch man, he deplored having to continuously face upsetting situations during his service in Indonesia. His frustration culminated when he witnessed two young girls weeping while clasping to the cold bodies of their mother and younger sister inside a ditch.

  • Buka-Tutup Sistem Pemilu Indonesia

    Mahkamah Konstitusi (MK) menolak gugatan pengajuan sistem pemilu proporsional tertutup. Itu artinya, pada Pemilu 2024 mendatang sistem proporsional terbuka masih diterapkan. Pemilu dengan sistem proporsional terbuka memungkinkan masyarakat memilih sendiri calon legislatif dari daerah pemilihannya. Sementara itu, pada sistem proporsional tertutup, kontrol partai sangat dominan untuk menentukan calon legislatif. Menilik sejarahnya, sistem proporsional tertutup lebih dulu diterapkan dalam Pemilu perdana tahun 1955. Jumlah anggota DPR ditetapkan berdasarkan imbangan jumlah penduduk, dengan formula setiap 300.000 penduduk diwakili oleh satu anggota DPR. Untuk wilayah seluas Indonesia, sistem ini dirasa mampu mencakup perwakilan dari setiap daerah secara berimbang. Dalam The Decline of Constitutional Democracy in Indonesia , Herbet Feith menyebut keragaman perwakilan proporsional yang digunakan dalam pemilu 1955 sangat mendukung daerah-daerah padat penduduk, khususnya di Jawa. “Oleh karena itu, Jawa dengan 66,2 persen penduduk memperoleh 69,65 persen dari jumlah kursi parlemen,” kata Feith, “Daerah pemilihan Kalimantan Timur yang berpenduduk sedikit tidak memilih anggota sama sekali.” Baca juga:  Manuver Politik Jelang Pemilu 1955 Sistem proporsional tertutup tetap menjadi acuan pemilu pada masa Orde Baru.Satu kabupaten diberi jatah satu kursi DPR. Setiap anggota DPR mewakili 400.000 penduduk. Tidak ada dinamika yang berarti, karena Golkar selalu memenangi kontestasi mulai dari pemilu 1971,  1971, 1977, 1982, 1987, 1992, hingga 1997. Pemilu 1999 yang telah memasuki era reformasi juga masih menerapkan sistem proporsional tertutup. Dalam mekanismenya, pemilih hanya mencoblos lambang partai saja. Partailah yang menyiapkan calon legislatifnya berdasarkan nomor urut. Karena krusialnya peran partai, menurut Burhanuddin Muhtadi, kandidat caleg bersaing untuk mengamankan nomor urutnya dalam daftar partai. Jika partai mendapat kursi di satu daerah pemilihan, maka kursi itu diambil oleh kandidat dengan nomor teratas. Muhtadi menyebut istilah populer “nomor topi” dan “nomor sepatu” untuk mengilustrasikan pentingnya nomor urut kandidat. Nomor topi adalah mereka yang menempati peringkat tinggi dalam nomor urut yang ditetapkan partai. Sebaliknya, nomor sepatu merujuk kandidat caleg yang menempati urutan bawah. Maka kecillah peluangnya untuk lolos masuk ke Senayan.  Baca juga:  Pesan Soeharto bagi yang Kalah Pemilu “Karena pentingnya nomor urut dalam menentukan tingkat dipilihnya kandidat, banyak dari mereka yang kaya raya yang dikabarkan membeli slot yang memungkinkan mereka menang, bahkan dengan menyuap elite partai yang berkuasa menentukan nomor urut,” terang Muhtadi dalam disertasinya yang diterbitkan Kuasa Uang: Politik Uang dalam Pemilu Pasca Orde Baru . Pada pemilu 2004, untuk kali pertama diterapkan sistem proposional terbuka. Pemilih dapat memilih partai ataupun calon legislatifnya sendiri pada kertas suara yang disediakan. Namun, proporsinya belum sepenuhnya terbuka, melainkan terbuka terbatas (semi-terbuka).    Seorang calon legislatif dinyatakan terpilih jika memenuhi Bilangan Pembangi Pemilih (BPP). JIka tidak ada calon yang memenuhi BPP, perolehan suara parpol diberikan calon berdasarkan nomor urut teratas dalam surat suara. Sementara itu, untuk pemilihan anggota DPD dilaksanakan dengan sistem distrik. Masing-masing daerah meloloskan empat anggota DPD. Baca juga:  Wejangan Penguasa Buat Partai Kalah Barulah pada pemilu 2009, model proporsional terbuka berdasarkan suara terbanyak dihelat. Nomor urut tak lagi menentukan. Begitu pula dalam pemilu 2014, menerapkan model yang sama dengan pemilu 2009. Hanya saja ambang batas parlemen naik menjadi 3,5 persen sehingga hanya meloloskan 10 parpol. Jumlah anggota DPR dan DPD tidak berubah dari tahun 2009, yakni 560 anggota DPR dan 132 anggota DPD dari 33 provinsi yang diwakilinya.  “Model terbuka berlaku sejak pemilu 2004 hingga 2019. Namun khusus 2004 penentuan calon terpilih berdasarkan pada nomor urut, sedangkan 2009--2019 penentuan calon terpilih berdasarkan suara terbanyak,” demikian ulas Muhammad Nizar Kherid dalam Evaluasi Sistem Pemilu di Indonesia 1955--2019 .

  • Negara Madura Benteng Pengaman

    RAKYAT Madura umumnya miskin. Kebutuhan pangan bergantung pada pasokan dari Jawa, yang kian sulit karena blokade Belanda. Untuk mengatasinya, Residen Madura R.A.A. Tjakraningrat meminta bantuan Charles Olke van der Plas, pemimpin Recomba (Regeringscommissaris voor bestuursaangelegenheden) atau pemerintahan peralihan Belanda di Jawa Timur. Van der Plas membujuk Tjakraningrat dan pamong praja lainnya untuk bekerja sama membentuk Negara Madura.

  • Thierry Baudet: Harusnya Indonesia Masih Jajahan Belanda

    HASIL temuan-temuan penelitian dekolonisasi ternyata tidak serta-merta mendapat respons positif dari sejumlah politisi sayap kanan di Parlemen Belanda. Thierry Baudet salah satunya. Ia bahkan mengagung-agungkan era kejayaan kolonial Belanda. Penelitian dekolonisasi sendiri dilakukan oleh tiga lembaga, Koninklijke Instituut vor Taal, Land, en Volkunde (KITLV); Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie (NIOD); dan Nederlands Instituut voor Militaire Historie (NIMH)sejak 2017, dengan tajuk “Onafhankelijkheid, Dekolonisatie, Geweld en Oorlog in Indonesië, 1945-1950” (Kemerdekaan, Dekolonisasi, Kekerasan, dan Perang di Indonesia, 1945-1950). Dibantu belasan akademisi Indonesia asal Universitas Gadjah Mada, penelitian yang disponsori pemerintah Belanda sebesar 4,1 juta euro itu mempublish hasil penelitiannya dalam 14 buku yang dirilis 14 Februari 2022. Salah satu temuan yang paling disoroti di Belanda adalah, kekerasan ekstrem militer Belanda, baik itu pembakaran kampung-kampung, pemerkosaan, hingga eksekusi tanpa peradilan, terbukti bukan insidentil atau ekses semata tapi sudah struktural. Temuan itu sejalan dengan penelitian yang juga pernah diungkapkan sejarawan Swiss-Belanda Rémy Limpach lewat bukunya, De Brandende Kampongs van Generaal Spoor (terj. Kampung-Kampung yang Dibakar Spoor , 2016). Baca juga: Penelitian Dekolonisasi Belanda Membuka Perdebatan Baru Pro dan kontra pun tak terhindarkan seiring Parlemen Belanda menggelar sesi debat pada Rabu (14/6/2023) yang juga dihadiri Perdana Menteri (PM) Mark Rutte, Menteri Luar Negeri Wopke Hoekstra, dan Menteri Pertahanan Kajsa Ollorongren. Perdebatan mulai intens ketika beberapa perwakilan sayap kanan mulai meluapkan unek-uneknya terkait penelitian itu. Salah satunya, Wybren van Haga. Sebagaimana yang diterjemahkan kolega Arjan Onderdenwijngaard via live streaming di laman parlemen , Van Haga menyanggah keras hasil penelitian itu seraya memamerkan satu buku yang lebih ia percayai ke hadapan para anggota parlemen, yakni buku Het pijnlijke afscheid van de Indische Archipel: Trauma, Discussie, Eerherstel (2023). Buku tersebut berisi beberapa kesaksian para veteran militer Belanda. “Hasil penelitian (dekolonisasi) ini tidak benar. Ini hanya propaganda sayap kiri. Rakyat Indonesia senang dengan tentara Belanda karena mereka menciptakan perdamaian dan ketenangan. Ini ada buku tentang pelepasan koloni yang menyedihkan,” tutur Van Haga sambil memperlihatkan buku tadi. Wybren Ridley van Haga dari Partai Groep van Haga ( tweedekamer.nl ) Pendiri partai liberal-sayap kanan Groep van Haga itu juga bersikeras bahwa sosok Kapten Raymond Westerling yang dianggap jagal dan penjahat perang adalah pahlawan. Westerling seperti Poncke Princen yang dianggap Van Haga sebagai pengkhianat. “Sejarah ini dipalsukan oleh penelitian ini. Seperti Princen yang bukan lagi sekadar desersi tapi melakukan kejahatan sebagai pengkhianat. Dengan seragam (tentara) Belanda dia menjebak tentara Belanda dan setelah ditangkap prajurit disiksa dan dibunuh oleh TNI. Justru Westerling yang harus direhabilitasi. Westerling pahlawan karena melindungi banyak orang dengan aksi-aksinya di Sulawesi yang membuat keadaan damai lagi. Westerling melakukan apa yang ditugaskan kepadanya dan sekarang dia dipolitisasi orang-orang sosialis (sayap kiri),” imbuhnya. Baca juga: Sebelum Westerling Beraksi di Indonesia Hal senada juga diungkapkan Raymond de Roon. Petinggi PVV (Partai Kebebasan) itu merasa semua veteran Belanda adalah pahlawan dan tidak semestinya dicap penjahat perang. “Veteran adalah pahlawan. Apa maksudnya kekerasan struktural yang terjadi? Memangnya sudah jelas di mana batasan struktural dan insidentil? Penelitian ini seperti hanya melihat dari satu sisi, tidak luas hingga menjadi lebih sempit. Itu hanya agenda dari sayap kiri, para aktivis anti-kolonial. Tentara Belanda melindungi para korban ‘Masa Bersiap’ yang dibunuh dan diperkosa di sana-sini,” ujar De Roon. Sejumlah anggota parlemen lainnya yang protes usai pernyataan kontroversial Baudet ( tweedekamer.nl ) Syahdan, ketika pada gilirannya Thierry Baudet berbicara, sontak beberapa politisi lain kompak mengajukan protes. Dedengkot partai konservatif dan sayap kanan FvD (Partai Forum untuk Demokrasi) itu memberi pernyataan bernada rasisme ketika menyinggung hasil penelitian sekaligus menanggapi uraian Tunahan Kuzu (Partai DENK) dan Don Ceder (CU/Partai Persatuan Kristen) yang sebelumnya menyebut bahwa masa dekolonisasi itu tak bisa terpisahkan dari dampak kolonialisme yang menimbulkan trauma. “Jika bicara Hindia Belanda (kini Indonesia, red. ), kolonialisme itu berkat buat mereka. Indonesia yang terbelakang diberkati dengan peradaban Eropa yang superior. Apa yang Belanda lakukan selama empat ratus tahun adalah tugas misioner untuk membuat rakyat Hindia menjadi bagian dari peradaban Eropa,” cetus Baudet. Baca juga: Perdebatan Alot Parlemen Belanda Mengupas Penelitian Dekolonisasi Tak ayal beberapa politisi dibuatnya angkat bokong dari kursi masing-masing. Protes keras mereka ajukan sampai harus dilerai ketua parlemen yang memimpin perdebatan, Vera Bergkamp, agar perdebatan bisa tetap berjalan lancar. “Bukan begitu maksud saya, tapi memang bangsa-bangsa di dunia berbeda secara genetis,” tambahnya membela diri. Lantas Sjoerd Sjoerdsma (Partai Democraten 66) mengajukan diri mempertanyakan pernyataan Baudet mewakili beberapa koleganya. “Dari mana Anda bisa mendukung kolonialisme? Bagaimana dengan kekerasan ekstrem militer Belanda? Apakah Anda pikir Indonesia tetap harus dikoloni Belanda?” Sjoerd Wiemer Sjordsma (kiri) yang mempertanyakan pernyataan Baudet ( tweedekamer.nl ) Baudet merespons lagi dengan kembali memuja era kolonialisme. Era di mana nenek buyutnya, Ernestine van Heemskerck, lahir di Hindia Belanda. “Kolonialisme adalah hal paling indah dan kita harus bangga. Dahulu Indonesia bagian dari Kerajaan Belanda. Apa yang Belanda inginkan adalah menciptakan semacam persemakmuran, di mana kita bisa bersama-sama dalam arus sejarah, seperti yang sudah pernah disampaikan Ratu Wilhelmina dalam pidatonya pada Desember 1942, juga yang sudah pernah diekspresikan dalam Perjanjian Linggadjati 1947,” ucapnya lagi. Baudet juga menambahkan, “Jika Belanda bisa bertindak lebih keras, kita bisa saja melestarikan koloni dan mendorong masyarakat di kepulauan (Indonesia) menyongsong hari yang lebih baik. Bukanlah lebih baik begitu? Saya memimpikan alternatif sejarah itu”. Terkait dengan kekerasan ekstrem yang terjadi, Baudet sependapat dengan beberapa koleganya dari golongan sayap kanan. Kedatangan dan aksi-aksi militer Belanda, dalam pandangan mereka, punya tujuan besar untuk menciptakan ketertiban usai kekacauan pasca-Perang Dunia II. “Tentang kekerasan, terjadi juga di ‘Masa Bersiap’ kepada orang-orang Belanda, orang Indo Belanda dan yang lainnya di luar pribumi. Saya merasa hanya orang Belanda yang dicap jahat. Apakah Sjoerdsma pikir Belanda tidak punya hak melindungi koloninya?” tukas Baudet. *Tulisan ini telah diperbarui pada tanggal 15 Juni 2023 pukul 19.20 WIB. Baca juga: Sjoerdsma Mengusulkan Pemerintah Belanda Akui 17 Agustus 1945

  • Jalan Hidup Perdana Menteri Negara Indonesia Timur

    DI Makassar, nama Nadjamoeddin Daeng Malewa tak begitu tenar. Dia hanya dikenal sebagai seorang tokoh politik dan pernah bergabung dalam Negara Indonesia Timur (NIT). Selebihnya samar. Bagaimana kiprahnya?

  • Presiden dari Bali

    TAK semua presiden di Indonesia berdarah Jawa. Setidaknya dalam sejarah Indonesia, setelah Sukarno (ibunya, Ida Ayu Nyoman Rai), ada orang berdarah Bali lain yang pernah menjadi presiden. Namanya Tjokorda Gde Raka Soekawati. Ia menjabat presiden negara berumur pendek bernama Negara Indonesia Timur, negara bagian dari Republik Indonesia Serikat.

  • Parkindo Tolak Kutuki PRRI

    Partai Kristen Indonesia (Parkindo) punya basis massa yang kuat di Sumatra Utara. Sejumlah kader Parkindo asal Tapanuli bahkan menjadi pemuka di kancah nasional. Sebut saja Todung Sutan Gunung Mulia (salah satu pendiri Parkindo), Melanchton Siregar (Ketua Umum Parkindo terakhir), dan Mr. Johannes Chrisos Tomus Simorangkir (anggota Konstituante, pakar hukum tata negara).   Pada pemilu 1955, Parkindo menempati urutan keenam dengan perolehan 1.003.325 suara (2,6 %). Torehan suara itu berhasil menyegel delapan kursi untuk wakil Parkindo di DPR. Sumatra Utara menjadi daerah penyumbang suara terbanyak dengan 291.319 pemilih. Peringkat yang sama juga ditempati Parkindo untuk pemilihan anggota Konstituate dengan perolehan 988.810 suara (2,61%) dan berhak atas 16 kursi. “Pada waktu itu agaknya 80% umat Kristen telah memilih Parkindo di Sumatra Utara pada pemilu pertama itu. Kalau Parkindo leading di Tapanuli Utara dan Nias, itu adalah sesuatu yang mudah dipahami. Tetapi Parkindo juga leading di Kota Kabanjahe, ibu kota Kabupaten Karo yang dikenal sebagai basis PNI sejak zaman revolusi,” catat L. Lumbangaol dalam testimoni biografi Melanchton Siregar: Pendidik dan Pejuang yang disusun Payung Bangun. Baca juga:  Melanchton Siregar, Guru yang Bergelar Kolonel Tituler Memasuki paruh kedua 1950, Parkindo dilanda prahara. Salah satu kadernya yang juga anggota Konstituante, Saladin Sarumpaet, terlibat dalam Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Dalam maklumat pembentukan kabinet PRRI pada 10 Februari 1958 di Padang, Sumatra Barat, Saladin diumumkan sebagai menteri pertanian merangkap menteri perburuhan. Pada 16 Februari 1958, KSAD Mayjen Abdul Haris Nasution mengeluarkan perintah penangkapan sejumlah petinggi PRRI. Mereka antara lain: Sjafruddin Prawiranegara, Moh. Sjafei, Boerhanuddin Harahap, Soemitro Djojohadikusumo, termasuk Saladin Sarumpaet, dan Abdulgani Usman. Ketua Parkindo Tapanuli W. Lumbantobing dan istri Saladin Saladin Sarumpaet bahkan sempat ditahan aparat. Saladin bersama istrinya Julia br. Hutabarat, seperti disebut dalam Pelayanan Kontemporer dalam Masyarakat Majemuk: Pengabdian Ephorus Ds. Dr. Tunggul S. Sihombing , merupakan pelopor pendiri Parki, cikal bakal Parkindo. Saladin dalam suratkabar terbitan Sibolga, Pelopor, 18 Februari 1958, mengatakan kabinet PRRI adalah suatu bentukan yang akan menyerahkan mandatnya kepada susunan pemerintahan Bung Hatta dan Sultan Hamengkubuwono IX. Kendati demikian, PRRI tetap saja terang-terangan bertentangan dengan pemerintah, bahkan siap angkat senjata menghadapi operasi militer TNI. Bagi pemerintah pusat di Jakarta, PRRI dilekatkan dengan predikat pemberontak. Baca juga:  Operasi Bersama Gempur Sumatra Perintah penangkapan yang dikeluarkan Nasution diikuti dengan pelarangan aktivitas partai-partai tertentu di daerah bergolak. Sejarawan M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern menyebut partai-partai yang dibekukan itu antara lain Masyumi dan PSI, juga Parkindo dan IPKI, karena dinilai membantu kaum pemberontak PRRI. Dihadapkan pada situasi demikian menempatkan Parkindo dalam tekanan. Apalagi bagi Ketua Parkindo Sumatra Utara Melanchton Siregar. Sumatra Utara menjadi salah satu daerah yang bergolak dengan berdirinya Dewan Gajah pimpinan Panglima Teritorium I/Bukit Barisan Kolonel Maludin Simbolon. Kedekatan pribadi antara Melanchton dengan Simbolon boleh jadi batu sandungan. Simbolon adalah adik kelas Melanchton semasa sekolah guru HIK di Solo. Keduanya juga terbilang dekat, ketika Simbolon menjabat panglima sedangkan Melanchton kepala jawatan pendidikan di Sibolga pada awal 1950-an. Namun, Simbolon kemudian malah bergabung dengan PRRI bahkan menjadi menteri luar negerinya. Selain itu, salah seorang adik kandung Melanchton, Mayor Henry  Siregar, komandan Batalion 131/Melati turut menggerakkan pasukannya menyokong PRRI.   Menurut Payung Bangun, Melanchton agak terkejut bahkan kecewa atas perkembangan yang sedemikian jauh di daerah, khususnya Sumatra Utara. Padahal, ketika Dewan Gajah berdiri, Parkindo Sumatra Utara mengeluarkan pernyataan dukungan terhadap dewan tersebut. Dukungan itu semata-mata berdasar atas kepercayaan dan hubungan karibMelanchton dengan Simbolon. Dari Simbolon, Melanchton memperoleh keterangan bahwa Dewan Gajah bertujuan mengoreksi pemerintah untuk pembangunan daerah serta perbaikan kehidupan prajurit. Baca juga:  Drama Malam Natalan: Kisah Penangkapan Kolonel Maludin Simbolon “Demikian pula dijelaskannya kepada saya bahwa tidak ada maksud untuk memisahkan diri dan tidak ada maksud untuk mengganti Bung Karno sebagai presiden. Setelah mendengar itu, saya dan teman-teman dari Parkindo memutuskan untuk membuat pernyataan dukungan itu,” kata Melanchton dikutip Payung Bangun. Untuk mempertanggungjawabkan keterlibatan kader Parkindo dalam PRRI, Melanchton bersama Ketua Umum Parkindo Albert Mangaratua Tambunan dipanggil menghadap Presiden Sukarno. Keduanya atas nama Parkindo menyatakan tidak dapat menerima adanya pemberontakan tersebut. Sempat terjadi perdebatan mengenai kata “mengutuk” yang terdapat dalam naskah pernyataan yang akan ditandatangani. Tambunan dan Melanchton tidak dapat menerima kata 'mengutuk' karena bertentangan dengan ajaran agama Kristen. Bagi mereka, hanya Tuhan saja yang berhak mengutuk. Terbentur dengan prinsip yang diyakini kedua pimpinan Parkindo itu, Sukarno akhirnya berkenan meralat naskah pernyataan untuk Parkindo. Pemakaian kata “menyalahkan” disepakati untuk menggantikan kata “mengutuk”. Tambunan dan Melanchton pun membubuhkan tandatangan mereka sebagai pernyataan menyalahkan pemberontakan PRRI. Dengan adanya pernyataan tersebut, Parkindo tidak turut dibubarkan seperti nasib Masyumi dan PSI.  Baca juga:  Rumah Tahanan Masyumi

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page