top of page

Hasil pencarian

9845 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • “Raja Hutan” Bob Hasan Pulang ke Haribaan Tuhan

    MOHAMMAD ‘Bob’ Hasan berpulang ke haribaan Illahi pada Selasa (31/3/2020) di usia 89 tahun. Taipan kayu yang intim dengan Soeharto sang penguasa Orde Baru   itu   meninggal di RSPAD Gatot Subroto setelah lama menderita kanker paru-paru. Siapa tak kenal Bob Hasan? Ia salah satu pengusaha dan kroni Soeharto paling berpengaruh sepanjang Orde Baru. Kedekatan itu membuat ia leluasa berbuat, termasuk memberi perhatian terhadap olahraga atletik di Indonesia.   Terlebih, setelah ia menjabat ketua   PB PASI sejak 1978. Pada cabang-cabang lain, ia   juga bersumbangsih di Percasi, PB PABBSI, dan PB Persani. Bob Hasan lahir di Semarang pada 24 Februari 1931 dengan nama The Kian Seng. Identitas orangtuanya tak jelas. Banyak sumber menyebutkan Bob menjadi mualaf dan berganti nama menjadi Mohammad ‘Bob’ Hasan setelah diangkat anak oleh Gatot Soebroto, perwira TNI yang dihormati banyak perwira muda   macam Ahmad Yani dan Soeharto semasa revolusi fisik hingga Orde Lama. Namun,   Raden Eddy Soeroto Koesoemonoto dan Muhammad Salim Jamaleng dalam studi tentang analisa logika Gerakan 1 Oktober 1965 yang dibukukan bertajuk Jaringan Zionis Van der Plas Jatuhkan Bung Karno, menyebut Bob Hasan bukan anak angkat   Gatot. “Ternyata Bob Hasan adalah anak kandung Gatot Soebroto dengan wanita keturunan Cina, nama kecilnya The Kian Seng, lahir di Semarang dan ikut ibunya. Setelah umur 10 tahun baru ikut Gatot Soebroto, diakui anak angkat,” sebut Raden Eddy Soeroto dan Jamaleng. Masa depan gemilangnya bermula dari perkenalannya dengan Soeharto ketika Gatot masih menjabat komandan TT IV/Jawa Tengah (kini Kodam IV Diponegoro). Hubungan Bob Hasan dan Soeharto kian erat saat Soeharto naik menjadi komandan TT IV/Jawa Tengah menggantikan Kolonel Moch. Bachrum   pada 1956. Bob Hasan (tengah) wafat di usia 89 tahun karena kanker paru-paru (Foto: Fernando Randy/HISTORIA) Bob Hasanlah yang dilibatkan Soeharto dalam sejumlah aktivitas perdagangan. Dalam Asian Godfathers: Menguak Tabir Perselingkuhan Pengusaha dan Penguasa,   Joe Studwell menyebut, selama Soeharto menjabat komandan kodam, Bob Hasan “diberi” keleluasaan menggulirkan aktivitas perdagangan monopoli bersama kolega Tionghoanya, Liem Sioe Liong. “Soeharto menghadapi ancaman pengadilan karena penyelundupan pada 1959, namun berkat dukungan ayah angkat Bob Hasan, Jenderal Gatot Soebroto, ia hanya dipindahkan ke Sekolah Staf Angkatan Darat di Bandung,” ungkap Studwell. Penyelundupan yang   melibatkan Bob Hasan dan Liem Sioe Liong itu adalah penyelundupan dan korupsi gula dan beras. Kasusnya ditangani tim inspeksi TNI AD   pada 18 Juli 1959 yang berbuntut pada pencopotan Soeharto dari jabatan pangdam. Soeharto berkilah bahwa ia sengaja melakukan penyelundupan beras dari Singapura itu demi kebutuhan beras di Jawa Tengah yang kala itu tengah gagal panen. “Sebagai Penguasa Perang, saya merasa ada wewenang mengambil keputusan darurat untuk kepentingan rakyat, ialah dengan barter gula dengan beras. Saya tugasi Bob Hasan melaksanakan barter ke Singapura, dengan catatan beras harus datang lebih dahulu ke Semarang,” ujar Soeharto dalam otobiografinya yang ditulis Ramadhan KH Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya . Dewi Soekarno dan Raja Hutan Di masa transisi   dari Orde Lama ke Orde Baru, nama Bob Hasan disebut-sebut berinisiatif ingin meredakan ketegangan antara Sukarno dan Soeharto. Menurut Probosutedjo, adik tiri Soeharto, dalam memoarnya yang dituliskan Alberthiene Endah, Memoar Romantika Probosutedjo: Saya dan Mas Harto , cara yang digunakan Bob Hasan adalah mengundang Naoko Nemoto alias Ratna Sari Dewi Sukarno, istri resmi keenam Sukarno, untuk bermain golf di Rawamangun. “Nah pada saat yang sama ia juga mengundang Mas Harto bermain golf di lokasi yang sama. Niat Bob Hasan baik, barangkali melalui lobi pada Dewi, hubungan Mas Harto dan Bung Karno bisa lumer kembali,” ungkap Probo. Namun apa lacur, Ibu Tien yang lantas mengetahuinya malah murka. Kemarahan Ibu Tien berdampak pada   Soeharto yang didiamkan berhari-hari. “Kasihan sekali Mas Harto. Melihat ini saya jadi prihatin. Saya datangi Bob Hasan dan saya tegur. ‘Aduh, buat apa sih dipertemukan segala. Itu Bu Harto jadi marah.’   Bob minta maaf karena ia tidak mengira akan terjadi konflik antara Mas Harto dan Mbakyu  Harto,” lanjutnya. “Di rumah, saya segera temui Mbakyu Harto dan menjelaskan maksud baik Bob Hasan mempertemukan Mas Harto dan Dewi. Mbakyu Harto akhirnya bisa mengerti dan mau bicara lagi dengan suaminya,” sambung Probo. Kisah tersebut kemudian dibantah Bob Hasan lewat memoarnya yang terbit pada 2010.   “ Ndak  ada itu (main) golf dengan Dewi Sukarno. Dewi tidak pernah main golf. Dia orang night club , bar girl  di Tokyo. Waktu itu saya juga masih muda, ndak  ada soal golf dengan Pak Harto,” kata Bob Hasan, dikutip   detik.com , 8 Juni 2018. Bob Hasan jadi salah satu kroni paling setia rezim Soeharto (Foto: antikorupsi.org ) Semenjak Soeharto resmi menjadi presiden Indonesia kedua pada 1968, geliat Bob Hasan dalam bisnis kian menggurita. Bob memulainya dengan mendorong Soeharto menengok bisnis kehutanan di dua pulau terbesar di barat Indonesia: Sumatera dan Kalimantan. “Pada 1971 Bob Hasan diberi kepercayaan Soeharto untuk menjadi agen tunggal bagi perusahaan-perusahaan asing yang mau menanam modalnya di bidang kehutanan di Kalimantan dan tempat-tempat lain. Dalam kesempatan itu Bob menjadi mitra patungan perusahaan Amerika Serikat Georgia Pacific; Bob pun menjadi perantara mempertemukan perusahaan-perusahaan asing dengan mitra patungannya di Indonesia,” tulis Sri Bintang Pamungkas dalam Ganti Rezim Ganti Sistim: Pergulatan Menguasai Nusantara . Namun ketika pemerintah mulai melarang ekspor kayu gelondongan pada 1981, Georgia Pacific terpaksa dijual dan dibeli Bob Hasan dengan perusahaannya, Kalimanis Group. Sejak saat itu Bob yang memimpin Asosiasi Panel Kayu Indonesia (Apkindo) sekaligus APHI (Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia), dijuluki “raja hutan” karena menguasai pemasokan dan pasar kayu lapis terbesar di dunia dengan memegang Hak Pengusahaan Hutan (HPH) seluas dua juta hektar. Karena itulah maka   Majalah Forbes  edisi 28 Juli 1997   mendaulatnya sebagai salah satu dari 500 orang paling tajir di dunia dengan kekayaan USD3 miliar. Setahun berikutnya, konglomerat yang juga melebarkan sayap bisnisnya ke bidang media (pendiri Majalah Gatra ), asuransi, otomotif dan keuangan itu diangkat Soeharto menjadi Menteri Perindustrian dan Perdagangan di Kabinet Pembangunan VII. Jabatan yang jadi “kado” ultah Bob Hasan dari Soeharto itu diberikan pada Maret 1998 atau beberapa hari setelah beranjak usia ke-67. Namun seiring jatuhnya Soeharto, mulai rontok pula hegemoni Bob Hasan sebagai salah satu kroni paling setia. Ia tak lagi kebal hukum. Pada Februari, Bob Hasan 2001 sebagai direktur utama PT Mapindo Pratama diseret ke meja hijau atas korupsi pemetaan hutan senilai Rp2,4 triliun.   Pengadilan Negeri Jakarta Pusat memvonisnya hukuman dua tahun penjara dipotong masa tahanan, ditambah denda Rp15 juta, dan mewajibkan melakukan ganti rugi Rp14 miliar. Menganggap vonis itu terlalu lembek, jaksa menuntut lagi kasusnya ke Pengadilan Tinggi, yang kemudian   menelurkan keputusan baru berupa vonis penjara delapan tahun.   Tapi Bob kemudian bebas bersyarat pada Februari 2004   setelah menjalani masa tahanan berpindah-pindah dari LP Salemba, Cipinang, Batu, dan Nusakambangan.

  • Calon Arang Memuja Durga Sang Penguasa Penyakit

    Hampir tengah malam. Calon Arang berjalan menuju kuburan. Ia diiringi murid-muridnya: Voksirsa, Mahisawadana, Lende, Guyang, Larung, dan Gandi. Mereka akan berdoa dan menari, menghormat pada Bhatari Durga. Kepadanya, Calon Arang akan menyampaikan permohonan agar kesumatnya bisa dibalaskan. Calon Arang adalah perempuan sakti ahli sihir dari Desa Girah. Ia sudah pada puncaknya merasa terhina karena tak ada yang mau menikah dengan putrinya yang cantik, Ratna Manggali. Semua lelaki takut menjadi menantu seorang Calon Arang. Di kuburan itu mereka pun menari sambil membunyikan alat musik. Tak lama Sang Durga pun menampakkan diri bersama para pengiringnya. “Tuanku, putera tuanku ingin mohon kehancuran penduduk seluruh negeri, demikian tujuan hamba,” kata Calon Arang sambil menyembah di hadapan Bhatari. “Baik, saya setuju, tetapi jangan sampai terlalu besar kemarahanmu hingga ke pusat negeri,” jawab sang Bhatari Bhagavati. Calon Arang menurut. Setelah menari sekali lagi mereka pulang ke Desa Girah. Tak lama kemudian banyak orang di desa-desa sakit hingga jatuh korban jiwa. Karena menyebabkan kekacauan, tentara raja mencoba memusnahkan Calon Arang. Calon Arang makin marah dan kembali mengajak murid-muridnya ke kuburan. Ia membaca mantra diiringi murid-muridnya. Alat-alat musik dibunyikan. Mereka menari. Ia mengirim kekuatan tenung hingga ke ibu kota dari empat arah mata angin. Calon Arang berjalan ke tengah kuburan, mencari mayat yang meninggal pada hari Sabtu Kliwon. Mayat itu diikatkan ke pohon kepuh lalu dihidupkannya kembali. Baru juga hidup, sang penyihir langsung memotong leher si zombie hingga kepalanya melesat. Darah yang memancar ia pakai untuk keramas. Ususnya dipakai untuk selempang dan kalung. Badannya dimasak untuk persembahan bagi Bhuta  dan semua yang ada di kuburan itu, terutama Bhatari Bhagavati. Maka, keluarlah Sang Bhatari. “Saya mohon izin kepada paduka Bhatari untuk membinasakan orang seluruh negara sampai di ibu kota sekalian,” kata Calon Arang. Permohonan Calon Arang diizinkan. Wabah penyakit yang hebat di seluruh negara mengakibatkan banyak orang mati. Mayat-mayat membusuk di rumah dan menumpuk di kuburan, ladang, dan jalan. Desa menjadi sepi, orang-orang menyelamatkan diri ke desa-desa lain. Begitulah dahsyatnya kutukan Calon Arang ke seluruh negeri. Kisah ini ditemukan dalam naskah berjudul Calon Arang . Filolog R.Ng . Poerbatjaraka menerjemahkannya dari bahasa Jawa Kuno ke dalam bahasa Belanda pada 1926 dalam tulisannya,  De Calon Arang . Poerbatjaraka menduga naskah Calon Arang ini mungkin menggambarkan peristiwa pada masa Raja Airlangga. Ia menghubungkannya dengan Prasasti Sanguran ( Calcutta Stone ) dari 982 M. Di dalamnya tertulis seorang raja perempuan yang sangat sakti seperti raksasi. Sihirnya telah dibinasakan oleh Airlangga, raja yang masyhur. Gambaran ini mengisahkan perseteruan antara Airlangga dan Calon Arang. Namun, Hariani Santiko, arkeolog Universitas Indonesia, dalam disertasinya “Kedudukan Bhatari Durga di Jawa pada Abad X-XV Masehi”, berpendapat bahwa cerita Calon Arang lebih pas jika ditempatkan pada masa Singhasari akhir atau Majapahit. Alasannya, nama Mpu Barada baru muncul pada prasasti Arca Joko Dolog dari masa Kertanegara tahun 1289. Terlebih lagi bukti-bukti adanya praktik upacara Tantra seperti dalam cerita Calon Arang  masih sangat jarang dijumpai pada abad-abad sebelum pemerintahan Kertanegara. “Sangat diragukan bahwa Calon Arang pertama kali disusun pada masa Airlangga,” katanya.   Dari kisah Calon Arang itu, menurut Dwi Cahyono, arkeolog dan pengajar sejarah di Universitas Negeri Malang, yang menarik untuk dicermati bahwa akibat teluh seorang ahli sihir, penduduk Daha tertimpa wabah penyakit mematikan. Di luar persoalan teluh, kemungkinan wabah penyakit memang benar pernah terjadi. “Dalam kisah itu penyakit disebabkan karena teluh Calon Arang. Apakah ini simbolik gambaran tentang pagebluk yang terjadi?” ujar Dwi kepada Historia. Anthony Reid dalam Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid I: Tanah di Bawah Angin, berpendapat bahwa kisah-kisah lokal semacam itu terlalu kabur. Terutama cerita yang berkembang beberapa abad sebelum orang benar-benar mulai terbiasa mencatat. “Karena peninggalan-peninggalan tertulis yang ada hanya sampai pada kurun niaga, tidaklah bijaksana untuk terlalu mempercayai bukti-bukti mengenai parahnya wabah pada waktu itu,” tulis Reid. Kendati begitu, kata Hariani Santiko, pada masa lalu praktik memuja Durga untuk mengusir wabah penyakit memang pernah dilakukan. Masyarakat kuno pernah mengenal beberapa dewi yang dipercaya sebagai penguasa penyakit. Mereka mudah marah dan harus dijaga kepuasannya agar wabah penyakit tak menyerang. Menenangkan Bumi Di India, beberapa dewi dianggap sebagai pelindung manusia dari penyakit. Terutama dua penyakit yang sangat ditakuti: cacar dan kolera. Kendati dianggap pelindung, mereka terkadang juga bertindak sebagai penyebar penyakit. Terutama jika sang dewi murka dan tak puas terhadap manusia. Hariani menjelaskan, di India Utara sang penguasa penyakit dikenal dengan nama Sitala Dewi. Sementara di India Selatan dikenal beberapa nama dewi yang bertugas sama. Mariamma atau Mari dianggap sebagai dewi penguasa penyakit yang sangat ditakuti. Lalu ada anak-anak Durga, berjumlah tujuh dewi. Mereka dianggap sebagai penguasa penyakit yang mengancam anak-anak kecil. Ada juga para Gramadewata, yang di antaranya dianggap sebagai penguasa penyakit. Gramadewata adalah pelindung desa atau permukiman penduduk yang juga dikenal di India Utara. Khususnya di India Selatan pemujaan kepada Gramadewata ini sangat populer dan jumlahnya ribuan. “Setiap permukiman memiliki satu Gramadewata,” ujar Hariani. Hariani menjelaskan, munculnya dewi-dewi pelindung ini berhubungan dengan kepercayaan penduduk bahwa alam semesta penuh dengan kekuatan gaib. Kekuatan ini setiap waktu dapat mencelakakan manusia. Dewi pelindung, Gramadewata, diharapkan dapat menjaga mereka dari ancaman itu. Ini adalah upaya agar penduduk terhindar dari penyakit menular, gangguan makhluk jahat, penyakit ternak yang merugikan, kegagalan panen, kebakaran, atau tidak mempunyai keturunan. Namun, Gramadewata menuntut imbalan dari manusia. Penduduk harus memberi mereka persembahan yang memuaskan. Kalau kurang, Gramadewata akan berbalik mencelakakan penduduk. Karenanya setiap permukiman biasanya memiliki kuil sederhana. Tempat suci ini dikhususkan untuk Gramadewata. Di sana akan ditempatkan arca atau benda yang menjadi lambang dewi-dewi itu. Menurut I Wayan Redig, arkeolog Universitas Udayana, pemujaan terhadap dewi beralasan karena secara makrokosmis, bumi ini adalah ibu. Di bumi, segalanya dihidupkan, dipelihara, dan mati. Karenanya, untuk urusan memelihara, menyiapkan sumber kehidupan Ibu Pertiwi, seperti juga Durga menjadi Dewi Ibu yang akan selalu dipuja di banyak tempat. “Dewi Durga menjadi Dewi Ibu yang dipuja sepanjang masa karena selama manusia perlu hidup dan kehidupan ia tidak bisa lepas dari pangkuan sang Ibu ilahi ini,” jelas Redig dalam makalah “Durga Mahisasuramardini (Pemujaan Dewi Ibu Sepanjang Masa)” yang disampaikan pada Rembug Sastra (21 Mei 2016) di Pura Jagatnata, Denpasar, Bali. Durga Sang Penguasa Penyakit Di India Utara dan Selatan, Durga sama-sama dipuja sebagai dewi pelindung dari penyakit. “Durga dan Kali adalah dewi penting yang menguasai segala segi kehidupan manusia,” kata Hariani. “Di beberapa tempat Durga berbaur dengan Gramadewata dan akan menyebarkan penyakit kepada manusia dan ternak jika marah.” Durga memiliki berbagai aspek. Tiga di antaranya sering dibicarakan dalam kitab-kitab Purana  dan Tantra , yaitu Durga sebagai pembinasa asura , Durga sebagai penguasa tanam-tanaman dan kesuburan, dan Durga sebagai penguasa penyakit menular. Durga sangat ditakuti karena bisa menyebarkan penyakit sekaligus melindungi manusia dari wabah penyakit. Dalam kitab-kitab Purana, Durga seringkali dihubungkan dengan tujuh dewi pelindung anak-anak dari penyakit, yakni Kaki, Halima, Malini, Vrnila, Arya, Palala, dan Vaimitra. “Pemujaan tujuh ibu ini sangat penting di India Selatan, dan mereka dianggap sebagai saudara perempuan Durga,” kata Hariani. Karenanya, Durga Puja pun dilakukan. Menurut Hariani, berdasarkan Kitab Kalika Purana  apabila menjalankan Durga Puja pada tanggal 8 paro terang bulan Caitra  akan bebas dari segala kesusahan dan penyakit. Di Nusantara, khususnya di Jawa sedikit berbeda. Durga dikenal dalam dua aspek saja. Ia sebagai pembinasa asura  dan penguasa penyakit. Sementara penguasa tanaman dan kesuburan lebih dikenal sebagai Dewi Sri. Aspek Durga sebagai penguasa penyakit menular dalam sumber tertulis hanya ditemukan dalam kitab Calon Arang. Lebih banyak yang membicarakannya sebagai pembinasa asura . Sebagai aspek ini, ia dikenal dengan nama Durga Mahisasuramardini. Hariani mengatakan upacara yang dilakukan oleh Calon Arang dan murid-muridnya adalah upacara Tantra dengan mempergunakan ilmu gaib destruktif atau ilmu hitam. “Di sini yang dipuja adalah aspek Durga sebagai penguasa penyakit menular,” jelas Hariani. Kisah wabah penyakit akibat dendam Calon Arang itu pun berakhir setelah Mpu Bharadah membunuh dan meruwat sang ahli sihir dan Desa Girah.

  • Kisah Hanoman dari Kota Lama

    Kawasan Kota Lama Semarang menyimpan daya tarik untuk dikunjungi. Banyak bangunan peninggalan Belanda masih berdiri kokoh. Sebagian dimanfaatkan menjadi kedai-kedai minuman atau makanan dengan interior yang menarik. Tempat ini ramai saban akhir pekan atau musim liburan sebelum pandemi Covid-19 melanda. Salah satu bangunan bersejarah di Kota Lama Semarang. (Fernando Randy/Historia). Karena ramai pengunjung, Kota Lama juga menjadi tempat mengais rezeki bagi penampil jalanan. Salah satunya Heri Sudron (46). Dia biasa tampil sebagai Hanoman, salah satu tokoh dalam wiracarita Ramayana. Dia mengenal perwayangan sejak kecil sehingga tidak asing lagi dengan berbagai tokoh wayang. Dia tampil sebagai Hanoman karena menurutnya tokoh ini menarik. Heri merias wajahnya untuk menjadi Hanoman di Kota Lama. (Fernando Randy/Historia). “Sejak usia 9 tahun di Banyuwangi saya sudah sering menonton wayang, hingga akhirnya saya bergabung dengan grup kesenian yang memainkan seni Janger,” ujar Heri. Janger adalah kesenian asal Banyuwangi yang memadukan tarian, kostum, dan gamelan Bali yang mengambil cerita rakyat Jawa sebagai lakonnya. Heri mengaku kecintaanya terhadap seni peran dan Hanoman membuat dirinya melakoni peran sebagai seorang  performance art  hingga kini. Dia memperoleh sedikit rupiah dari orang yang berfoto bersama dirinya. Heri bersiap dengan kostum Hanomannya. (Fernando Randy/Historia). Hal-hal detail seperti gelang dan lainnya juga dipersiapkan oleh Heri. (Fernando Randy/Historia). Menurut Heri Hanoman adalah karakter yang sudah melekat pada dirinya. (Fernando Randy/Historia). “Setelah menikah, saya pusing mikir mau kerja apa. Hingga akhirnya saya kembali teringat akan sosok Hanoman. Akhirnya saya merantau dan kembali menjadi Hanoman hingga saat ini," lanjut pria berambut gondrong ini.  Selama menjadi Hanoman, Heri mengalami banyak suka dan duka. Saat Kota Lama sedang ramai pengunjung, dompetnya ikut ramai. Tapi saat sepi, dompetnya sering tak berisi. "Menjadi Hanoman harus mengerti berbagai karakter masyarakat yang ingin berfoto. Ada yang hanya foto bersama, ada yang sampai naik pundak saya. Namun ya itu tadi saya adalah Hanoman yang bertugas melayani dan melindungi masyarakat,” kata Heri. Para pengunjung saat berfoto bersama sang Hanoman. (Fernando Randy/Historia). Para pengunjung menyaksikan sang Hanoman. (Fernando Randy/Historia). Sang Hanoman di Kota Lama Semarang. (Fernando Randy/Historia). Seorang pengunjung mengajak sang hanoman untuk berfoto bersama. (Fernando Randy/Historia). Heri sendiri tidak mematok berapa bayaran bagi pengunjung Kota Lama Semarang yang sekadar ingin berfoto bersama dirinya. Semuanya suka rela. “Berapa saja bayarannya. Saya tidak pernah mematok harga untuk berfoto bersama saya. Yang penting ikhlas saja,” lanjut Heri. Ikhlas adalah bayaran yang didapat oleh Heri sang Hanoman. (Fernando Randy/Historia). Sang Hanoman beraksi di tengah Kota Lama. (Fernando Randy/Historia). Puluhan tahun memerankan Hanoman, Heri mempunyai harapan bagi kesenian wayang. Dia berharap semua generasi turut andil merawat kesenian ini. “Pesan saya untuk semua, bukan hanya anak-anak, warisan leluhur seperti ini jangan sampai terlupakan. Jangan sampai tersaing dengan musik-musik Barat. Jangan sampai kita melupakan dan meninggalkan kesenian tradisional,” kata Heri. Sang Hanoman berharap kesenian tradisional seperti wayang terus dijaga oleh generasi muda. (Fernando Randy/Historia).

  • D.I. Pandjaitan Bernatal di Tengah Hutan

    DI masa revolusi kemerdekaan, berada di rumah berkumpul bersama keluarga adalah kesempatan langka yang sangat mahal. Hal seperti inilah yang dialami Kapten Donald Isaac Pandjaitan ketika Belanda melancarkan agresi militer yang kedua. Waktu itu Pandjaitan menjabat sebagai kepala staf umum yang mengurusi logistik Komandemen Sumatra. Pada 24 Desember 1948, Pandjaitan mengadakan misi ke Riau. Panglima Komandemen Sumatra Kolonel Hidayat Martaatmadja menugaskan Pandjaitan mencari senjata untuk persiapan perang gerilya. Pandjaitan disertai beberapa orang stafnya. Mereka  antara lain Letnan Pieter Simorangkir, Letnan Sumihar Siagian, Sersan Mayor G.G. Simamora, dan Bustami -Wali Negeri Rao- sebagai penunjuk jalan. Pukul 06.25 pagi, rombongan Pandjaitan berangkat dari Rao, Pasaman, Sumatra Barat. “Mereka berlima menelusuri jalan tikus, memasuki rimba raya di lereng-lereng Bukit Barisan. Bustami yang mengenal wilayah gawat itu berjalan di depan,” tutur istri Pandjaitan, Marieke Pandjaitan br, Tambunan dalam D.I. Pandjaitan: Gugur dalam Seragam Kebesaran . Setelah lima jam menerobos hutan, menuruni lembah, dan mendaki bukit, perjalanan mendekati perkampungan. Setibanya di Kampung Pintu Padang, rombongan Pandjaitan singgah sebentar untuk makan siang. Penduduk menerima dan menjamu mereka dengan baik. Atas sambutan hangat itu, Pandjaitan sekalian mengajak rakyat setempat untuk ikut berjuang dalam perang gerilya. Diterangkannya bagi mereka yang tidak memanggul senjata, dapat menyiapkan makanan dan mengirimkannya ke garis depan. Ajakan Pandjaitan bersambut. istri pemuka setempat memberikan perhiasan miliknya untuk biaya perjuangan. Setelah minta diri dan mengucapkan terima kasih rombongan Pandjaitan melanjutkan perjalanan. Tujuan selanjutnya Desa Rumbai yang berjarak sekira 36 km dari Pintu Padang. Kurang dari lima jam, mereka sudah sampai. Karena hari telah petang, mereka beristirahat di sebuah kedai yang di atasnya difungsikan sebagai penginapan. Setelah berbaring hingga pukul 20.45, Pandjaitan belum dapat tertidur. Pandjaitan menyadari bahwa saat itu adalah malam Natal. Sebagai seorang Kristiani, saat demikian lazimnya mengadakan misa diikuti dengan kebaktian di gereja pada keesokan pagi bersama keluarga. Pandjaitan teringat pula dengan istri dan anaknya yang sedang mengungsi pasca agresi. Tetiba Pandjaitan bangkit dan mengambil dua buku bersampul hitam: Kitab Injil dan Kidung Pujian. Dia menatap Siagian, Simorangkir, Simamora yang masih terjaga. Ketiganya Kristen. Sementara Bustami yang beragama Islam, sudah tertidur pulas. “ Gentlemen ,” kata Pandjaitan, “Tidak seorang pun di antara kita yang menduga akan sampai di tempat ini. Hal ini disebabkan oleh panggilan tugas. Justru inilah yang saya sebut sebagai kehendak Tuhan.” Kendati jauh dari keluarga dan gereja, Pandjaitan membesarkan hati para stafnya. Sebagai wujud syukur, Pandjaitan memimpin mereka melantunkan kidung pujian. Dengan pelan-pelan namun khidmat, mereka melantunkan lagu Malam Kudus . Pandjaitan menutup ibadah itu dengan doa, selanjutnya mereka saling bersalaman. Selamat hari Natal! Pagi-pagi tanggal 25 Desember, rombongan Pandjaitan melanjutkan perjalanan menuju Riau. Mereka terjaga dengan tubuh yang lebih segar setelah berisitrahat semalam. Setelah sarapan, mereka berangkat pukul 06.20 pagi. Menurut Marieke perayaan Natal 1948  di desa kecil yang dikelilingi oleh hutan belantara itu sungguh amat terkesan di hati Pandjaitan. Dia selalu ingat peristiwa yang sangat mengharukan itu. Di tengah perjuangan gerilya, Pandjaitan menjalani kewajiban terhadap negara dan sekaligus terhadap Tuhan. “Hari yang suci itu dialaminya selagi bangsa dan negara dalam ancaman penjajahan, apalagi isteri dan anak-anak yang masih kecil tengah dalam pengungsian,” kenang Marieke.  Pandjaitan kelak menjadi Atase Militer Republik Indonesia untuk Jerman Barat. Dia mencapai puncak karier militernya sebagai Asisten IV/Logistik Menteri Panglima AD. Setelah gugur dalam Insiden 30 September 1965, namanya kemudian lebih dikenal sebagai salah satu dari pahlawan revolusi.*

  • Orang-orang Rawagede

    HAWA panas menyengat kawasan Pantai Sadari Karawang siang itu. Deretan pohon bakau melambai-lambai kala disapa angin. Suara debur ombak pantai utara terdengar lembut bersanding dengan bau anyir ikan dari arah kampung nelayan setempat. Di sebuah rumah usang yang terletak dekat pantai, kendaraan yang saya tumpangi berhenti. Dari dalam, seorang perempuan uzur muncul. Tertatih-tatih dia menyambut saya. Tubuhnya gemetaran karena pengaruh usia. “Kita bicara di luar saja ya, di dalam gelap,” jawabnya dalam bahasa Sunda berlogat pesisir. Wanti nama perempuan tua itu. Dia adalah salah satu janda korban pembantaian militer Belanda di Dusun Rawagede  pada 1947. Bersama seorang korban, anak korban dan tujuh janda korban Rawagede lainnya, pada 2011 dia menggugat pemerintah Belanda ke Pengadilan Tinggi di Den Haag. Setelah melalui jalan berliku, upaya mereka berhasil. Namun apakah itu menjadikan hidup mereka lebih baik? Selasa, 9 Desember 1947. Orang-orang Rawagede dikejutkan oleh suara  stengun  dan  brengun  yang menyalak tiba-tiba dari arah timur pagi itu. Demi mendengar tembakan-tembakan tersebut, kontan para laki-laki  yang belum sempat berangkat ke sawah berhamburan ke arah Kali Balong sedang kaum perempuan dan anak-anak justru memilih bertahan di rumah. Wanti yang saat itu tengah hamil tua memilih bersembunyi di bewak  (bekas lubang perlindungan zaman Jepang) yang ada di bawah rumah panggungnya. Begitu juga dengan nenek dan kakeknya. Saat berlindung tetiba dia teringat Sarman, suaminya yang beberapa jam lalu  sudah pergi sawah. Tapi dia tak bisa berbuat apa-apa. Dalam kondisi penuh ketegangan, tetiba seorang tentara Belanda berseragam loreng masuk ke lingkungan rumah Wanti. Sambil membawa senjata, dia langsung membuka pintu bewak dan membentak dalam bahasa Melayu: “Kemana laki-lakinya?” “Tidak ada Tuan,” jawab Wanti dalam nada gemetar. “Pergi ke mana?!” “Ke sawah, Tuan.” Serdadu bule itu kemudian menunjuk dua orang tua yang saat itu tengah sembunyi di kolong meja. “Ini siapa?” "Ini kakek saya, Tuan. Itu nenek saya, Tuan.” Setelah menggeledah seluruh sudut ruangan, sang serdadu pun berlalu. Sementara itu di tempat lain, Telan melakukan langkah seribu ke arah Kali Balong. Pemuda yang dikenal sebagai anggota Lasykar Hizbullah itu lantas berjalan menyisir tepi kali untuk mengamankan diri ke arah Desa Mekarjaya, yang bertetangga dengan Dusun Rawagede. “Suasana sangat mencekam kala itu. Suara tembakan terdengar diringi jeritan kaum perempuan dan anak-anak kecil,” ujar lelaki kalahiran Rawagede itu. Beberapa waktu kemudian, rombongan serdadu-Belanda berpakaian macan tutul memasuki Rawagede. Mereka adalah anggota Yon  3-9-RI Divisie 7 December , sebagian kecil prajurit   1e Para Compagnie  dan  12 Genie Veld Compagnie  (keduanya merupakan brigade cadangan dari pasukan parakomando  Depot Speciale Troepen ) pimpinan Mayor Alphons J.H. Wijnen. Begitu memasuki dusun, mereka langsung beraksi. Sebagian berjaga-jaga di mulut dusun, sedang sebagian lagi menyebar, mendobrak pintu rumah (termasuk rumah Wanti) dan memerintahkan secara kasar agar para penghuninya keluar. “Para perempuan dan anak-anak mereka biarkan begitu saja, tapi kaum lelaki yang tak sempat lari dikumpulkan dalam beberapa kelompok,” kenang almarhum Sai, salah seorang penduduk Rawagede yang belakangan lolos dari maut. Satu kelompok yang  yang berisi 15 laki-laki lantas dijejerkan. Seorang sersan berkulit putih lantas menanyai satu persatu orang-orang tersebut dalam nada membentak. "Ekstrimis ya?!”  “Bukan, Tuan.” “Kamu tahu di mana itu Laskar?! Kamu tahu Lukas?!” “Tidak tahu, Tuan." Mendengar jawaban kompak para lelaki yang tertangkap, tanpa banyak bicara lagi, seorang serdadu Belanda yang berdiri di bagian belakang para tawanan lantas mengokang senjatanya. Darah pun berhamburan, mengental merah mewarnai bumi Rawagede. Beberapa jam setelah pembantaian itu. Langit Rawagede dibekap mendung. Suara ratusan burung gagak mengoak, bersanding dengan teriakan pilu dan tangisan sekelompok perempuan yang kehilangan anak dan suami. Bau mesiu masih menyengat, bercampur dengan bau anyir darah yang tercecer di tanah, dedaunan dan sisa-sisa kayu bekas bangunan yang terbakar. Di beberapa sudut kaum perempuan mengorek tanah dengan golok. Sekuat tenaga, mereka berupaya memakamkan secara layak mayat suami, anak ataupun ayah mereka. Usai menguburkan jasad-jasad itu di dalam lobang yang dangkal, mereka lantas menumpuk makam-makam itu dengan daun jendela, kayu bakar, daun pintu yang merupakan sisa puing-puing rumah mereka yang dibakar militer Belanda. Wanti adalah salah satu dari ratusan perempuan tersebut. Bersama ayah dan ibu mertuanya, ia memakamkan jasad Sarman tepat di di halaman rumahnya. “Setelah mencari kesana kemari, saya menemukan tubuh kaku suami saya tertelungkup di daerah Sumur Bor dengan kepala dan tengkuk berlubang penuh darah,” kenangnya. Telan termasuk yang kehilangan keponakan dan kakak: Sewan dan Natta. Begitu juga ratusan orang Rawagede lainnya. Tidak saja di dalam dusun, di Kali Cibalong pun ratusan pemuda Karawang yang meregang nyawa terbawa hanyut. Telan, masih menyaksikan Tong Wan (pemuda Tionghoa yang bergabung dengan Hizbullah) sekarat lalu dibawa hanyut air Kali Balong yang saat itu tengah banjir. “Sebelum ditembak, ia sempat berteriak: merdeka!" ujar lelaki tua yang meninggal pada 2019. Hawa panas yang menyengat kawasan Pantai Sadari Karawang sudah mulai tak terasa. Tapi deretan pohon bakau masih  melambai-lambai disapa angin laut sore. Wanti tua kembali melangkah masuk diringi Sopia, salah satu putrinya yang tersisa. Dia kemudian duduk di kursi butut tanpa meja sambil menghadap saya. “Hingga sekarang, Emak tak pernah mengerti mengapa suami Emak dibunuh. Dia hanya seorang petani, bukan tentara atau laskar,” ujar Wanti dalam nada lirih. Sebagai konsekuensi dari kekalahannya di Pengadilan Tinggi Den Haag, Pemerintah Belanda akhirnya meminta maaf dan memberikan sejumlah uang kompensasi (jika dirupiahkan sebanyak Rp240.000.000,00) kepada para penggugat. Apakah uang kompesasi tersebut sampai kepada mereka? “Ya sampai. Walaupun saya hanya menerima uang utuhnya ke tangan sekitar 40 juta rupiah, tapi  Alhamdulillah  saya sendiri bisa membeli rumah ini dan satu televisi untuk hiburan,” kata nenek dari beberapa cucu itu. Wanti sendiri tidak pernah mempersoalkan haknya yang terpotong oleh berbagai pihak. Dia malah merasa bersyukur bahwa di masa tuanya bisa menerima kemurahan Tuhan dengan memiliki rumah sendiri, kendati kondisinya sangat memprihatinkan (ketika awal 2019 saya ke Pantai Sedari, rumah Wanti sudah hancur dimakan abrasi). Bagi  salah satu saksi sejarah yang masih tersisa ini, kehilangan suami dan dihantui rasa trauma sejatinya tak bisa terbayar oleh uang sebanyak apapun. “Saya selalu berusaha melupakan kejadian itu. Tapi kalau lagi sendiri kadang bayangannya muncul begitu saja, membuat saya kembali bersedih,” ujarnya dalam nada pelan. Setitik air bening meleleh di kulit pipinya yang keriput. Tulisan ini dibuat untuk mengenang Bu Wanti dan Pak Telan, yang beberapa waktu lalu baru saja mangkat.

  • Antropolog Swiss dan Polisi RI Cincai

    SETELAH dua hari mengarungi pelayaran sulit, antropolog asal Swiss Reimar Schefold akhirnya sampai di rumah Helmut Buchholz, kawannya yang berkebangsaan Jerman dan berprofesi sebagai penginjil di Pulau Siberut, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Selain untuk mengurus perpanjangan visa, kepergian Reimar dari pesisir barat ke Muara Siberut pada akhir dekade 1960-an itu adalah untuk membicarakan surat dakwaan yang diterimanya terkait dugaan pembelaannya terhadap masyarakat Sakuddei. “Aku langsung menemui dan berbicara kepada Helmut setelah kedatanganku di pos penginjilan itu. Selain itu ia juga ingin mengetahui apa makna sebenarnya dari: tindakanku sebagai ‘kepala suku orang-orang kafir.’,” ujar Reimar dalam memoar berjudul Aku dan Orang Sakuddei: Menjaga Jiwa di Rimba Mentawai. Kepolisian setempat mendakwa Reimar karena menganggap riset Reimar di pedalaman Mentawai dengan tinggal bareng masyarakat Sakuddei sejak 1967 sebagai dukungan terhadap masyarakat itu dalam melawan “modernisasi” yang digulirkan pemerintah sejak era Presiden Sukarno dan dilanjutkan pada era Soeharto. Dalam “modernisasi” itu, pemerintah memperkenalkan dan mengajak suku-suku terbelakang untuk mengadaopsi hal-hal modern dan meninggalkan hal-hal “primitif” seperti kehidupan berburu, bertato, berambut gondrong, dan lain-lain. “Di Mentawai, pamongpraja menyuruh cukur rambut orang lelaki yang panjang, demi moderninsasi suku Mentawai, sedang di Jakarta dan kota-kota besar, laki-laki, tua dan muda memangjangkan rambut mereka! Di Pulau Fiki orang setengah telanjang ke sekolah itu modernisasi! Di Irian Jaya koteka dibuang, di Jakarta tari telanjang di nightclub.  Sikap feodal ini juga langsung berakar pada sikap manusia Indonesia terhadap kekuasaan,” kata Mochtar Lubis dalam Manusia Indonesia . Modernisasi yang dilancarkan pemerintah itu pula yang kerap menimbulkan gesekan dengan orang-orang Mentawai, terutama masyarakat Sakuddai tempat Reimar menumpang. Lantaran mendukung prinsip hidup masyarakat Sakuddai untuk melestarikan hutan tempat hidup mereka dan budaya leluhurnya, Reimar dicap melawan modernisasi oleh pemerintah. Hal inilah yang coba dinselesaikannya dengan Nico, kepala polisi RI setempat. Saat Helmut esoknya memimpin misa Minggu di gereja penginjilannya, Reimar melihat Nico duduk di barisan depan. Dia langsung mengampirinya dan meminta membicarakan surat dakwaannya secara empat mata di kantor polisi. Keduanya pun sepakat untuk membicarakannya pada keesokan harinya di tempat penginjilan itu sesuai permintaan Nico. Keduanya langsung masuk ke pokok pembicaraan ketika keesokan harinya bertemu. “Anda mungkin sudah mendengar cerita yang mereka katakan tentang Anda. Aku ingin sekali mendengar sendiri dari Anda tentang kebenarannya,” kata Nico, dikutip Reimar. Setelah Reimar menjelaskan pandangannya, keduanya pun terlibat dalam perdebatan. Nico bertahan pada pendapatnya yang mendukung pandangan pemerintah Indonesia. “Ide-ide primitif seperti itu harus dilarang. Dan bila Anda ingin tahu kenapa: mereka menghambat kemajuan. Aku tidak akan menghalangi Anda untuk itu. Akan tetapi apabila ini berakibat membuat orang-orang berpaling dari kemajuan, maka aku akan tampil dan melawannya. Itulah mengapa aku memintamu datang kemari,” kata Nico.  Perdebatan itu akhirnya selesai dengan pandangan solutif yang dikeluarkan Reimar. “Orang-orang seperti orang-orang Sakuddei itu pertama-tama harus mendapatkan kesempatan untuk mengerti mengapa mereka harus berubah dan kemudian ikut menentukan apa yang ingin mereka ambil alih. Bila tidak maka mereka diperlakukan sama saja seperti di bawah kekuatan kolonialisme.” Suasana persahabatan kembali melingkupi keduanya. Nico menutup pertemuan dengan perintah agar Reimar melihat arloji Rolex yang dipakainya. Arloji itu rusak dan karena tak ada orang di sana yang bisa memperbaikinya, arloji itu terus dipakainya dalam keadaan mati. “Aku akan dengan senang hati menolong Anda, tetapi barangkali Anda juga bisa menolongku. Kulihat Anda memakai Omega. Jadi begini: kuberikan Anda Rolex-ku; yang akan Anda bawa pulang untuk diperbaikin dan Anda memberikanku Omega itu sebagai gantinya,” kata Nico. Keduanya pun sepakat. “Anda adalah teman orang Indonesia. Aku akan menolong Anda selama Anda ingin tinggal di sini,” sambungnya. Ketika Helmut masuk ke ruangan sesaat kemudian, pembicaraan sudah selesai. “Ketika aku bercerita kepadanya bahwa Niko akan menolongku dalam memperpanjang visaku, Helmut terbelalak,” kata Reimar.

  • Mitos dan Tetenger Wabah Penyakit

    Dahulu orang percaya ada hantu pembawa maut berwujud bola arwah. Terkadang ia muncul sebagai rombongan prajurit ganas yang bisa membunuh manusia ketika mereka tertidur. Hantu bernama Lampor itu kerap menimbulkan suara gaduh. Suaranya berasal dari iringan kereta kuda dan derap kaki pasukan. Beberapa masyarakat Jawa mempercayai kalau mereka adalah pasukan Nyi Roro Kidul yang tengah bergerak dari Laut Selatan ke Gunung Merapi atau Keraton Yogyakarta. Sementara masyarakat di Jawa Timur percaya kalau Lampor muncul bersamaan dengan wabah penyakit. Lampor mencari korbannya seringkali di bulan Sapar pada malam hari. Korban dicekik lalu dibawa dengan keranda. Jika itu terjadi, mereka bakalan mati seketika. Namun, Lampor punya kelemahan. Konon, ia tak bisa duduk atau jongkok. Jadi orang-orang akan memilih tidur di bawah dipan atau di lantai agar Lampor tak mencekik mereka. Dwi Cahyono, arkeolog yang mengajar sejarah di Universitas Negeri Malang, mengatakan kalau isu setan Lampor semacam itu marak di Jawa Tengah dan Timur sampai pada 1960-an. Lambat laun cerita itu menghilang. Desas-desus seputar Lampor kemungkinan muncul manakala banyak terjadi wabah penyakit pada masa lampau. Jika ia datang orang bisa mati dalam tidurnya. "Wabah penyakit dalam konsepsi lama direlasikan dengan peristiwa mistis, seperti pada hantu Lampor," kata Dwi kepada Historia . Terkadang dalam percakapan, kata lampor disandingkan dengan kata pagebluk , menjadi pagebluk lampor . Lampor secara harfiah berasal dari kata Jawa Kuna, lampur . Artinya mengembara atau bepergian. Sementara pagebluk adalah istilah Jawa untuk menyebut wabah penyakit. Istilah pagebluk lampor kemudian memberi penegasan kalau pada masa lalu mungkin pernah terjadi pagebluk yang dahsyat dampaknya. Soal dahsyatnya pagebluk ini, ada perkataan dalam bahasa Jawa Baru yang populer. " Isuk loro, sore mati , ini kan memberi gambaran betapa ganas penyakitnya, dalam durasi sesingkat itu orang mati," ujar Dwi. Kata-kata itu dijumpai dalam kisah  Babad Tanah Jawi. Jadi, setelah Amangkurat I wafat, Mataram tertimpa musibah. banyak orang sakit. Negara rusak. Udara tidak baik. Makanan mahal. Hujan tak turun, sehingga udara begitu panas. Negara Mataram seperti terbakar. Banyak orang meninggal. Pengemis tersebar di sepanjang jalan atau sungai. Banyak penderita sakit borok, kudis,  pathek,  bubul, dan sejenisnya. Orang yang sakit di waktu pagi, sorennya meninggal.  "Jadi dari situ kita melihat bahwa pada masa lalu ada gambaran tentang bencana penyakit," lanjut Dwi. Lewat Tetenger Alam Mungkin saking menakutkannya dampak pagebluk, orang Jawa pun mulai mencari pertanda atau tetenger sebelum wabah datang. Pada zaman Mataram Islam misalnya, pagebluk dihubungkan dengan kemunculan bintang berekor atau komet. Orang Jawa menyebutnya lintang kemukus . Menurut tradisi mereka, kemunculan komet pada arah tertentu memiliki arti, di antaranya sebagai pertanda kemunculan pagebluk. "Memang umumnya penampakkan komet dimaknai sebagai membawa ‘hal yang kurang baik’, kecuali apabila muncul di arah barat," jelas Dwi. Berdasarkan buku Sejarah Kutha Sala: Kraton Sala, Bengawan Sala, Gunung Lawu yang ditulis R.M. Ng. Tiknopranoto dan R. Mardisuwignya, Dwi menjelaskan bila komet muncul di arah timur tandanya ada raja yang sedang berbela sungkawa. Lalu rakyatnya bingung. Desa pun banyak yang mengalami kerusakan dan kesusahan. Harga beras dan padi murah, tetapi emas mahal harganya. Bila bintang berekor muncul di tenggara menandakan ada raja yang mangkat. Orang desa banyak yang pindah. Hujan jarang. Buah banyak yang rusak. Ada wabah penyakit yang membuat banyak orang sakit dan meninggal. Beras dan padi mahal. Kerbau dan sapi banyak yang dijual. Apabila komet muncul di arah selatan tandanya ada raja mangkat. Para pembesar susah. Banyak hujan. Hasil kebun melimpah. Beras, padi, kerbau, dan sapi dihargai murah. Orang desa merana, karenanya mereka pun mengagungkan kekuasaan Tuhan Yang Maha Suci. Kalau komet muncul di barat daya artinya ada raja mangkat. Orang desa melakukan kebajikan. Beras dan padi murah. Hasil kebun berlimpah. Tapi kerbau dan sapi banyak yang mati. Jika komet muncul di barat tandanya ada penobatan raja. Para pembesar dan orang desa senang. Beras dan padi pun murah. Apa yang ditanam berbuah subur dan cepat menghasilkan. Hujan akan turun deras dan lama. Apapun barang yang dijual-belikan murah harganya, karena memperoleh berkah Tuhan. Lalu kalau bintang kemukus muncul di barat laut, itu pertanda ada raja yang berebut kekuasaan. Para adipati juga berselisih, berebut kekuasaan. Sementara warga desa bersedih hati. Kerbau dan sapinya banyak yang mati. Hujan dan petir terjadi di musim yang salah. Kekurangan makin meluas dan berlangsung lama. Beras dan padi mahal, namun emas murah. Apabila ada komet muncul di utara, maknanya ada raja yang kalut pikiran lantaran kekeruhan di dalam pemerintahannya. Timbul perselisihan yang semakin berkembang menjadi peperangan. Beras dan padi mahal. Namun harga emas murah. Selain tanda adanya wabah penyakit pada manusia, lintang kemukus juga memberi pertanda ada wabah penyakit yang akan menyerang hewan. Ada pertanda kalau kerbau dan sapi banyak yang mati. Itu disebutnya aratan . Bila lintang muncul di arah barat daya dan di barat laut. "Ada pertanda alam yang di masa lalu dipersepsi sebagai tengara tentang adanya kematian," jelas Dwi. "Lampor itu juga merupakan keyakinan lokal sebenarnya tidak secara langsung bicara tentang penyakit tapi ada dampak yang berhubungan dengan penyakit." Cara Memotong Rantai Penularan Karenanya musibah yang terjadi akibat wabah penyakit bisa disebut sebagai malapetaka. Dwi menjelaskan, secara harfiah, dalam konteks Jawa Kuno dan Jawa Tengahan kata mala berarti kotor, cabul, najis secara fisik dan moral, noda, cedera, cacat, dan dosa. Kata itu bisa juga berarti penyakit. "Terlihat bahwa pada mulanya malapetaka bertalian dengan bencana penyakit, yang kemudian diperluas artinya ke bermacam bencana," ujar Dwi. Dengan pengertian itu, seringkali wabah penyakit, yang termasuk ke dalam malapetaka tadi, disembuhkan tidak lewat penanganan medis. "Ini kan suatu isu penyakit kemudian membias ke hal yang di luar penyakit," kata Dwi. Misalnya, ada masyarakat yang membuat tumpeng untuk mengatasi serangan pagebluk. Seperti dijumpai pada masyarakat Tengger, suku asli yang mendiami wilayah Gunung Bromo dan Semeru, Jawa Timur. Mereka punya Tumpeng Pras. Namanya berkenaan dengan cara tumpeng itu diperlakukan. Setelah diupacarai, puncak tumpeng akan dikepras. Diyakini, pemotong ini salah satunya untuk menghilangkan penyakit. "Jadi secara simbol tumpeng dan praktik social distancing ini sama prinsipnya. Memotong rantai penularan," jelas Dwi. Ketika wabah terjadi biasanya di wilayah masyarakat Tengger terjadi penyimpangan yang bersifat makrokosmos. Tandanya seperti ada harimau yang masuk kampung. Ini menyimpang karena perkampungan penduduk bukanlah habitat harimau. "Ini isyarat akan ada penyimpangan di dunia manusia. Misalnya banyak anak mati secara beruntun. Pagebluk itu tadi. Menghilangkannya dengan membuat tumpeng pras. Memang digunakan untuk kepentingan ini,” jelas Dwi. Secara umum, menurut Bani Sudardi, dosen Jurusan Sastra Indonesia Universitas Sebelas Maret Surakarta, dalam "Konsep Pengobatan Tradisional Menurut Primbon Jawa", terbit di jurnal HumanioraVol. 14/2002 , orang Jawa percaya kemungkinan mereka sakit bergantung pada kualitas hubunganya dengan lingkungan. Mereka yakin bahwa manusia adalah bagian tak terpisahkan dari suatu tatanan kosmis. Itu mengapa, sebagaimana menurut sejarawan Denys Lombard dalam Nusa Jawa III: Warisan Kerajaan Konsentris, ritual-ritual pedesaan seperti oleh masyarakat Tengger tadi, banyak dilakuan demi menjaga keserasian semesta. Antara desa dan kosmos harus seimbang agar kehidupan tak bergoyang. Sementara wabah penyakit yang menimpa manusia ataupun binatang adalah pertanda tentang adanya kekacauan di mikrokosmos. Adapun kemunculan lintang kemukus merupakan pertanda adanya krisis pada makrokosmosnya. "Komet itu kan penyimpangan. Dalam kondisi normal komet akan tetap di garis orbitnya. Ini seringkali dipercayai akan diikuti dengan penyimpangan mikrokosmos, pagebluk,” jelas Dwi.

  • Dari Malaria Hingga Corona

    Saat istri ke apotek untuk mencari vitamin dan thermometer Sabtu (21/3/20) lalu, apotek yang didatanginya dipenuhi orang yang mencari obat dan alat yang dapat digunakan untuk mencegah virus corona atau Covid-19. “Orang pada nyari klorokuin ( chloroquine ). Bapak-bapak yang di samping, mana ngga pake masker, teriak, ‘klorokuin…klorokuin’,” katanya. Penggunaan klorokuin dianggap sejumlah pihak efektif membantu pengobatan pasien yang terinfeksi virus corona sementara obat untuk pandemi Covid-19 belum ditemukan. Aktor Korea-Amerika Daniel Dae Kim, yang sebelumnya dinyatakan positif Covid-19 dan menjalani isolasi hingga 23 Maret 2020, merupakan salah satu yang merasakan efektifnya obat tersebut. “Saya tidak ingin mengatakan (obat) ini penyembuh dan saya tidak mengatakan kalian harus pergi dan membelinya. Tetapi, apa yang ingin saya katakan adalah saya percaya itu berperan penting dalam penyembuhan saya,” ujarnya sebagaimana diberitakan kompas.com , 23 Maret 2020. Otoritas China dan Prancis mengonfirmasi baik klorokuin maupun hidroksiklorokuin ( hydroxychloroquine ) bisa digunakan untuk perawatan pasien corona. Kenyataan itu menarik perhatian Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Dia lalu memerintahkan Food and Drug Administration (Badan Pengawas Obat dan Makanan AS) menggalakkan penggunaan klorokuin untuk penanganan Covid-19. “Komisaris FDA Stephen Hahn mengatakan penggunaan chloroquine memang diarahkan sang presiden,” ujarnya sebagaimana diberitakan cnbcindonesia . com  (20/3/20). Efektivitas obat yang awalnya sebagai anti-malaria itu pula yang membuat pemerintah Indonesia mendatangkannya bersama Avigan –obat anti-flu yang dikembangkan Fuji Film, Jepang– dalam jumlah besar pekan lalu. “Obat ini sudah dicoba oleh 1,2,3 negara dan memberikan kesembuhan yaitu Avigan, kita telah mendatangkan 5.000 dan dalam proses pemesanan 2 juta. Kedua, Chloroquine. Ini kita telah siap 3 juta,” kata Presiden Joko Widodo, dikutip cnbcindonesia.com . Klorokuin merupakan turunan dari kina, obat anti-malaria yang didapat dari kulit pohon cinchona yang digiling halus. Kina memainkan peran penting dalam sejarah pengobatan malaria dunia dan perekonomian Belanda maupun koloninya, Hindia Belanda (kini Indonesia). Pohon cinchona memiliki habitat asli di Pegunungan Andes, terutama di Peru. Penduduk setempat menggunakannya untuk mengobati malaria atau demam lain. Meski farmakop (buku resmi catatan kesehatan) Inca awal tidak mencatat penggunaannya, penyebaran penggunaan kina untuk obat demam terus meluas. Setelah pendudukan Spanyol, Don Juan Lopez de Canizares, walikota di salah satu kota Peru, mempelajari pengobatan demam menggunakan bubuk yang oleh orang Spanyol dinamakan “Bubuk Peru” itu kepada seorang tabib setempat. Canizares menerapkan pengobatan yang dipelajarinya itu saat mengobati Countess Chinchon, istri kedua raja muda Peru, yang mederita demam berselang-seling. Dia memberikan bubuk Peru. Sang countess sembuh dan menganjurkan penggunaan bubuk yang kemudian oleh orang Spanyol dinamakan Bubuk Cinchona sebagai penghormatan kepadanya itu. Saat kembali ke negerinya, countess membawa serta bubuk Peru. Meski perdebatan menyelimuti kisah masuknya kina ke Eropa, kepercayaan orang Spanyol akan khasiat kina meluas, lalu menyebar ke negeri-negeri lain. “Penggunaan pertamanya dicatat di Spanyol tahun 1639; dan dalam edisi ketiga Amsterdam Farmakope  tahun 1686 cinchona disebut. Diskusi ilmiah pertama yang memuaskan tentang kualitas cinchona sebagai obat adalah karya astronom Prancis De la Conamine, yang berasal dari tahun 1738,” tulis Samuel H. Cross dalam Quinine: Production and Marketing .  Adalah Calancha, biarawan Agustinian di Spanyol, yang pertamakali menuliskan penggunaan kina. “Sebuah pohon tumbuh yang mereka sebut 'pohon demam' ( arbol de calenturas ) di negara Loxa yang kulitnya, berwarna kayu manis, dibuat menjadi bubuk dengan berat dua koin perak kecil dan diberikan sebagai minuman untuk menyembuhkan demam dan tertiana; itu telah menghasilkan hasil ajaib di Lima," demikian Calancha menulis, dikutip Brian M. Greenwood, professor di Department of Infectious and Tropical Disease, London School of Hygiene and Tropical Medicine, dalam “Herbal Remedies for the Treatment of Malaria” yang dimuat di buku bertajuk Science-based Complementary Medicine . Khasiat kina mendorong Kardinal Juan de Hugo dan para imam Jesuit lain gigih menganjurkan penggunaannya. Namun asosiasi dengan Jesuit itu mendatangkan penolakan dari negeri-negeri Protestan yang lalu menamainya “Bubuk Jesuit”. Popularitas “bubuk Peru” melesat setelah digunakan Robert Talbor ketika menyembuhkan demam Raja Inggris Charles II, meski itu menyebabkan metode pengobatan Talbor dicap sebagai perdukunan oleh para dokter mapan. Popularitas kina dalam pengobatan Barat membuat pasokan berkurang. Hal itu mendorong para penjelajah Eropa berlomba-lomba beburu pohon cinchona di hutan Pegunungan Andes. “Eksploitasi pohon cinchona di abad ke-18 tanpa penanaman kembali, terutama di hutan Loxa di mana Cinchona officinalis , sumber terbaik kina, yang ditemukan menyebabkan berkurangnya kina secara mengkhawatirkan,” sambung Greenwood. Eksploitasi makin tak terkendali seiring meningkatnya persaingan di antara negara-negara kolonialis Eropa. Penemuan ekstraksi kina oleh ahli farmasi Prancis Pierre Joseph Pelletier dan Joseph Caventou pada 1820, yang membuat potensi kina bisa dimanfaatkan lebih, ditambah dengan pecahnya epidemi malaria di Groningan pada 1829 dan banyaknya kasus malaria di koloni tropis negeri-negeri Eropa, membuat permintaan kina melonjak. “Ketika permintaan kina dunia meningkat, pemerintah Peru dan Bolivia semakin mengendalikan pengumpulan dan penjualannya, menahan ekspansi Imperium Eropa yang amat menyandera,” tulis sejarawan Andrew Goss dalam The Floracrats: State-Sponsored Science and the Failure of the Enlightment in Indonesia . Kondisi itu membuat para naturalis dan botanis Eropa, yang dipelopori botanis Jerman Alexander von Humboldt pada 1820, menyarankan para penguasa dan pengusaha perkebunan Eropa agar mulai memperhatikan aklimatisasi (pengadaptasian) kina dengan menanamkannya di berbagai perkebunan di koloni-koloni tropis mereka seperti Hindia Belanda dan India. Namun, saran itu baru direspon setelah semua orang Eropa menyadari pentingnya aklimatisasi. “Setelah 1840-an, orang-orang Eropa mencari pasokan kulit cinchona yang stabil, andal, dan ekonomis, tumbuh di bawah kendali Eropa, yang akan membuang Amerika Selatan dari lingkaran (perniagaan). Tahun 1840-an adalah titik balik utama dalam sejarah pencegahan malaria. Alkaloid kina, dengan bantuan perkembangan kontemporer dalam dunia kimia farmasi, dapat dengan mudah diekstraksi dari kulit pohon cinchona. Dan itu adalah obat kina yang mengagumkan yang mencegah dan bahkan menyembuhkan malaria, penyakit tropis yang mematikan,” sambungnya. Meski pada 1930 konsul Belanda di Peru dan Valpraiso, Chile telah meminta dikirimkan seorang botanis ke Arica, Chile untuk mengamankan cinchona guna diangkut ke Jawa, respon pemerintah Belanda amat lamban. Itu baru dimulai ketika Menteri Koloni Charles F. Pahud, atas rekomendasi naturalis Franz Wilhelm Junghuhn yang menjadi inspektur riset ilmiah Hindia Belanda, mengontrak botanis Jerman Karl Hasskarl pada 1851 untuk mengumpulkan spesimen hidup dan benih pohon cinchona dan membawanya ke Jawa. Hasskarl berhasil mengumpulkan 75 batang pohon cinchona muda dan sejumlah benih yang lalu dibawanya ke Jawa menggunakan kapal AL Belanda Prins Frederik . Setibanya mantan asisten di Buitenzorg Botanical Garden (BBG, kini Kebun Raya Bogor) itu di Jawa pada 1854, mayoritas pohon kinanya itu mati karena iklim Pasifik. Atas saran dari Direktur BBG JE Teysmann, Hasskarl menanamkan sisa dua pohon cinchonanya dan sejumlah benih di Cibodas. “Perjalanan Hasskarl adalah pintu masuk Belanda pertama yang sungguh-sungguh dalam perlombaan untuk aklimatisasi cinchona,” tulis Goss. Hasskarl yang kemudian ditunjuk menjadi direktur produksi kina, mengundurkan diri pada 1856 karena sakit. Pada tahun itu pula Pahud memulai jabatannya sebagai gubernur jenderal Hindia Belanda, yang berarti ia menjadi penanggung jawab tertinggi proyek aklimatisasi kina. Pahud yang merupakan gubernur jenderal transisi dari era kroni raja ke era liberal, sangat berambisi mereformasi birokrasi dengan fondasi sains –ia dikenal sebagai patron para ilmuwan. Proyek aklimatisasi kina yang telah dirintis Hasskarl dilanjutkannya dengan menunjuk naturalis kondang yang merupakan sahabatnya, FW Junghuhn, sebagai pengganti Hasskarl. Junghuhn langsung bekerja keras terus-menerus dengan menanam stek, menguji kulit pohon cinchona, dan menulis panduan pembudidayaannya. Dia menemukan banyak kesalahan dilakukan pendahulunya yang kemudian dia tuliskan dalam laporan resmi pertamanya pada 1857. Junghuhn lalu memindahkan lokasi perkebunan dari Cibodas ke Malabar di Pangalengan, Bandung Selatan dan Lembang. Menurut Junghuhn, Malabar memiliki lapisan atas tanah yang tebal dan punya kondisi alam lebih mirip dengan hutan Pegunungan Andes. “Junghuhn percaya bahwa pohon-pohon akan tumbuh lebih alami di hutan yang mirip dengan yang ada di Amerika Selatan. Dalam mempersiapkan situsnya, ia membersihkan semak-semak tetapi mempertahankan hutan tua yang masih utuh.” Lebih jauh, Junghuhn menghentikan penanaman spesies Cinchona calisaya  yang dirintis Hasskarl meski saat itu dianggap spesies cinchona terbaik ,  menggantikannya dengan spesies yang menurut Hasskarl Cinchona ovata  namun menurut Junghuhn Cinchona lucumaefolia . Dengan bantuan ahli kimia kina Inggris JE Howard, Junghuhn menamakan spesies terakhir itu dengan Cinchona pahudiana  sebagai penghormatannya terhadap Gubernur Jenderal Pahud.  Penghormatan itu merupakan balas budi Junghuhn atas dukungan besar, termasuk dana, dan otonomi luas yang diberikan Pahud. Besarnya otonomi Junghuhn dibuktikan ketika dia menolak KW van Gorkom, kimiawan yang dikirim Den Haag atas rekomendasi profesor kimia Universiteit Utrecht GJ Mulder, untuk membantu proyek aklimatisasi. Junghuhn memilih ahli kimia asal Rotterdam JE de Vrij sebagai pengganti Gorkom. Laporan-laporan resmi awal Junghuhn kepada gubernur jenderal selalu bernada optimis. Tiga tahun setelah pembukaan kebun Malabar, lebih dari 100 ribu pohon dari berbagai tahap perkembangan berhasil ditumbuhkannya. Namun, beberapa orang mempertanyakan langkahnya karena tak kunjung menghasilkan pohon yang kaya akan kina. Kritik pertama datang dari Kepala BBG JE Teysman pada 1861. Kepada Gubernur Jenderal Pahud, Teysman mengatakan bahwa Junghuhn sengaja menghancurkan semua yang bukan miliknya dengan mengabaikan semua pohon yang ditanam sebelum dia ditugaskan, dan Junghuhn tak pernah mengindahkan semua pengetahuan tentang kina dari para ahli seperti Hasskarl atau H.A. Weddell. Kritik pedas terhadap apa yang dilakukan Belanda lewat Junghuhn akhirnya datang pada 1862 dari Sir Clements Markham, ahli aklimatisasi cinchona paling kondang di abad ke-19 asal Inggris. Kritik mengalir deras kepada Junghuhn setelah Pahud pulang ke Belanda usai masa tugasnya habis pada September 1861. Meski ada desakan kuat Menteri Koloni GH Uhlenbeck agar Junghuhn diberhentikan dan dilarang menyebarluaskan penamaman Cinchona pahudiana , Gubernur Jenderal Jan Wilt Sloet van de Beele hanya menuruti yang kedua. Kepercayaannya akan keilmuan Junghuhn membuat Van de Beele mempertahankan Junghuhn pada tempatnya. Junghuhn baru diganti pada 1864 setelah mengalami masalah kesehatan. De Beele yang menjadi penanggung jawab tertinggi proyek aklimatisasi lalu menunjuk Gorkom, yang pernah ditolak Junghuhn, sebagai pemimpin proyek. Di bawah Gorkom, aklimatisasi kina dilakukan untuk menjembatani kepentingan investor di satu pihak dan kemauan administrator Liberalis di Belanda di lain pihak. Liberalis sejak lama menginginkan reformasi di Hindia Belanda yang tetap harus menguntungkan terutama bagi para investor di bidang perkebunan. Aklimatisasi kina di Jawa pada 1860-an menjadi obsesi Belanda untuk menciptakan perkebunan cinchona yang akan menguntungkan secara ekonomi, karena cinchona dapat dijual sebagai tanaman ekspor. Panduan itu membuat Gorkom mengarahkan aklimatisasinya sebagai salah satu bentuk pengembangan ekonomi ekspor komoditas berdasarkan sains untuk mendorong investasi swasta yang saat itu masih didominasi gula, kopi, dan teh. Dengan mewarisi 1.151.810 pohon cinchona, di mana 99 persennya spesies Cinchona   pahudiana , Gorkom tak ingin mengulangi kesalahan Junghuhn yang yakin bahwa alam dapat diarahkan sesuai sains. Gorkom menanam berbagai spesies cinchona yang kaya kandungan kina, yang paling sukses secara komersil kemudian adalah Cinchona ledgeriana  –diambil dari nama George Ledger, saudagar Inggris yang pertamakali menawarkan benih spesies ini kepada pemerintah Belanda, 1865. Selain itu, Gorkom aktif mengumpulkan benih dari Amerika Latin dan Inggris, meminta masukan dari para ahli sains, dan mengundang ahli untuk meninjau metode kultivasinya. Teysmann mengunjungi perkebunannya pada 1866. Gorkom juga rajin menulis buku panduan pembudidayaan kina. “Sistem Van Gorkom dicapai dengan berdirinya komunitas ilmiah independen di mana para anggotanya mengumpulkan sumberdaya, ide, dan keahlian dan bekerja menuju tujuan bersama,” tulis Goss. Upaya keras Gorkom akhirnya membuahkan hasil. “Panen pertama kulit pohon cinchona terjadi pada 1869, dari tahun itu hingga tahun 1874, di perkebunan Pemerintah saja, 79.170 kilogram kulit cinchona dipanen. Pada 1869 didistribusikan ke sekitar 600 pabrik di berbagai kabupaten untuk mendorong budidaya swasta,” tulis Samuel Cross. Dengan warisan penanaman cinchona secara komersil di Jawa, Gorkom membuka gerbang kejayaan kina Hindia Belanda. Setelah 1885, Jawa berhasil menggantikan Ceylon (kini Sri Lanka) sebagai pemasok utama kina di dunia. Rata-rata 11 ribu ton kulit cinchona dihasilkan perkebunan kina di Hindia Belanda tiap tahunnya. Untuk mengakomodasi tingginya produksi cinchona, pada 1896 didirikanlah pabrik di Bandung bernama Bandoengsche Kinine Fabriek, yang mengolah kulit cinchona menjadi bubuk kina. Hampir separuh dari kulit cinchona yang dihasilkan perkebunan cinchona di Hindia Belanda diolah pabrik Bandung. Meski sempat dihambat oleh sindikat produsen kina Eropa karena Pabrik Bandung mengubah ekspor kina Hindia dari berwujud kulit cinchona menjadi bubuk kina sehingga mengancam kemapanan mereka, Pabrik Bandung berhasil bangkit dan menegaskan dominasi Hindia dalam pasar kina dunia. Dominasi itu makin digdaya setelah Konvensi Kina 1 Januari 1913 bubar akibat negara-negara penandatangannya terlibat Perang Dunia I. Salah satu perusahaan perkebunan yang menangguk laba dari kina adalah Straits Sunda Syndicate, perusahaan patungan Jerman-Belanda yang bergerak dalam beragam perkebunan komoditas ekspor dengan konsesi di Jawa, Sumatra, dan Bali. “Pada 1924, Straits-Sunda Syndicate mencapai puncak kemakmurannya. Mereka menguasai 21.000 hektar di Sumatra, Jawa, dan Bali. Dua puluh sembilan perkebunannya menghasilkan teh, karet, kina, minyak kelapa sawit, gula, kopra, beras, dan kopi. Dalam satu tahun mereka memanen hampir empat juta pon teh dan satu juta pon kina, sebagian besar berasal dari perkebunan Cikopo. Nilai total tahunan produk tersebut adalah 9,5 juta gulden, senilai sekitar 40 juta dolar AS hari ini, dari mana Syndicate menuai keuntungan 10%,” tulis Geoffrey Bennett dalam   The Pepper Trader: True Tales of the German East Asia Squadron and the Man who Cast them in Stone . Dominasi Hindia Belanda akhirnya berujung pada monopoli. “Belanda telah secara spektakuler meningkatkan kandungan kina dari kulit pohon cinchona asal Peru dari 3 persen menjadi 18 persen. Hasilnya adalah bahwa Hindia Belanda sekarang memasok sekitar 95 persen dari kina dunia dan secara sewenang-wenang mengendalikan distribusi dan harga,” tulis Majalah Life  edisi 22 January 1940. Dominasi Hindia Belanda itu akhirnya rusak oleh pendudukan Jepang, Maret 1942. “Perang secara tegas mengganggu produksi kina. Ketika Jerman menduduki Belanda pada tahun 1940, Jerman dengan cepat merebut fasilitas produksi kina Belanda. Setelah Jepang mencaplok Nusantara, bahan kimia yang dibutuhkan untuk memproduksi kina dari cichona tidak bisa lagi diimpor dan tingkat produksi anjlok. Semua toko kina diambil alih militer Jepang. Prevalensi malaria di Indonesia meningkat tajam, dengan banyak pasien yang terjangkit meninggal,” tulis Hans Pols dalam  Nurturing Indonesia: Medicine and Decolonisation in the Dutch East Indies . Direbutnya sumber penghasil kina Sekutu mendorong Amerika mencari jalan keluar. “Pada 1944, kina sintetik (klorokuin, red .) dan berbagai obat anti-malaria diproduksi oleh berbagai perusahaan farmasi Amerika untuk mendukung upaya perang,” sambung Pols. Usai perang, meski kina masih banyak digunakan, klorokuin populer sebagai obat anti-malaria. Kina sintetis ini pertamakali ditemukan pada 1934 oleh ahli farmasi Jerman Hans Andersag. Seiring majunya dunia farmasi dan berkurangnya malaria di samping adanya resistensi plasmodium terhadap klorokuin, penggunaan klorokuin dan kina sebagai obat anti-malaria berkurang. Bersama turunan lain bernama hidroksiklorokuin, kina dan klorokuin kemudian digunakan untuk mengobati peradangan sendi dan lupus. Pada saat wabah SARS merebak tahun 2003, klorokuin digunakan sebagai salah satu obat. Kini ketika pandemi Covid-19 menghantam dunia, klorokuin dan hidroksiklorokuin kembali digunakan.

  • Mula Api dan Pawai Obor Olimpiade

    MASYARAKAT dunia mesti bersabar. Pesta olahraga musim panas terakbar, Olimpiade Tokyo 2020, terpaksa ditunda ke tahun depan akibat pandemi virus SARS-Cov-2 (virus corona ). Otomatis parade obor olimpiade yang sarat sejarah pun mengalami penundaan. Api olimpiadenya sejatinya sudah disulut pada 12 Maret 2020 dari situs kuno Heraion atau Kuil Dewi Hera di Olympia, Yunani. Api yang diwadahi dalam obor cantik bermotif bunga sakura hasil desain Tokujin Yoshioka itu diserahkan kepada petembak putri Yunani Anna Korakaki. Korakaki juga tercatat menjadi wanita pertama pembawa obor olimpiade dalam sejarah. Merunut jadwal awal, mestinya obor olimpiade dibawa keliling ke 24 kota di Yunani dari 12 sampai 19 Maret 2020. Sayangnya pandemi corona membuat parade obor olimpiade dari Olympia itu hanya dibawa melewati kota Amaliada, Pyrgos, Kyparissia, dan Kalamata. Parade pun dilakoni tanpa penonton di sepanjang perjalanannya. Anna Korakaki (kiri) atlet perempuan pertama yang membawa obor Olimpiade dalam sejarah (Foto: olympic.org ) Pada 19 Maret 2020, obor olimpiade itu diterbangkan ke Jepang dan tiba di Pangkalan Udara Matsushima keesokan harinya. Menilik jadwal awalnya, obor Olimpiade itu akan dibawa keliling seantero Jepang dalam kurun 26 Maret-9 Juli. Namun penundaan olimpiade mengubah jadwal rute pawai obor yang hingga kini belum ditentukan lagi waktunya. Benang Merah Penyambung Olimpiade Kuno Api abadi olimpiade sudah eksis sejak adanya Olimpiade kuno dalam titimangsa 776 SM-393 M yang digelar rutin tiap empat tahun di Arena Palaestra, Olympia. Mengutip Jan Parandowski dalam The Olympic Discus: A Story of Ancient Greece , api olimpiade disulut sebelum dimulainya olimpiade dengan menggunakan sinar matahari yang dipercaya berasal dari Dewa Apollo. Sinarnya yang dipantulkan dengan sebuah kaca cekung, lantas akan memunculkan api hingga kemudian api itu diletakkan di sebuah wadah di altar suci Dewi Hestia di Pyrtaneum yang juga menjadi tempat jamuan pesta para atlet. “Hanya para Vestal Virgins (biarawati perawan) yang boleh melakukan ritual penyalaan apinya dengan dipimpin seorang kepala biarawati pemuja Dewi Hestia,” ungkap Parandowski. Ilustrasi penyalaan Api Olimpiade di zaman Yunani kuno (Foto: olympic.org ) Dari zaman ke zaman, ritual itu punah dan tak pernah lagi digagas. Termasuk ketika Athena menggelar olimpiade musim panas modern pertama pada 1896, maupun olimpiade musim dingin pertama di Charmonix, Prancis pada 1924. Ritual penyalaan api olimpiade baru digagas arsitek Olympic Stadium, Amsterdam, Jan Wils. Ia pula yang membangun Menara Marathon untuk tempat api olimpiade dinyalakan untuk Olimpiade Amsterdam 1928. Walau sekadar simbolis karena belum sepenuhnya direka-ulang dari penyulutan obor di zaman olimpiade kuno, penyalaan api olimpiade di Menara Marathon itu jadi benang merah penyambung olimpiade kuno-modern. Ide untuk “merekonstruksi” ritual penyalaan api olimpiade yang kemudian menggulirkan pawai obor baru terjadi jelang Olimpiade Berlin 1936, yang banyak disebut sejarawan Barat sebagai “Olimpiadenya Nazi” atau “Olimpiadenya (Adolf) Hitler”. Pawai Obor untuk Hitler Adalah Sekjen Komite Panitia Pelaksana Olimpiade Berlin 1936 (GOOC) Carl Diem yang jadi pemrakarsa pawai obor olimpiade itu. Diungkap Anton Rippon dalam Hitler’s Olympics: The Story of the 1936 Nazi Games, gagasan Diem itu terilhami dari sejumlah pawai obor di berbagai ajang di Jerman maupun di negara lain, seperti parade dan pawai obor para mahasiswa Deustche Hochschule für Leibesübungen (Universitas Pendidikan Olahraga) pada 1922 atau pawai obor di Bulgaria dengan rute Preslaw menuju Sofia yang disaksikan Diem ketika tengah berkunjung ke negeri itu. “Pada dua hari pertama Hitler naik ke tampuk kekuasaan sebagai Reichkanzler (kanselir), 30 Januari 1933, sudah ada pawai obor juga. Digelar malam hari oleh para anggota SA (Sturmabteilung/sayap paramiliter Partai Nazi) di sepanjang Jalan Wilhelmstrasse,” kata Alif Rafik Khan, penulis 1000+ Fakta Nazi Jerman, kepada Historia. Pembawa obor pertama dan terakhir yang pawainya digelar jelang Olimpiade Berlin 1936, Konstanin Kondylis (kiri) & Fritz Schilgen (Foto: olympic.org/nac.gov.pl ) Dari pengalaman-pengalaman itulah pada Desember 1933, atau dua tahun setelah Berlin diputuskan jadi tuan rumah Olimpiade 1936, Diem mengusulkan ide pawai obor ke IOC dan langsung dikabulkan. Tentu ide itu juga dipresentasikannya kepada Der Führer Adolf Hitler. “Pawai obor itu seolah menegaskan ambisi Hitler dengan memanfaatkan ilustrasi silsilah kemurnian ras, di mana hal itu menjadi simbol posisi yang menjembatani budaya Nazi Jerman dengan Yunani Kuno. Carl Diem sang pemrakarsanya mengklaim bahwa api Olimpiade merupakan simbol kemurnian kuno dan penggambaran awal Jerman yang modern,” tulis David Clay Large dalam Nazi Games: The Olympics of 1936 . Pada Juni 1935, Direktur olahraga GOOC Werner Klingeberger mensurvei rute dari Olympia ke Berlin sepanjang 3.075 kilometer. Dalam rencana awalnya, ia mencanangkan obor olimpiade bakal dibawa 3.422 pelari. Sementara obornya yang berbentuk sederhana seperti pedang, didesain seniman Walter E. Lemcke yang kemudian dibuat perusahaan manufaktur Krupp. Pada hari-H, 20 Juli 1936, penyalaan api olimpiade di Olympia dilakukan oleh 11 gadis sebagai simbol biarawati Kuil Dewi Hestia. Sebagaimana di zaman kuno, apinya dinyalakan dengan sinar matahari yang dipantulkan lewat cermin cekung buatan Zeiss. Apinya kemudian diserahkan Menteri Pendidikan dan Olahraga Yunani Georga Konpulos kepada perwakilan Jerman Herr Pistorr. “Wahai api yang dinyalakan di situs kuno yang suci, mulailah perjalananmu dan sampaikanlah salam kepada para generasi muda di seluruh dunia, untuk berkumpul di negeri kami. Sampaikan pula salam untuk Der Führer dan seluruh rakyat Jerman,” seru Pistorr kala menerima api olimpiadenya, dikutip Rippon. Reichkanzler Adolf Hitler saat membuka Olimpiade Berlin 1936 (Foto: collectifhistoirememoire.org ) Api di obor olimpiade itu lantas dibawa Konstantin Kondylis, pelari pertama dari keseluruhan 335 pelari yang membawa obor itu ke kota-kota di Yunani, sampai diserahterimakan ke Raja Yunani Geórgios II di Stadion Panathenian, Athena. Dari Yunani, pawai obor berlanjut ke Sofia (Bulgaria), Beograd (Yugoslavia, kini Serbia), Budapest (Hungaria), Praha (Cekoslovakia), dan Wien (Austria) sebelum masuk ke wilayah Jerman via Dresden sampai di tujuan akhir, Olympiastadion di Berlin pada 1 Agustus 1936. Adalah Fritz Schilgen, atlet atletik Jerman, sebagai pembawa obor olimpiade terakhir dan menyulut apinya dari obor ke kaldron di Olympiastadion. Momen fase terakhir ini direkam dengan jelas oleh Leni Riefenstahl yang membuat film propaganda Nazi tentang olimpiade itu dengan tajuk Olympia .  Warisan “Olimpiadenya Hitler” itu lantas menjadi tradisi yang terus dilakoni sebelum pembukaan olimpiade hingga hari ini. Ironisnya, simbol kemurnian itu justru menyebabkan dua olimpiade selanjutnya, , yakni Olimpiade Tokyo 1940 dan Olimpiade London 1944, batal digelar gegara Hitler memulai Perang Dunia II.

  • Tarian yang Mempesona

    JIKA memasuki Kabupaten Banyuwangi dari arah Jember, Anda mungkin akan terpesona pada patung penari gandrung berukuran besar di pelataran sebuah taman. Ia dibingkai pilar bujursangkar. Ya, Anda telah memasuki wilayah Kabupaten Banyuwangi yang dijuluki Kota Gandrung. Gandrung adalah tarian khas Bumi Blambangan, sebutan lain bagi Banyuwangi. Sebagai ikon Banyuwangi, ada di mana-mana. Patung gandrung terpajang di berbagai sudut kota dan desa. Tapi yang menakjubkan adalah Taman Gandrung Terakota di Kecamatan Licin. Ratusan patung penari gandrung membentuk formasi indah di tengah persawahan terasiring di kaki Gunung Ijen, tepatnya di kawasan Jiwa Jawa Resort. Selain hamparan sawah, perbukitan, dan kebun kopi, Taman Gandrung Terakota dikelilingi pemandangan indah Gunung Merapi, Raung, Suket, dan Meranti. Beragam acara musik dan budaya yang menarik pun digelar di sini, di sebuah amfiteater terbuka . Dari Jazz Gunung Ijen hingga sendratari Meras Gandrung. Gandrung juga selalu hadir dalam setiap perayaan atau pagelaran. Bahkan jadi salah satu kegiatan unggulan Banyuwangi dengan nama Festival Gandrung Sewu. Festival Gandrung Sewu merupakan salah satu agenda dalam kalender pariwisata tahunan Kabupaten Banyuwangi, yang dikemas dalam tajuk Banyuwangi Festival. Gandrung Sewu kali pertama digelar tahun 2012. Menampilkan tema berbeda setiap tahunnya. Festival Gandrung Sewu 2019, misalnya, mengambil tema “Panji-Panji Sunangkara” yang mengisahkan perlawanan rakyat bumi Blambangan di bawah pimpinan Pangeran Rempeg Jagapti terhadap penjajah. Festival diikuti 1.350 siswi sekolah dasar, sekolah menengah atas, dan sekolah menengah kejuruan dari seluruh penjuru Banyuwangi. “Gempuran budaya global melalui media sosial, di mana anak-anak mulai teralienasi dari budaya lokalnya, Gandrung Banyuwangi menjadi bagian dari cara daerah agak anak-anak kembali senang dengan budayanya," ujar Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas pada acara Festival Gandrung Sewu 2019, Oktober silam. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Festival Gandrung Sewu 2019 digelar secara kolosal. Di tengah terik matahari, daratan pasir Pantai Boom di Kabupaten Banyuwangi memerah. Ribuan penari gandrung berkostum merah tumpah-ruah. Hentakan kaki, lambaian tangan, liukan badan, gelengan kepala hingga lirikan mata berpadu serasi. Selaras dengan iringan musik dan syair yang dinyayikan oleh kelompok pengiring. Dan penonton terpesona dibuatnya. Bukan Semata Hiburan Gandrung, yang artinya cinta  atau tergila-gila , merupakan kesenian asli dan tertua Banyuwangi. Ia tak berbeda jauh dari kesenian rakyat di daerah lain seperti tayub, ronggeng dan cokek , yang tampil dalam bentuk tari dan nyanyian dengan iringan musik tertentu. Menurut antropolog Belanda John Scholte dalam Gandroeng van Banjoewangi  (1927), kemunculan gandrung berkaitan dengan pengangkatan Mas Alit sebagai bupati dan pembabatan hutan untuk dijadikan ibukota baru Blambangan. Gandrung berfungsi sebagai hiburan sekaligus ritual mohon keselamatan dari marabahaya penunggu hutan. Namun ada juga pendapat bahwa kemunculan gandrung berkaitan erat dengan seblang, salah satu ritual suku Osing. Ritual ini digelar untuk keperluan bersih desa dan tolak bala. Para penarinya dipilih secara supranatural oleh dukun setempat, dan biasanya keturunan penari seblang. Menurut Sal M. Murgiyanto dan A.M. Munardi dalam Seblang  dan Gandrung , tari seblang mirip dengan tari sang hyang di Bali, yang di masa lalu ditemui juga di Banyuwangi dengan sebutan tari sanyang. Tarian sanyang dilakukan dua anak lelaki yang berpakaian perempuan dan dalam keadaan kesurupan. Menariknya, nyanyian-nyanyian dan tatabusana penari dalam sanyang masih terjejaki dalam pertunjukan seblang dan gandrung. “Lintasan gerak dan pose-pose dasar ketiga tarian tersebut pun masih menunjukkan banyak kesamaan,” tulis mereka. Gandrung berkaitan dengan mitos Dewi Sri. Masyarakat Using (suku asli Banyuwangi) yang agraris menghormati Dewi Sri dengan ritual tarian sebagai ungkapan rasa syukur atas panen yang melimpah. Namun dalam perkembangannya unsur hiburan lebih menonjol dalam pertunjukan ini. Tari gandrung merupakan kesenian asli dan tertua Banyuwangi. (Dok. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi). Pada awalnya tarian gandrung dibawakan lelaki yang didandani menyerupai perempuan atau dikenal dengan istilah gandrung lanang . Mereka menari berkeliling dari rumah ke rumah atau pasar sambil menyanyikan lagu-lagu tradisional Banyuwangi. Seiring kuatnya pengaruh Islam, gandrung lanang perlahan menghilang. Apalagi Marsan, penari terakhir gandrung lanang , kemudian meninggal dunia. Gandrung kemudian identik dengan penari perempuan, hingga kini. Gandrung perempuan pertama yang terkenal adalah Semi –acap disebut Gandrung Semi . Menurut cerita, Semi berusia sepuluh tahun kala menderita penyakit kronis. Segala upaya untuk menyembuhkannya tak membuahkan hasil. Maka, Mak Midhah (Mak Milah), ibunya, bernazar bila sembuh, dia akan menjadikan Semi sebagai seblang. Ternyata Semi sembuh. Tapi, selain seblang, Semi mahir menarikan gandrung yang waktu itu mulai digemari masyarakat. Apa yang dilakukan Semi diikuti adik-adik perempuannya dengan menggunakan nama depan “Gandrung” sebagai nama panggung. Maka, selain Gandrung Semi, dikenal pula Gandrung Misti, Gandrung Soyat, dan Gandrung Miati. Kesenian ini pun berkembang di seantero Banyuwangi. Kendati unsur hiburan lebih menonjol, aspek ritual dalam pertunjukan gandrung masih terasa. Gandrung kerap tampil dalam upacara petik laut (panen ikan), bersih desa, hingga tingkeban (kehamilan tujuh bulan). Karena kekhasan kesenian ini, pada 1990 gandrung resmi diangkat menjadi identitas bersama Banyuwangi. Lalu, sejak 2002 ditetapkan sebagai maskot pariwisata Banyuwangi. Puncaknya, gandrung ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2013. Megah nan Indah Sejak lama kesenian gandrung mendapat perhatian dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan serta Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) . Pada 1970-an, gandrung diberi s entuhan sedikit koreografi modern dan ditayangkan di TVRI . Tayangan itu mendapat sambutan yang luas. “Tari tersebut telah diangkat menjadi tari yang sekarang di luar negeri selalu memperoleh applause yang ramai dan lama,” kenang Astrid S. Susanto, yang bekerja di Bappenas, dalam buku Kesan Para Sahabattentang Widjojo Nitisastro . Perkembangan itu mendorong pemerintah daerah Banyuwangi untuk merawat dan mengembangkan gandrung, terutama di kalangan generasi muda. G andrung tak hanya ditarikan keturunan penari gandrung. Banyak gadis, siswi sekolah hingga mahasiswi mulai mempelajari tarian ini. Gandrung bukan hanya dipentaskan untuk memeriahkan pesta perkawinan, misalnya, tapi juga acara-acara resmi. Lalu, pada 1974, pemerintah daerah untuk kali pertama menggelar Festival Gandrung. Setelah lama mati suri, festival semacam itu dihidupkan kembali pada 2012 dengan nama Festival Gandrung Sewu. Seperti namanya, ada seribu bahkan lebih penari yang tampil membawakan tarian gandrung. Gagasan ini berasal dari Bupati Azwar Anas untuk mempromosikan Banyuwangi dan menumbuhkan kecintaan warga Banyuwangi akan seni dan budayanya. “Kami mencari cara bagaimana agar anak-anak penari diberi panggung yang istimewa. Karena selama ini mereka hanya tampil di desa saja. Tidak ada kebanggaan lebih, karena yang nonton hanya orang-orang di lingkungannya,” kata Anas . Gagasan itu ternyata berbuah sukses. Perhelatan ini mampu menarik animo dari wisatawan dalam maupun luar negeri. Mereka terhibur sekaligus berdecak kagum akan kemegahan dan keindahan tarian ini. Tak heran jika Gandrung Sewu masuk sebagai salah satu atraksi wisata terbaik Indonesia atau “10 Best Calender of Event Wonderful Indonesia” versi Kementerian Pariwisata. Tari Gandrung Banyuwangi sudah selayaknya dilestarikan. Kabupaten Banyuwangi sudah melakukannya dengan beragam cara, salah satunya lewat Festival Banyuwangi. Ah, Banyuwangi selalu bikin tergila-gila.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page