Hasil pencarian
Cari di situs ini
10054 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Perempuan dalam Kongres Pemuda
NONA POERNOMOWULAN naik ke atas mimbar sebagai pembicara pertama dalam Kongres Pemuda II. Sebagai guru yang aktif dalam pendidikan dan pembinaan pemuda, dia membacakan prasarannya bahwa usaha mencerdaskan bangsa haruslah disertai usaha menciptakan suasana tertib dan disiplin dalam pendidikan. Setelah Poernomowulan, Sarmidi Mangunsarkoro, tokoh pendidikan, juga membacakan prasarannya tentang pendidikan. Dari kesaksian Wage Rudolf Supratman, Poernomowulan dan Sarmidi hadir sebagai pembicara utama dalam kongres tersebut. Ketika acara memasuki pandangan umum, cukup banyak hadirin yang menyambut dengan semangat juga menanggapi prasaran dari para pembicara. Tak hanya Nona Poernomowulan, perempuan yang hadir dalam kongres yang melahirkan Sumpah Pemuda itu antara lain Siti Sundari, Emma Poeradiredja, Suwarni Pringgodigdo, Johanna Masdani Tumbuan, Dien Pantouw, dan Nona Tumbel. Dari 10 perempuan yang hadir, tujuh di antaranya bisa ditelusuri. Total hadirin 750 orang dan hanya 75 orang yang namanya tercatat. “Para pemudi yang hadir lebih banyak dibanding ketika kongres pemuda Indonesia pertama 1926,” tulis Bambang Sularto dalam Wage Rudolf Supratman . Para perempuan yang hadir dalam Kongres Pemuda II aktif dalam pergerakan. Poernomowulan aktif dalam Jong Java. Siti Sundari, adik dr. Sutomo, aktif dalam gerakan dan menerbitkan WanitaSworo . Majalah berbahasa dan aksara Jawa ini terbit di Pacitan pada 1912. Sementara Emma Poeradiredja aktif dalam Jong Java, Jong Islaminten Bond, dan mendirikan Istri Pasundan. Suwarni Pringgodigdo dikenal sebagai pendiri gerakan Istri Sedar. Pasca Indonesia merdeka, dia menjadi anggota DPR. Ketika Kongres Pemuda, Johanna Masdani Tumbuan berusia 18 tahun, kemudian aktif dalam perjuangan kemerdekaan. Dia menerima beberapa penghargaan dari era Sukarno hingga Habibie: medali Sewindu Angkatan Perang Republik Indonesia (1953), Bintang Satya Gerilya (1958), Bintang Satya Lencana Penegak (1967), Bintang Mahaputera Utama (1998), dan beberapa penghargaan lain. Sementara Dien Pantouw merupakan istri dari Sunario Sastrowardoyo. Keduanya pertama kali bertemu saat Kongres Pemuda II dan beberapa waktu setelahnya saling berkirim surat sampai akhirnya menikah. Sedangkan Nona Tumbel adalah anggota Jong Celebes. Kongres Pemuda memiliki peranan yang signifikan terhadap Kongres Perempuan. Sebab, selain Sumpah Pemuda, tujuan utama Kongres Pemuda adalah mempersatukan pemuda dalam satu wadah organisasi. Sementara topik mengenai perempuan tidak banyak dibahas. “Jadi, dari Kongres Pemuda menginspirasi para perempuan untuk membuat kongres perempuan karena Kongres Pemuda pada waktu itu fokusnya untuk membahas pergerakan pemuda tidak banyak membahas topik perempuan,” kata Sejarawan Amurwani Dwi Lestariningsih kepada Historia . Suyatin Kartowijono, salah satu penggagas Kongres Perempuan, tidak hadir dalam Kongres Pemuda kerena berada di Yogyakarta. Meski demikian, dia mengikuti jalannya sidang dari pemberitaan media massa dan kabar dari rekan-rekannya di Jakarta. “Suyatin Kartowijono, tokoh yang begitu gencar memperjuangkan ide-ide perempuan pada saat itu terinspirasi dengan adanya Sumpah Pemuda. Dia mengajak rekan-rekannya untuk menyelenggarakan Kongres Perempuan. Dari awal dia memang punya greget untuk memajukan wanita,” kata Amurwani. Dua bulan setelah Kongres Pemuda, Kongres Perempuan diselenggarakan di Yogyakarta. Kongres membahas masalah dan hak perempuan serta pergerakan kemerdekaan. Hasil kongres menyepakati bahwa perempuan harus ikut serta dalam perjuangan kemerdekaan dan ikut memajukan organisasi-organisasi pemuda.
- Menyergap Inggris di Bojongkokosan
Tentara dan pejuang Indonesia menyergap konvoi pasukan Inggris di Bojongkokosan, Sukabumi. Pasukan pemenang Perang Dunia II itu kewalahan.
- Penumpasan PKI di NTT dalam Dokumen Rahasia AS
DI Pulau Rote, ujung paling selatan Indonesia, seorang antropolog AS, James J. Fox, menyaksikan praktik penumpasan PKI. Dia menetap di Rote sejak 1965 untuk kepentingan studinya di Universitas Oxford, Inggris. Bersama istrinya, dia melaporkan situasi yang terjadi selama masa pembersihan berlangsung kepada Kedubes AS di Jakarta. Kedubes kemudian menerbitkannya dalam laporan berjudul “Conditions and Attitudes in East Nusatenggara” (Kondisi dan Sikap di Nusa Tenggara Timur). Laporan ini menjadi salah satu dari 39 dokumen rahasia AS yang dideklasifikasi pada 17 Oktober 2017. Fox melaporkan bahwa satu detasemen AD tiba di Rote pada Januari atau Februari 1966. Misi tentara memburu Sukirno, kader PKI dari Jakarta yang ditugaskan memimpin PKI di Rote, beberapa minggu sebelum 30 September 1965. Tentara mundur karena tak menemukan yang dicari. Mereka kembali lagi ke Rote pada pertengahan Maret 1966. “Kunjungan ini menghasilkan eksekusi sebanyak 40 sampai 50 orang komunis di Rote ditambah 30 orang lainnya dari pulau tetangga, Sawu,” tulis telegram bernomor A-65 tanggal 3 Agustus 1966. Kunjungan tentara yang ketiga terjadi pada Juni 1966. Satu atau dua orang anggota PKI dieksekusi yang sebelumnya menghindari penangkapan. Fox melakukan perjalanan melalui Timor untuk berbicara dengan sebanyak mungkin masyarakat setempat. Informasi yang digalinya menyimpulkan sekira 800 orang atau paling banyak 1000 orang telah dieksekusi di Timor, Sumba, Alor, Rote, Sabu dan di pulau kecil lainnya. Alor merupakan basis PKI terkuat dengan 105 orang dieksekusi. Sementara untuk Flores, dia tidak mengetahui persis namun diperkirakan jauh lebih banyak. Sebagai antropolog, Fox mengamati implikasi sosial yang ditimbulkan oleh operasi tentara. Alih-alih menuai simpati, aksi pembersihan ternyata menodai citra tentara di mata masyarakat Rote. Daerah ini sebagian besar beragama Kristen dan berisi beragam orang non-Jawa. Sementara, ketika tentara datang, “mereka sebagian besar terdiri dari orang-orang Muslim dari Jawa dan nampaknya penduduk setempat menjadi korban pendudukan orang asing,” kata Fox. Menurut Fox, tentara melakukan pesta mewah hari demi hari dengan mengorbankan harta milik penduduk, yang mengakibatkan populasi ternak (kambing) menipis. Di Kupang, korupsi yang dilakukan tentara diperkirakan meningkat sepuluh kali lipat. Beberapa muatan kapal dari luar negeri yang dibongkar di Kupang, naik ke tangan tentara dan hanya bisa dibeli oleh penduduk dengan harga selangit. Hal ini sempat menimbulkan ancaman kelaparan bagi masyarakat setempat. Kesaksian Pembanding Wartawan senior asal Pulau Sawu, Peter A. Rohi meyakini kebenaran dokumen laporan Fox tersebut. Menurutnya, yang disebut PKI yang dibantai di Timor termasuk Pulau Rote dan Sawu adalah anggota-anggota nonaktif. Mereka kebanyakan petani buta huruf dan nelayan kecil yang berlangganan di koperasi PKI. “Mereka yang masih menganut agama lokal pun disamakan dengan atheis dan atheis itu komunis. Para aktivis yang selama masa itu selalu bertentangan dengan kebijakan pemerintah juga digolongkan komunis. Petani dan nelayan-nelayan itu sama sekali tak mengerti Marxisme. Bagi mereka yang penting kebutuhan mereka tersedia di koperasi yang ternyata milik PKI,” kata Peter. Bahkan, Peter mengungkapkan saudara sepupu ibunya beserta anak sulungnya yang pulang melaut langsung ditangkap tanpa diberi kesempatan pulang ke rumah. Keduanya kreditur jaring di koperasi milik PKI lantas dibunuh bersama banyak orang lain yang PKI atau di-PKI-kan. Seorang hakim di Ende, Flores, bernama Soedjono ditangkap massa dan dibunuh hanya karena namanya sama dengan seorang buronan PKI di Jawa. Setelah itu, baru diketahui dia bukanlah Soedjono yang dicari. “Pokoknya histeria massal saat itu terjadi karena selebaran-selebaran hoax seakan-akan PKI akan membunuh semua ulama dan pendeta, pastor, para pejabat resmi, serta tokoh masyarakat yang berpengaruh yang namanya tercantum dalam selebaran itu,” kata Peter. Pengalaman senada juga dikisahkan Ben Mboi dalam memoarnya Memoar Seorang Dokter, Prajurit, Pamong Praja . Menurut dokter yang saat itu berdinas di Flores dan Ende, kehadiran PKI di desa-desa bertumbuh karena PKI diplesetkan menjadi Partai Koperasi Indonesia, dan seterusnya. Keanggotaan PKI pun diimingi-imingi naik haji bagi petani kecil, atau pedagang keliling, dan sebagainya. Ketika situasi politik berbalik menekan PKI, tragedi kemanusiaan yang memilukan pun tak terelakkan. Gerakan kontra PKI berjalan cepat dan kejam sekali. Aksi pengganyangan menyala-nyala dan tak manusiawi. “Tokoh-tokoh komunis disiksa, dipukuli sampai luka-luka, dikirim ke rumah sakit, dikembalikan lagi, disiksa lagi, dikirim lagi ke rumah sakit, sampai persediaan alat balut yang sudah terbatas itu makin terkuras saja,” kata Mboi yang kemudian menegur kepala Kodim setempat. Di Ende, keadaan tak jauh berbeda. “Ada orang PKI yang disiksa lalu ditembak, ada yang disiksa sambil berjalan sampai mati, ada yang dibakar hidup-hidup.” Mboi juga menyaksikan ada dua guru yang dipenggal dan diarak massa keliling kota Ende, lalu dipamerkan di tugu tengah kota. Kedua jenazah baru dikuburkan setelah kepala seksi satu Kodim mendapat teguran. Menurut Mboi, korban keganasan epilog G30S di Flores terbesar kedua setelah Bali. Selain PKI, anggota-anggota PNI kubu Ali-Surachman juga menjadi korban. Keganasan tak lebih ringan dari yang dialami PKI, malahan lebih ganas, oleh karena ada motif pribadi. “Masa ini benar-benar merupakan the blackest and the bleakest months of my life (paling gelap dan paling suram dalam hidupku), dan sampai hari ini pun bayangan bulan-bulan itu masih terpatri dalam ingatan seperti baru terjadi kemarin saja!” kenang Mboi yang meninggal pada 23 June 2015.
- Menanti Janji Restorasi dari Gubernur DKI
DARI Jalan Sawah Lio, Jembatan Lima, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat, masjid itu mencolok dengan warna hijau. Menara silinder bertingkat empat berwarna hijau yang nampak uzur menjulang dari sebelah kanan masjid. Catnya mengelupas di beberapa bagian. Kayunya pun keropos. Tak ada halaman luas di depan masjid itu. Dari jalan aspal masuk pintu pagar langsung turun ke serambi masjid yang tak lebar, pun penuh debu jalanan. “Makanya sering kebanjiran. Air bisa sampai sebetis. Itu karena jalan lebih tinggi dibanding sini,” ujar Cholis NS, sekretaris Masjid Jami Al Mansur, sambil menunjuk ke lantai masjid, ketika ditemui di kantor sekretariatnya. Bahkan, kata Cholis, masjid pernah tak bisa menyelenggarakan salat Jumat karena bajir pada 2012. Pada Februari lalu, ruangan imam, mihrab, dan ruang utama kembali terendam. Air menggenang sedalam 60 cm. “Sekarang sih tidak segitunya,” kata Cholis. Melewati pintu utama masjid, kekunoannya kian terasa. Daun pintu utama masih seperti aslinya, sebelum masjid dipugar di sana-sini. Di dalam ruang utama, masih dengan dominasi warna hijau, ada empat tiang utama (soko guru) yang lebih lebar dari pelukan tangan satu orang dewasa. Bagian bawah pilar bersegi delapan. Di atasnya ada pelipit genta, kemudian diikuti pelipat penyangga. Barulah diikuti pilar silinder pada batang utamanya. Di tengah ketinggian soko guru tadi, balok-balok kayu berpagar melintang menyambung keempat pilar. Balok-balok kayu tadi gunanya menopang tangga menuju loteng. Di atasnya ada atap berbentuk limasan bertingkat tiga. “Menaranya sudah hampir lapuk, takutnya jatuh kena orang. Di dalam masjid kayunya juga sudah keropos nanti bisa kena jamaah,” jelas Cholis. Cholis dan pengurus pun begitu berharap ketika akhir pekan lalu Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berjanji memprioritaskan renovasi masjid yang berulang tahun ke-300. Sejauh ini tak banyak perhatian untuk kelestarian masjid itu. Meski sudah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya (BCB) sejak 1988, masjid ini baru sempat direnovasi pada 2015. Itu pun hanya perbaikan bagian langit-langitnya yang terlihat kumuh. Dananya didapat dari sumbangan donatur dan jamaah yang berhasil dihimpun pengurus masjid. “Berharap itu bisa mendorong Pemda memberikan kontribusi besar. Setelah statement Pak Anies disaksikan banyak orang, semoga ini terealisasi dengan cepat,” harap Cholis. Mengenang Muhammad Mansur Masjid yang dulunya bernama Masjid Jami Kampung Sawah termasuk dalam jajaran masjid tertua di Jakarta bahkan Indonesia. Masjid ini dibangun pada 1717 oleh Abdul Muhith, anak Pangeran Tjakrajaya, Tumenggung Kerajaan Mataram yang datang ke Batavia untuk melawan Belanda. Pada 27 Agustus 1767, sepulang menuntut ilmu di Mekah sekaligus berhaji Imam Muhammad Arsyad Banjarmasin singgah di Batavia. Bersama sahabatnya, Abdul Shomad Al-Palembangi dan Abdul Rahman Al-Mashri, dia memperbaiki letak mihrab masjid. Pembetulan arah kiblat itu dilakukan bersama para ulama setempat. Baru pada 1937, Muhammad Mansur, buyut Abdul Muhith, mengadakan perluasan bangunan. Demi menjaga terpeliharanya masjid dan makam para ulama yang ada di halaman barat masjid, di sekitar wilayah itu dibuatkan pagar tembok, sekarang menjadi pagar besi. Untuk kedua kalinya, masjid kembali diperluas dan dipugar pada 1960-an. Cholis menjelaskan, Masjid Jami Al Mansur mempunyai peranan di masa perjuangan kemerdekaan Indonesia. Pada masa pimpinan Muhammad Mansur, masjid ini dijadikan pusat pembangunan mental rakyat. Basis perjuangan masyarakat mempertahankan proklamasi kemerdekaan juga terjadi di sana. “Pada 1948, Jakarta kembali diduduki Belanda, Muhammad Mansur berani melawan Belanda, tetap mengibarkan bendera merah putih di menara masjid,” jelasnya. Belanda menyuruh untuk menurunkan bendera itu. Namun, kakek buyut ulama kondang, Yusuf Mansur itu menolak mentah-mentah. Menara itu ditembaki serdadu Belanda. Muhammad Mansur pun ditangkap. Muhammad Mansur juga dikenal sebagai ulama yang konsisten menyebarkan keilmuannya tanpa dipengaruhi orang lain, terutama soal perhitungan hisab. “Sampai sekarang kami masih pakai hisab -nya, misalnya pemerintah berbeda kami nggakngikutin pemerintah kami ngikutin perhitungan beliau,” terang Cholis. Setelah Muhammad Mansur meninggal pada 12 Mei 1967 Masjid Jami Kampung Sawah berubah nama. Masjid ini dinamai dengan nama sang tokoh untuk mengenang jasanya. Hingga kini berbagai tokoh nasional pernah mengunjungi masjid ini, seperti Sukarno, Adam Malik, A.H. Nasution, Hasyim Asyari, Ahmad Dahlan, dan Hamka. “Kami berharap beliau bisa dijadikan tokoh Jakarta, Jakartawi. Kalau sebutan Betawi kan katanya agak kolonialis ya,” kata Cholis. Restorasi Tak Mudah Menyoal janji Anies Baswedan merenovasi Masjid Jami Al Mansur, nampaknya tak mudah. Pasalnya, menurut Chandrian Attahiyat, arkeolog senior di Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Pemprov DKI Jakarta, hanya BCB yang masuk dalam aset milik DKI Jakarta yang dapat dianggarkan melalui APBD. Artinya, bangunan milik masyarakat atau perusahaan tidak boleh menggunakan anggaran Pemprov DKI Jakarta. “Kalau bukan (milik Pemprov, red ) tidak boleh dianggarkan. Ini bisa jadi pelanggaran,” ujar Chandrian kepada Historia . Chandrian sendiri sebenarnya menyayangkan ketentuan itu yang berakibat banyak BCB terbengkalai. Sebab, tak semua masyarakat pendukung suatu BCB memiliki kemampuan pendanaan yang mencukupi untuk melakukan restorasi. Makanya, karena sulitnya pendanaan bagi BCB yang bukan masuk aset pemerintah, lahirlah beberapa yayasan seperti Yayasan Lingkar Warisan Kota Tua. “Jadi, perlu ada yayasan seperti ini lagi, yang bisa membantu bangunan yang memerlukan,” kata Chandrian. Chandrian menilai perlu untuk diatur kembali mengenai penganggaran pemugaran. Bangunan masyarakat pun bisa milik perorangan, bisa pula milik publik. Tempat ibadah, seperti gereja, klenteng, masjid, dan bangunan yang digunakan bersama oleh masyarakat, seperti sekolah semestinya perlu bantuan dari anggaran pemerintah. Sepuluh tahun lalu bisa dianggarkan, namun sekarang sulit dilakukan karena adanya pengetatan anggaran. “Secara logika memugar milik orang lain buat siapa? Kan dia punya duit juga. Padahal bisa dilakukan masyarakat dengan bikin paguyuban pemilik BCB. Mereka bisa menggalang dana,” kata Chandrian. Meski begitu, ada cara lain. BCB milik masyarakat tetap bisa dipugar dengan cara memanggil investor seperti bangunan-bangunan di Kawasan Kota Tua. Di sana, banyak BCB bukan milik Pemprov DKI Jakarta. “Bisa dilakukan kerja sama dengan public privat partnership, antara investor dan pemilik bangunan. Nanti terserah buat apa,” jelas Chandrian. Menurut Chandrian, bagi BCB yang bukan aset Pemprov DKI Jakarta tetap bisa diajukan untuk direstorasi melalui Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP). Pengajuan dilengkapi dengan rekomendasi izin dari tim sidang pemugaran. Pemohon akan diminta presentasi mengenai keinginan mereka itu. “Bukan pemiliknya (yang presentasi, red ), tapi arsitek perencananya,” kata Chandrian. Konsultasi dilakukan dengan pihak arsitek perencanaan. Dari sana didapat masukan sampai gambar perencanaan. Untuk konsultasi ini tidak diminta biaya apapun. Rekomendasi untuk lampiran perizinan bisa keluar setelah dua atau tiga kali persidangan. Sejauh ini, khususnya bangunan masjid kuno memang tidak semua terawat dengan baik. Apalagi yang letaknya di tengah permukiman warga kelas menengah ke bawah. Di DKI Jakarta, ada 17 masjid yang sudah berstatus BCB di lima wilayah: Jakarta Utara dan Jakarta Pusat masing-masing empat masjid, tujuh masjid di Jakarta Barat, di Jakarta Timur dan Jakarta Selatan masing-masing satu masjid. Dari 17 masjid kuno itu, Masjid Angke yang paling tua, dibangun sekira tahun 1761. “Rata-rata usianya di atas 50 tahun. Ada yang paling muda Masjid Istiqlal, tapi karena dia punya nilai sejarah, budaya, dan membanggakan negara, bisa diangkat menjadi cagar budaya,” tambah Chandrian .
- Misteri Insiden Kwini
JAKARTA, Oktober 1964. Kawasan sekitar asrama Korps Komando Angkatan Laut (KKo AL) di Kwini, dicekam ketakutan senja itu. Bunyi tembakan kerap terdengar, diselingi teriakan-teriakan dari para lelaki berambut cepak. Sebagian berseragam hijau, sebagian lagi memakai pakaian preman. Kedua kelompok itu rupanya terlibat dalam suatu perkelahian massal yang seru. Di tengah situasi tegang tersebut, Mayor L.B. Moerdani alias Benny Moerdani diam-diam memarkir jip-nya di satu sudut Pasar Senin. Ia kemudian bergerak ke arah gedung RSPAD (Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat). Setelah menyaksikan belasan prajurit Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) dan KKo AL bergeletakan dengan bermandikan darah, ia lantas bergerak ke asrama KKo. Begitu sampai di pintu gerbang asrama pasukan elit Angkatan Laut itu, ia menyaksikan puluhan anggota KKo memakai seragam Tjakrabirawa tengah siap-siap mengokang senjata, sebagian terlihat mengatur posisi tempur masing-masing. Namun seolah tak peduli, Benny yang masih berseragam olahraga (karena baru pulang main tenis di Senayan), tanpa ragu-ragu tetap melangkah masuk. Alih-alih disambut hardikan, beberapa prajurit Tjakrabirawa itu malah dengan sigap segera memberi hormat. Rupanya mereka adalah anggota KKo yang dulu pernah menjadi anak buahnya di palagan Irian Barat. “Siap Pak, bisa saya bantu?” kata salah satu dari mereka. ”Mana Komandanmu?” jawab Benny singkat. “Siap Pak, silahkan tunggu…” Para anggota KKo yang tidak mengenal Benny, terlihat tegang. Sebagian saling berbisik dari kejauhan. Mereka heran menyaksikan seorang sipil berpakaian olahraga berani masuk asrama militer yang tengah bersiaga. Tidak sampai dua menit, seorang perwira KKo datang dan langsung menghampiri Benny. Dialah Mayor Saminu, wong Solo kenalan lama Benny. “Piye iki? Kok, malah dadi ngene kabeh, Ben?” serunya. “Yo wis -lah, sing penting sekarang jaga pasukanmu agar jangan keluar asrama. Saya akan tertibkan anak-anak. Kalau kamu diserang, yaaa …Sudah silahkan, mau ditembak atau apa, terserah saja. Tapi saya minta jangan ada anggotamu keluar asrama.” jawab Benny. “ Yo, wis beres,” jawab Saminu sambil terus membuat perintah-perintah kepada para bawahannya. Menyaksikan komandannya ada di dalam lingkungan asrama Kwini, isu segera menyebar di kalangan anak-anak RPKAD. Beberapa berteriak: “Pak Benny ditangkap! Pak Benny ditangkap KKo!” Sontak mereka lantas segera berebutan menuju asrama perawat putri RSPAD yang ada persis di samping asrama Kwini: mendudukinya dan langsung membuat formasi tempur. Di lantai atas asrama perawat tersebut, terlihat seorang prajurit RPKAD sudah mengarahkan sepucuk bazoka ke asrama KKo. Suasana hening menyelimuti kawasan Kwini. Tak ada satupun orang-orang sipil yang berani lewat wilayah tersebut. Mobil-mobil memilih memutar kembali, dari balik toko-toko sekitar Senen yang sebagian segera ditutup, orang-orang menahan nafas, membayangkan lingkungan mereka sebentar lagi akan menjadi ajang berseliwerannya peluru tajam. Sementara itu, sambil menunggu datangnya perintah tembak, para anggota RPKAD sudah siap-siap menyerbu asrama Kwini. Alih-alih muncul perintah menyerbu, yang ada malah mereka mendengar teriakan galak Benny: “Sudah! Sudah! Pulang kalian semua!” ujar Benny yang tiba-tiba muncul dari arah pintu gerbang asrama Kwini. Sambil mengibas-ngibaskan tangannya, Benny memerintahkan semua anggota RPKAD yang tengah siaga untuk mundur dari wilayah sekeliling Kwini. Mendengar teriakan komandan mereka, para prajurit komando berpakaian sipil itu menurut. Namun ada beberapa dari mereka yang terlihat “agak tidak terima” untuk mundur. Nah prajurit-prajurit ini yang tubuhnya kemudian didorong oleh Benny dan dengan tegas diperintahkannya untuk naik ke atas truk masing-masing dan pulang kembali ke asrama mereka di Cijantung. Demikian pemaparan Insiden Kwini versi Benny, seperti yang dia sampaikan kepada Julius Pour dalam Benny Moerdani, Profil Prajurit Negarawan. Lantas bagaimana versi prajurit KKo AL yang pernah terlibat dalam insiden tersebut? Kepada Historia , Kopral (Purn) Ali Mutaqiem (79) menampik cerita Benny. Alih-alih menyetujui Benny sebagai penengah, Ali malah menyebut Benny justru datang ke Kwini berlaku sebagai pemimpin para penyerbu. Dengan mata kepala sendiri, Ali menyaksikan Benny turun dari sebuah panser kecil di salah satu sudut asrama Kwini dan langsung melakukan gerakan memanjat pagar asrama. “Dia sebenarnya sudah masuk dalam teleskop Prajurit Soekandar, penembak runduk kami…” ungkap anggota KKo AL yang pada 1972 mengajukan pensiun dini itu. Saat beberapa detik lagi picu pelatuk akan ditarik, tetiba seorang perwira KKo AL bernama Kapten Munarto berteriak,” Jangan tembak! Biarkan saya yang menangkap dia!” Benny kemudian ditangkap. Dia digelandang ke depan pos penjagaan, bergabung dengan beberapa anak buahnya yang berhasil pula ditangkap oleh para prajurit KKo. Tak lama kemudian Mayor Saminu (Komandan Batalyon II Tjakrabirawa dari KKo AL) datang. Ia lantas mendekati Benny dan bertanya dalam nada agak keras. “Ben, mereka ini anak buahmu kan?!” Hening. Benny tak menjawab. Singkat cerita, Benny dan anak buahnya kemudian dilepaskan. Beberapa hari kemudian, Mayor Benny dan Mayor Saminu dipanggil oleh Presiden Sukarno ke Istana Negara. Di depan mereka lantas dijejerkan baret merah menyala milik RPKAD dan baret merah darah milik Resimen Tjakrabirawa. Presiden menyilakan semua untuk melihat sendiri, apakah kedua baret yang menjadi pangkal masalah itu, warnanya sama? Kasus kemudian dianggap selesai. Sebagai bentuk perdamaian, pihak Markas Besar ABRI kemudian mengundang prajurit-prajurit dari kedua belah pihak untuk datang ke Gedung Bulutangkis Senayan. Menurut Benny, mereka disuguhi pertunjukan lawak dari S. Bagio cs. Semua berpelukan, semua menyatakan masalah telah selesai. “Tapi tetap saja pas pulang dari acara itu, kami terlibat kembali perang botol,” ujar Ali sembari tertawa.
- Masa Silam Cerita Binatang
Pada sebuah panil relief di dinding utara Candi Sojiwan, Klaten, Jawa Tengah, terdapat seekor kera terlihat naik di atas punggung buaya. Panil lain menggambarkan seekor kura-kura diterbangkan dua ekor angsa. Kura-kura itu disuruh menggigit kayu. Gambar semacam ini juga ada di dinding Candi Mendut, Magelang. Dwi Pradnyawan, arkeolog Universitas Gadjah Mada, menjelaskan pada periode Jawa Tengah selain ditemukan di Candi Sojiwan dan Candi Mendut, cerita binatang juga ada di Candi Borobudur, Candi Mendut, Candi Morangan, dan Candi Gampingan. Sedangkan pada periode Jawa timur, cerita binatang dapat ditemukan di Candi Surawana, Candi Tegawangi, Candi Panataran, dan candi-candi di Gunung Penanggungan. Pada percandian periode Jawa Tengah, sumber ceritanya lebih banyak mengambil dari Jataka yang banyak menampilkan hewan sebagai perwujudan masa lalu Buddha. Hewan yang menjadi tokoh utama di Jataka lebih banyak bersifat protagonis. "Hewan yang memiliki sifat mulia berinkarnasi menjadi Buddha. Kancil, singa, monyet, angsa, banyak di cerita itu mereka mengrbankan diri untuk kepentingan mulia. Sama dengan kebudhaan," jelas Dwi. Dalam Kidung Tantri Kediri , filolog Revo Arka Giri Soekatno mencatat jumlah cerita Jataka mencapai 547. Di samping Jataka , sumber cerita binatang lainnya berasal dari India, yaitu Pancatantra . Cerita binatang pada candi periode Jawa Timur lebih terlihat perpaduan cerita Jataka dan Pancatantra . “Di Jawa Timur memang kaitannya ada dengan dua naskah, tapi belum tahu mana yang lebih dominan,” ujar Dwi. Johannes Hertel, Indolog dari Jerman, percaya naskah Pancatantra dibuat oleh Wisnusarman, seorang brahmana, di Kashmir sekira 200 SM. “ Katanya ini sudah sejak masa weda,” kata Dwi. “Wisnusarman diperkirakan mengambil banyak tradisi lisan di kehidupan masyarakat. Bisa dari kalangan elite, bisa pula dari kalangan lebih luas. Mereka mengumpulkan lalu menulis dalam bentuk Pancatantra , dari cerita rakyat tradisi lisan.” Dari segi cerita, tak jauh berbeda dengan Jataka yang lahir pada masa Buddhisme. Perbedaannya, ajarannya terdiri atas lima buku atau lima ajaran ( Pancatantra ). Ciri khas Pancatantra terutama ialah bahwa ceritanya dikisahkan dalam bentuk cerita bingkai yang disebut Kathamukha. Cerita-cerita ini kemudian dianyam menjadi satu dengan yang lain. Setiap cerita biasanya berbentuk prosa, moral cerita diringkas dalam bentuk seloka. Ketika Buddha masuk, cerita ini kemudian dikemas dengan bingkai Buddhisme. Beberapa cerita dimodifikasi, sampai kemudian tersebar saat tradisi Hindu-Buddha masuk ke Jawa. “Sejauh ini bagaimana kaitannya dengan cerita lokal tidak tahu. Yang jelas sumbernya (cerita binatang dalam relief, red ) dari kerangka besar Pancatantra dan Jataka,” kata Dwi. Murti Bunanta, pakar dongeng dari Universitas Indonesia, mengatakan tak semua cerita binatang datang dari Indonesia. Sulit mengatakan dongeng binatang tertentu asli dari Indonesia. Pasalnya, di berbagai belahan dunia pun dikenal model cerita yang sama. “Banyak cerita mirip tapi tokoh lain, misalnya tokoh penipu di seluruh dunia sepertinya ada. Seperti di Jawa kita kenal kancil, di Eropa ada rubah,” ujar Murti kepada Historia . Menurut Murti cerita binatang sejak dulu hingga kini selalu berbicara soal moralitas. Penyampaiannya baik lisan maupun tulisan. Namun, pendengar dongeng pada masa lalu kemungkinan dari segala usia berbeda dengan sekarang yang dibedakan antara penikmat dewasa dan anak-anak. “Ibaratnya kalau dulu seperti sedang menonton wayang. Anak-anak dan dewasa juga bisa ikut nonton. Dulu, ya campur saja,” kata Murti. Murti menilai tak ada perbedaan signifikan antara menyampaikan pesan moral lewat cerita binatang dengan cerita yang bertokoh manusia. “Itu tergantung, tidak selalu cerita binatang lebih menarik anak-anak, misalnya. Tersampaikannya pesan juga sama saja,” lanjut Murti.
- Penumpasan PKI di Surabaya
HANYA dalam hitungan hari, sejak Gerakan 30 September (G30S) 1965 meletus, nasib Partai Komunis Indonesia berubah drastis. Anggota dan simpatisannya diuber-uber tentara dan massa untuk dibersihkan. Propaganda anti-PKI pun dilancarkan ke berbagai kota, termasuk Surabaya. Pada 31 Oktober 1965, Mayor Basuki Rahmat, komandan Batalyon 16 Brigade Ronggolawe Divisi Jawa Timur, mengeluarkan edaran yang membandingkan G30S dengan pemberontakan Madiun tahun 1948. “Gambar-gambar besar mengenai kondisi tubuh keenam jenderal yang meninggal dipasang di sudut-sudut kota, dengan keterangan bahwa Gestapu dan Madiun adalah sama,” tulis telegram bernomor 164 yang dikirim tanggal 4 November 1965 dari Konsulat AS di Surabaya ke Kedubes AS di Jakarta. Istilah Gestapu atau Gerakan September Tiga Puluh adalah upaya psywar dari tentara untuk menyamakan G30S dengan Gestapo atau dinas polisi rahasia Nazi-Jerman era Adolf Hitler. Di Surabaya, menurut Antonius Sumarwan dalam Menyeberangi Sungai Air Mata: Kisah Tragis Tapol ‘65 dan Upaya Rekonsilias, aksi dimulai pada 16 Oktober 1965 dengan pawai akbar dan tindakan terorganisir untuk menghancurkan dan membakar kantor Comite Daerah Besar PKI di Jalan Pahlawan. “Kemudian walikota sementara, Kolonel Sukotjo, membersihkan staf pemerintahan, Rukun Kampung (RK) dan Rukun Tetangga (RT) dari unsur PKI. Penculikan dan pembantaian dilaksanakan oleh kelompok agama,” tulis Sumarwan. Sukotjo, komandan Kodim 0830/Kota Surabaya, menggantikan Moerachman sebagai walikota Surabaya yang ditangkap karena memiliki hubungan dengan PKI. “Keterangan yang ada menyebutkan walaupun beliau bukan PKI, tetapi memiliki hubungan yang dekat dengan partai yang pada Pemilu 1955 ini memperoleh suara terbanyak di Kota Surabaya,” tulis Sarkawi B. Husain dalam Negara di Tengah Kota: Politik Representasi dan Simbolisme Perkotaan: Surabaya, 1930-1960. Sukotjo lahir di Tulungagung pada 1921 dan bersekolah di HIS, MULO, dan AMS. Karier militernya dimulai dengan menjadi anggota Pembela Tanah Air (Peta) pada masa pendudukan Jepang. Pada 1949, dia menjadi staf dalam Kompi Dekking Komando Brigade S dari Batalyon Sabirin kemudian menjadi Batalyon Sikatan di bawah Soekadji Hendrotomo. Kompi ini bertugas di daerah Gunung Wilis, Jawa Timur. Pada 19 Februari 1949, Sukotjo dan anak buahnya yang berjaga di Desa Selopanggung, Kediri, menangkap seseorang yang kemudian dikenali sebagai Tan Malaka. “Sukotjo memerlukan sedikit waktu sebelum mengambil keputusan: Tan Malaka seorang komunis yang berbahaya, yang terhadapnya harus diberlakukan hukuman militer. Sukotjo memberikan perintah, dan orang yang ditugasi menembak adalah Suradi Tekebek,” tulis Harry A. Poeze dalam Tan Malaka, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia jilid IV. Selain membersihkan staf pemerintahan Kota Surabaya dari unsur PKI hingga ke tingkat RT, Sukotjo juga mencoba menurunkan harga beras. Pada 22 November 1965, seperti ditulis dalam telegram nomor 183 yang diterima Kedubes AS di Jakarta pada 26 November 1965, Sukotjo memerintahkan kepada segenap pengusaha Tionghoa yang berbisnis beras untuk membuka toko dan menurunkan harga hingga 30 persen. Beberapa hari sebelumnya, banyak toko milik Tionghoa tutup lantaran beredar kabar bahwa tanggal 17 dan 18 November 1965 akan datang serangan dari Ansor, organisasi sayap pemuda Nahdlatul Ulama. Pasukan dari Angkatan Darat di Kota Surabaya juga bertambah. Pada 20 November 1965, Batalyon 507 atau dikenal sebagai Batalyon Sikatan dari Divisi Brawijaya berlabuh di pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. “Batalyon ini akan digunakan untuk ‘penumpasan Gestapu’ di Jawa Timur,” tulis telegram nomor 183 yang menjadi bagian dari 39 dokumen rahasia AS yang telah dideklasifikasi.
- Pertempuran Lima Hari di Semarang
Rebutan senjata memicu orang-orang Semarang perang melawan Jepang.
- Persija dan PSMS Berbagi Trofi Juara
SEPAKBOLA nasional di dekade 1970-an, seolah hanya milik dua tim adidaya: Persija Jakarta dan PSMS Medan. Hanya Persebaya Surabaya yang mampu “menyempil” sebagai juara perserikatan tahun 1978. Sisanya (1971-1979), juaranya bergantian antara Persija dan PSMS. Malahan pada musim 1975, Persija dan PSMS harus berbagi trofi juara perserikatan. Ini juara bersama yang pertama dan terakhir hasil keputusan kontroversial Ketua Umum PSSI Bardosono. Macan Kemayoran dan Ayam Kinantan harus bentrok di partai puncak. Ini kali pertama mereka bertemu di momen pamungkas penentu gelar. Stadion Senayan (kini Gelora Bung Karno) jadi saksi bisu partai final pada 8 November 1975 yang mencatat rekor jumlah penonton mencapai 125 ribu orang. Rekor ini terpecahkan sepuluh tahun kemudian oleh laga final PSMS melawan Persib dengan 150 ribu penonton yang belum terpecahkan hingga sekarang. Suporter PSMS sudah berloncatan di bangku penonton saat pertandingan yang dipimpin wasit Mahdi Talib asal Malang baru berjalan 10 menit. Melalui kerja sama dengan Nobon dan Mariadi, Parlin Siagian mengubah papan skor 1-0 setelah menyarangkan bola ke gawang Persija yang dikawal Sudarno. Tempo permainan berangsur meningkat. Persija yang terhenyak oleh gol pembuka lawannya, berusaha keras mengejar ketertinggalan. Akhirnya, pada 19 menit jelang turun minum, papan skor berubah menjadi imbang 1-1. Surat kabar Pikiran Rakyat , 10 November 1975, menggambarkan proses terciptanya gol itu: sebuah umpan manis dari Iswadi disambut sundulan apik Sofyan Hadi hingga berbuah gol ke gawang Pariman yang mengawal mistar PSMS. Skor imbang 1-1 kian memanaskan situasi di lapangan. Sejumlah kontak fisik terjadi lebih sering. Termasuk di menit ke-29 ketika wasit Mahdi, memberi tendangan bebas bagi Persija. Tak terima keputusan Mahdi, para pilar PSMS mengerubungi sang pengadil karena merasa pemain Persija melakukan diving . “Menit ke-29 terjadi pelanggaran atas Andi Lala dan kiri luar Persija ini secara agak dibuat-buat, jatuh terpelanting. Wasit memberikan tendangan bebas untuk Persija. Keputusan ini tidak memuaskan para pemain PSMS. Mereka mengerumuni wasit dan beberapa di antaranya mendorong-dorong Mahdi Talib,” tulis Kompas , 10 November 1975. Dua menit berselang, terjadi tindakan kasar dari Sarman Panggabean terhadap pemain Persija, Junaidi Abdillah. Padahal, insiden itu terjadi ketika sedang tidak ada bola. Hanya saja tiba-tiba Junaidi harus tergeletak sembari meringis setelah perutnya ditendang Sarman. Wasit hanya mengganjar Sarman dengan kartu kuning. Tak terima dengan keputusan itu, para punggawa Persija membalas dengan mengincar para pemain PSMS. Iswadi Idris melayangkan pukulan kepada Nobon dan Suwarno. Iswadi dikartumerah, sementara korbannya dilarikan ke rumah sakit. Keadaan semakin memanas dan nyaris meletus perkelahian besar di lapangan. Wasit menyetop laga pada menit ke-40. Setelah berembuk dengan Komisi Pertandingan, partai final resmi dihentikan. PSSI lantas memutuskan kedua finalis dinyatakan juara bersama, lantaran pertandingan tak lagi bisa diteruskan dengan keadaan seperti itu. Persija dan PSMS berbagi trofi yang ditetapkan dengan SK Ketum PSSI Nomor 95 Tahun 1975 tentang Dwi Juara Nasional PSSI 1973/1975 tanggal 8 November 1975. Ketetapan ini pula yang memaksa para pemain PSMS dan Persija mau menerima medali. Trofinya sendiri diserahkan Bardosono untuk diusung bersamaan oleh kedua kapten, Oyong Liza dari Persija dan Yuswardi mewakili PSMS.
- Obsesi Manusia untuk Terbang
KELIHAIAN burung menggelitik obsesi manusia untuk bisa terbang. Karena keterbatasan pengetahuan, awalnya obsesi ini baru dituangkan dalam figur-figur fantasi tentang makhluk bersayap: setengah manusia, setengah burung. Dalam mitologi Yunani Kuno (abad 8-1 SM), sayap terbang kali pertama diciptakan Daidalos, seorang seniman. Dia menciptakan sayap yang terbuat dari bulu unggas dan lilin untuk anaknya, Ikaros, di dalam penjara. Ikaros menerima sayap itu dan menggunakannya untuk kabur dari penjara. Kegirangan terbang, Ikaros lupa pesan ayahnya: jangan terbang dekat dengan matahari. Sayap itu terbakar sinar matahari sehingga Ikaros terjatuh. Meski tak mungkin mempunyai sayap serupa burung, manusia tak pernah berhenti mewujudkan obsesinya. Serupa Burung Manyar Berbekal alat sederhana berupa jubah sutra dan bulu elang yang dipasang ke seperangkat kayu, Ibnu Firnas meluncur dari sebuah bukit di Cordoba. Mu’min Ibnu Said, seorang penyair yang menyaksikan aksi itu pada sore di musim gugur 852, menulis, “Firnas terbang lebih cepat dari Phoenix ketika dia menggunakan bulu-bulu di badannya, seperti burung manyar.” Lantaran terjatuh, Firnas menderita cidera punggung parah. Glider Meski penerbangannya tak begitu sukses, alat yang dipakai Firnas mendapat perhatian luas ilmuwan. Dua abad setelah Firnas, seorang pendeta dari Malmesbury memperbaiki rancangan Firnas. Dengan menambahkan ekor, dia menyebut alat itu sebagai glider . Dari menara lonceng, dia berhasil terbang selama 15 menit dengan jarak tempuh 200 meter. Sekarang, glider sering dipakai untuk olahraga paralayang. Ornithopter Leonardo Da Vinci, ilmuwan Italia, mengembangkan temuan itu pada 1488. Konsep itu disebut ornithopter . Istilah itu berasal dari bahasa Yunani, ornithos yang berarti burung dan pteron yang berarti sayap. Konsep alat ini mengambil prinsip kerja sayap burung dan serangga. Da Vinci memandang bobot manusia cukup berat jika hanya ditopang dengan sayap tetap. Karenanya orang perlu sayap yang lebih dinamis untuk terbang lebih lama dan jauh. Naga Bersayap Empat Percobaan ornithopter pada 1496 tak memuaskan sejumlah ilmuwan. Selain tak bisa terbang, ornithopter dinilai belum aman. Konsep glider bersayap empat pun diperkenalkan pada 1647. Pengembangnya, seorang Italia bernama Tito Livio Burattini, menjanjikan alat yang disebut “naga bersayap empat” ini mampu meminimalkan cidera saat pendaratan atau kecelakaan. Kapal Udara Sebuah tulisan mengenai perhitungan massa benda di udara terbit pada 1670. Penulisnya, Francesco Lana de Terzi, menyimpulkan bahwa sebuah benda dapat lebih ringan ketimbang udara jika menggunakan tembaga besar yang menyimpan ruang gas di dalamnya. Ruang itu digunakan sebagai tenaga pengangkat. Sirkulasi udara harus dijaga sebaik mungkin agar benda tetap bisa terbang. Karya ini mengilhami penemuan kapal udara oleh Barthomeleo Gusmao, seorang Portugis, pada 1709. Inilah penerbangan pertama manusia tanpa sayap. Kelak penemuan ini mengilhami terciptanya Zeppelin. Balon Udara Dua bersaudara, Joseph dan Jacques Montgolfier, berhasil menerbangkan benda dengan menggunakan prinsip kapal udara pada 1783. Mereka mengganti material tembaga dengan bola raksasa yang terbuat dari sutera. Pada bagian bawah bola terdapat celah yang digunakan untuk pembakaran jerami. Udara panas itu menjadi sumber tenaga. Sebuah kotak tanpa penutup diikat pada bola tersebut. Mereka masuk ke kotak tersebut. Penerbangan mereka disebut “penerbangan lebih-ringan-daripada-udara”. Monoplane Setelah usaha “penerbangan-lebih-ringan-daripada-udara” tanpa sayap, orang mulai kembali berpikir tentang sayap. George Cayley, penjelajah asal Inggris, menggambar sketsa pesawat terbang sederhana beserta prinsip kerjanya pada akhir abad ke-18. Dia dianggap sebagai peletak dasar bentuk pesawat terbang modern. William Samuel Henson dan John Stringfellow, ilmuwan, bekerja sama menyempurnakan penggunaan sayap. Mereka menciptakan mesin terbang tenaga uap sayap tunggal pada 1840. Lebar sayapnya mencapai 45,7 meter. Penerbangan mereka dikenal sebagai “penerbangan-lebih-berat-daripada-udara”. Zeppelin Ahli aeronautika (ilmu penerbangan) Jerman, Ferdinanz Adolf Heinrich August von Zeppelin, menciptakan balon udara berbentuk cerutu raksasa yang mudah dikendalikan. Menggunakan prinsip kapal udara, Zeppelin, nama pesawat ini, dapat terbang lebih terarah. Pesawat ini sudah dilengkapi sirip, mesin, dan kemudi. Pada 1900, Zeppelin berhasil melakukan uji terbang pertamanya. Pesawat tanpa sayap ini melayani penerbangan komersial pertama di dunia pada 1909. Ketika perang meletus, fungsi komersialnya ditiadakan lantaran pesawat ini lebih banyak dipakai untuk perang.
- Wallace Menuntun Dubois Menemukan Manusia Jawa
BANYAK orang menyayangkan keputusan Marie Eugene Francois Thomas Dubois meninggalkan pekerjaannya sebagai dosen anatomi di Universitas Amsterdam. Setelah mengajar selama setahun, Dubois mendapati dirinya tidak cocok untuk pekerjaan itu. Dia tak suka mengajar.
- Laporan Pembasmian Komunis dalam Dokumen Rahasia AS
DARI 39 dokumen rahasia AS yang telah dideklasifikasi, lima di antaranya memuat laporan dari Konsulat AS di Surabaya. Dokumen itu melaporkan situasi yang terjadi di Jawa Timur terkait aksi-aksi penumpasan PKI yang melibatkan tentara dan masyarakat. Masing-masing dokumen berupa pesan telegram yang ditujukan kepada Kedubes AS di Jakarta. Pengirimnya tercatat bernama Heyman, konsul AS di Surabaya. Sejak November hingga Desember 1965, dokumen itu melaporkan situasi keamanan di Jawa Timur yang berdarah. Aksi penumpasan orang-orang komunis berlangsung di berbagai daerah. Amatan dari seorang misionaris lokal pada 21 November yang melakukan perjalanan dari Kediri ke Mojokerto menyatakan banyak jenazah mengambang di sungai-sungai. “Misionaris itu mendengar pembantaian terbesar telah dilakukan di Tulungagung di mana dilaporkan 15.000 komunis terbunuh,” tulis pesan telegram bernomor seri 183 tanggal 24 November 1965. Pembunuhan terhadap PKI terus berlanjut di desa-desa perbatasan Surabaya. Menurut kepala jawatan kereta api Jawa Timur, sebanyak lima stasiun tutup dikarenakan banyak buruh kereta yang takut bekerja setelah mendengar beberapa rekan mereka dibunuh. Memasuki bulan Desember, penganiayaan terhadap orang-orang PKI terus berlanjut namun “dalam skala yang lebih rendah dan lebih berhati-hati.” Kendati demikian, suasana sosial tetap mendidih. Pasalnya, beberapa pemimpin PKI diduga masih bersembunyi di Surabaya. Angkatan Darat mulai berusaha menghentikan pembunuhan. Peran aktif pihak militer dikurangi dengan lebih melibatkan masyarakat berperan dalam pembersihan. Dikabarkan, “tentara melepas 10 sampai 15 tahanan pada malam hari untuk dieksekusi kaum Muslim,” tulis pesan telegram bernomor 203 tanggal 21 Desember 1965. Operasi pembersihan di Surabaya dilaporkan memakan waktu lebih lama karena banyaknya simpatisan PKI di daerah tersebut. Mereka yang menjadi korban diciduk dari permukiman penduduk. Setelah dieksekusi, mayatnya dikuburkan secara massal daripada dibuang ke sungai. Sementara di Madiun, orang-orang komunis yang semula ditangkap dan dicap tahanan PKI, dikirim ke warga sipil untuk dihakimi. Menurut sumber NU (Nahdlatul Ulama), yang merupakan anggota legislatif Jawa Timur, kampanye NU untuk memusnahkan PKI yang dilakukan di seluruh Jawa Timur akhirnya diperluas ke pojok timur. “Sangat sulit untuk menghentikan pembunuhan,” kata Sumarsono, kepala polisi Jawa Timur, dikutip dalam pesan telegram nomor 216 tanggal 27 Desember 1965. “Mungkin beberapa komandan militer lokal ingin menerapkan perintah dari atasan mereka untuk menghentikan pembunuhan, namun menghadapi masalah yang sulit.”





















